Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Minggu 03 Februari 2019 17:14 WIB
Dibaca (162)
Komentar (0)

Doa Sang Kiai

Allah memerintahkan makhluk bernama manusia untuk berdoa. Setiap orang punya kebebasan untuk berdoa langsung, memohon tanpa perantara siapapun dan apapun. Kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apapun juga. Berdoa adalah komunikasi antara hambaNya yang sedang memohon kepada Penciptanya. Isi doa dapat berupa apa saja: perlindungan, kesehatan, kekuatan, rezeki, ketenangan hati dan pikiran, bahkan hingga agar hasrat untuk jadi presiden dapat terwujud.

Walaupun setiap manusia diberi kebebasan dan keleluasaan untuk berdoa sendiri dan memohon langsung kepada Sang Pencipta, banyak orang tetap mendatangi kiai. Orang-orang mengunjungi para kiai yang dianggap saleh dan meminta untuk didoakan demi kebaikan dirinya. Orang percaya bahwa doa orang saleh, para kiai itu, akan lebih didengar Allah ketimbang orang biasa.

Menjadi soal yang diperbincangkan banyak orang tatkala doa itu diucapkan di hadapan handai taulan dan sang kiai dianggap salah ucap ketika menyebut nama yang didoakan. Karena dianggap salah ucap, doa pun diralat. Ada yang sibuk meralat ucapan sang kiai, karena menyadari implikai pengaruh politiknya terhadap khalayak ramai.

Kita tidak pernah tahu apakah sang kiai benar salah ucap ataukah nama itu memang keluar dari lubuk hatinya. Hanya Allah yang Mahatahu dan sang kiai yang paling tahu kebenarannya. Hanya saja, penyebutan nama yang dianggap salah ucap itu memang menjadi perkara yang mudah diombang-ambingkan oleh gelombang percakapan di media online maupun media sosial.

Apapun situasinya dan seperti apapun keriuhan orang membicarakannya, kita tidak tahu apa kehendak Allah. Orang saleh berdoa, tapi pada akhirnya Allahlah yang menentukan dan kita tidak akan pernah tahu siapa yang jadi presiden hingga nanti terpilih. Jika kemudian yang terpilih itu sesuai dengan doa awal sang kiai atau sesuai dengan doa yang diralat, Allah jua yang tahu apa skenarionya. Manusia seperti kita seringkali merasa lebih tahu dan kerap mendahului kehendak Allah dengan membuat tafsir sesuai dengan keinginan dan kepentingan masing-masing. Satu pihak berkata bahwa salah ucap itu pertanda sesuatu, sedangkan pihak yang lain berkata bahwa ralat doa itu yang lebih didengar.

Sekali lagi, janganlah merasa lebih tahu dari yang Mahatahu. Dan juga, sayangilah para kiai yang sudah sepuh dengan tidak menjadikannya sandaran dalam memperebutkan suara rakyat. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.