Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 02 Februari 2019 22:23 WIB
Dibaca (152)
Komentar (0)

Lima Tahun Lagi, Regenerasi Kepemimpinan?

Bila tidak puas dengan kepemimpinan para elite politik yang sekarang mendominasi panggung politik nasional, mudah-mudahan lima tahun mendatang harapan yang lebih baik dapat terwujud. Skenario yang tidak sesuai dengan yang diangankan memang mungkin terjadi, namun menjaga harapan tetaplah merupakan sikap yang lebih baik ketimbang berputus asa.

Mewujudkan generasi baru kepemimpinan memang tidak mudah karena sejumlah alasan. Pertama, sebagian elite yang ada saat ini masih ingin naik jenjang. Nama-nama seperti Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, dan Romy, Ketua Umum PPP, mungkin saja akan berusaha memperbesar peluangnya untuk jadi wapres atau presiden. Mereka mungkin tidak puas hanya menjabat ketua umum partai. PDI-P mungkin akan mendorong Puan Maharani untuk maju mengingat Megawati semakin sepuh.

Para politiku yang ‘dibesarkan’ dalam ekositem politik saat ini tidak akan tergerak untuk memperbarui ekosistem tersebut agar menjadi lebih kondusif bagi perkembangan demokrasi kita. Mereka umumnya sudah merasa nyaman dan menikmati cara berpolitik seperti yang berlangung saat ini. Dengan kekuasaan yang besar di tangan ketua umum partai, perubahan hanya akan mengecilkan peran mereka di gelanggang politik nasional. Karena itu, figur-figur elite yang masih bertahan hingga lima tahun mendatang akan cenderung pro status quo.

Kedua, perubahan ekosistem politik yang memperkuat demokrasi kita akan berpotensi menurunkan peran para oligarki—mereka yang menguasai akses politik, ekonomi, dan media. Lantaran itu, mereka akan enggan mengendorkan jaring-jaring kekuasaannya. Prinsip mereka jelas: rezim pemerintahan boleh saja silih berganti, tapi kekuasaan riil harus berada dalam genggaman.  

Kalaupun mereka semakin tua, ada keturunan, menantu, maupun anak didik yang akan meneruskan peran oligarki dalam memengaruhi perkembangan masyarakat. Watak oligarkis ini tidak akan terkikis dengan bergantinya ataupun regenasi kepemimpinan. Tantangan ini tidak mudah diatasi oleh generasi yang akan mengambil alih kepemimpinan lima tahun mendatang. Bukan tidak mungkin mereka akan bergantung kepada kekuatan oligarkis ini agar bisa tampil.

Ketiga, kecenderungan politik dinasti yang menguat dan menyebar ke berbagai wilayah Indonesia mempersulit lahirnya kepemimpinan yang teruji dari bawah. Mereka yang sekarang menjadi elite politik, baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional, telah mengajak dan menggandeng anak, menantu, maupun kerabat lain untuk terjun ke dunia politik. Akibatnya, persaingan yang fair di lingkungan masing-masing tidak lepas dari warna kekerabatan.

Politik kekerabatan atau dinasti sangat menghambat tampilnya figur-figur berbakat yang punya potensi kepemimpinan yang sangat baik. Politik kekerabatan telah merusak sistem meritokrasi dalam politik. Saat ini, para elite terus mempersiapkan orang-orang terdekatnya secara kekerabatan agar bisa tampil sebagai pengganti mereka. Para elite mempersiapkan anak dan atau menantu mereka sebagai cara melanggengkan kekuasaan.

Rintangan-rintangan ini harus disingkirkan apabila masyarakat menginginkan kepemimpinan baru yang lebih mencerahkan lima tahun mendatang. Jika tidak bisa sekarang, Indonesia harus mampu mewujudkan kepemimpinan yang lebih segar, inspiratif, menggerakkan, dan mengayomi semua warga sebagai rakyatnya. Generasi baru kepemimpinan ini seharusnya mampu mengembangkan spirit yang lepas dari praktik-praktik politik tidak sehat yang berlangsung pasca Orde Baru. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.