Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Seleb  
Panggung
indonesiana-tempoid-default
Muhammad Musleh
Selasa 29 Januari 2019 21:25 WIB
Dibaca (1093)
Komentar (0)

Paman Dolit dan Keceriaan yang Hilang

indonesiana-IMG_20190122_053155.jpg

Sosok Paman Dolit dengan rupa dan dandanan khasnya pernah menghibur anak-anak seusia saya pada awal tahun 1990-an. Saat itu televisi berwarna mulai menggantikan televisi hitam putih di ruang keluarga. Kehadiran stasiun TV swasta juga menambah keragaman acara yang selama bertahun-tahun dimonopoli TVRI. Karena kami tidak paham dengan siaran berita dan sinetron orang dewasa, kami menunggu segmen anak yang biasanya disuguhkan tiap sore atau Ahad pagi.

 

Meski TV swasta sering menampilkan ikon impor seperti Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers, tokoh lokal yang biasanya tampil di TVRI macam Si Unyil dan Paman Dolit masih memiliki penggemar setia. Ini tak lepas dari karakter mereka yang tak jauh dari keseharian pemirsa. Si Unyil yang menceritakan kehidupan di kampung tentu lebih mudah diikuti ketimbang Power Rangers yang hidup di dunia fantasi. Paman Dolit yang suka melucu pasti lebih disukai daripada monster-monster musuh Ksatria Baja Hitam.

 

Di antara karakter-karakter lokal di TV, Paman Dolit sedikit berbeda karena tidak pernah menjadi protagonis di sebuah acara. Jika dalam Si Unyil yang menjadi bintang adalah boneka-boneka yang digerakkan dari balik layar, Paman Dolit lebih menjadikan dirinya pemandu anak-anak dalam pertunjukan yang digelar untuk mereka. Nama paman yang merupakan panggilan kepada saudara dari orang tua menandakan Paman Dolit memang hadir untuk "mengayomi" anak-anak.

 

Pada lagu Kopit-Kapit, Paman Dolit mencontohkan dirinya yang tidak memiliki uang dengan penggambaran "cuma" memakai sandal jepit.

 

Pit..kipit..kipit..kipit..kopat kapit

Paman Dolit pakai sandal jepit

Pit..kipit..kipit..kipit..kopat kapit

Paman Dolit enggak punya duit

 

Pesan untuk menabung demi masa depan yang lebih baik pun tersampaikan dengan cara yang kocak. Watak anak-anak yang kadang membandel mungkin sulit diceramahi langsung, mesti dengan sesuatu yang menyindir diri sendiri.

 

Adalah Mochammad Syafi Saleh, sosok di balik kreasi Paman Dolit. Berlatarbelakang musisi tapi kreativitasnya merambah semua lini. Group Doctor Dolittle yang didirikannya bersama Dhani Widjanarko pada 1983 semula hanya menampilkan musik tapi seiring banyaknya kolaborasi dengan berbagai unsur seni perlahan menjadi Doctor Dolittle Lab dengan anak-anak sebagai "mitra kerja" mereka. Kemunculan Paman Dolit yang jenaka dan diperankan sendiri oleh Memed, panggilan Syafi Saleh, menegaskan komitmen mereka pada dunia anak.

 

Kendati bermula dari Doctor Dolitlle, sosok Paman Dolit lebih menancap di benak publik. Ketika pentas Doctor Dolittle yang mengiringi Paman Dolit di TVRI surut, Paman Dolit masih tampil di sejumlah lagu anak-anak yang tak lagi diciptakannya seperti Jangan Bolos Sekolah (1998) yang melambungkan nama 4 MC Cilik.

 

Nggak lagi-lagi main denganmu

Karena kamu suka membolos

Nggak lagi-lagi bareng denganmu

Karena kamu anak pemadol

 

Meski tak dominan lagi, adegan Paman Dolit memarahi mereka yang membolos cukup membekas di ingatan.

 

Di kampung kami, Paman Dolit lebih sekedar tokoh penghibur anak-anak yang tampil di TV. Lagu tentang Paman Dolit yang pernah populer dinyanyikan sebagai lagu tema sebuah permainan tradisional dengan modifikasi di sana-sini.

 

Paman Dolit tidak tahu malu pakai kacamata

Mata hampir buta

Kalau memanggil becak, tingtong.. tingtong..

Kalau memanggil cewek, serr... (sambil memutar badan).

 

Biarpun Paman Dolit tidak pernah hadir di sini, gerakannya yang membuat ketawa segera terbayang ketika lagu itu dinyanyikan.

 

"Kacamata" tanpa lensa dengan alis, hidung, dan kumis palsu yang menyambung menjadi satu, juga banyak dipakai anak-anak. Mereka menyebutnya Kacamata Paman Dolit padahal itu mainan impor dari Hongkong dengan label Disguise Set. Konon "topeng" inilah yang menginspirasi Memed untuk menciptakan karakter Paman Dolit. Dengan tambahan mata belalak palsu, berikut topi, syal, dan sarung tangan warna-warni seperti yang kita lihat selama ini.

 

Setelah lebih satu dekade menemani anak-anak di layar kaca, Paman Dolit perlahan hilang dari peredaran. Minimnya acara anak turut menyurutkan kiprahnya di dunia hiburan. Dan ternyata tidak cuma di TV anak-anak kehilangan ruang bermainnya. Di kampung saya semakin jarang ditemui permainan tradisional yang memungkinkan semua pemainnya berinteraksi secara langsung antar sesamanya. Permainan elektronik yang menonjolkan kehebatan individu lebih menarik di mata mereka.

 

Ahad 20 Januari 2019, Syafi Saleh sang Paman Dolit berpulang ke hadirat Ilahi. Ia meninggalkan kenangan bagi generasi 1990-an berupa sosok menghibur sekaligus mendidik. Bagi kami yang kini dewasa dan berkeluarga, kehadiran kembali "Paman Dolit" yang lain tentu dirindukan. Anak-anak butuh kebersamaan dengan sesamanya agar bisa saling menghargai. Anak-anak juga ingin keceriaan selama usianya agar optimis menatap masa depan.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 5

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.