Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Daeng 
Senin 04 Februari 2019 22:58 WIB
Dibaca (1339)
Komentar (0)

Tebarkan Pesan Perdamaian Demi Masa Depan Bangsa

indonesiana-indonesia.JPG

Narasi ajakan yang menuai kebencian di berbagai jejaring sosial media saat ini semakin meresahkan masyarakat secara umum. Hal ini jika dibiarkan berjalan mulus, niscaya akan berdampak pada lemahnya nilai-nilai sosial kemanusiaan yang berujung pada kehancuran.

 

Ajakan untuk memutihkan kota Solo di medsos misalnya adalah merupakan ajakan yang akan menuai kebencian satu sama lain dan mengancam kerukunan antar umat beragama.

 

Begitu berat menggantikan ujaran kebencian dengan pesan-pesan cinta dan kasih sayang. Begitu sulitnya menggantikan kekerasan dengan perdamaian.

Arogansi yang berlebihan, merupakan faktor utama yang menghambat kita hidup damai, aman dan nyaman satu sama lain. Saling menuding, mencaci, dan bahkan saling memprovokasi hingga amarah semakin memuncak.

 

Akankah kita terus menerus membalas kebencian dengan kebencian? Membalas kekerasan dengan kekerasan? Membalas cacian dengan cacian? Tuhan menciptakan kita untuk bersatu bukan terpecah belah.

 

Sadarkan diri kita bahwa api akan padam jika kita menyiraminya dengan air. Oleh sebab itu, mari kita berjuang bersama untuk menjadikan sosial media kita sebagai jalan untuk menebar pesan cinta dan damai satu sama lain.

 

Saatnya kita membanjiri sosial media kita dengan pesan-pesan positif. Mari kita buang jauh-jauh arogansi dalam diri kita dengan meringankan hati untuk menyambung kembali kebersamaan kita yang sudah rapuh.

 

Saatnya kita bersatu. Buanglah jauh-jauh kebencian dan iri hati yang berlebihan. Bukalah hati nurani kita yang sudah lama tertutupi dengan berbagai macam kejahatan. Mari kita tabur benih-benih kebaikan yang ada dalam diri kita demi cita-cita bangsa yang terus menerus terhalangi dengan tindakan kita yang negatif.

 

Kebersamaan kita saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Satu jalan sedang mengarahkan kita kepada disharmony dan konflik berdarah akibat kelalaian kita dan sempitnya jiwa yang terselubung dalam kebencian satu sama lain.

 

Sementara jalan lainnya akan mempertemukan kita kepada perdamaian dan kemajuan bangsa ini. Dengan syarat, sosial kita dibangun kembali dan solidaritas antar sesama, antar umat beragama semakin diperkuat agar masa depan bangsa semakin cerah dan lebih terarah.

 

Menanggapi masalah motif ornamen di Bunderan Tugu Pamandengan yang menjadi bagian dari penataan kawasan Koridor Sudirman, merupakan pola delapan penjuru mata angin, bukan salib yang belakangan viral di media sosial. Konsep pola delapan penjuru mata angin yang menjadi bagian dari khasanah budaya Jawa, diilhami dari simbol Wilwatikta semasa kejayaan Kerajaan Majapahit.

 

Mengajak berdemo untuk menolak bangunan motif ornamen di Bunderan Tugu Pamandengan adalah suatu bentuk mendiskreditkan kota itu sendiri, padahal pemerintah beserta tokoh masyarakat sudah mengklarifikasinya.

 

Mari… mulai lah dari sekarang mengubah pola pikir kita. Bukalah mata hati kita dengan membiasakan diri kita selalu menebar kasih sayang satu sama lainnya.

 

Jalan kekerasan, kebencian, dan provokasi bukanlah akhir dari cara untuk menyelesaikan masalah. Justru akan menghasilkan masalah baru bagi kita. Karena cinta masih di atas segala-galanya. Jadi saatnya kita menyelesaikan setiap persoalan dengan rasa cinta.

 

Indonesia bisa menjadi negara merdeka sampai saat ini, tidak lain selain ada rasa cinta dalam diri setiap para pejuang. Maka, kita sebagai penerus dalam memperjuangkan bangsa ini agar menjadi negara yang lebih baik ke depan.

 

Saatnya kita membuang jauh-jauh egoisme dalam diri kita. Tebarkan pesan cinta dan perdamaian demi masa depan bangsa yang lebih baik.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.