Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Selasa 05 Februari 2019 19:18 WIB
Dibaca (114)
Komentar (0)

Tidak Enak Jadi Antek

 

Rasanya sudah sangat lama, bertahun-tahun jika bukan berpuluh tahun, saya tidak mendengar kata ‘antek’ dipakai di muka umum. Hingga tiba-tiba kata ini mencuat lagi, dan bahkan mulai populer kembali. Menariknya, popularitas ‘antek’ diangkat melalui pertarungan kata-kata di antara dua calon presiden.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (online),  antek dimaknai sebagai ‘orang (negara) yang diperalat atau dijadikan pengikut orang (negara) lain; kaki tangan; budak’. Antek asing berarti kaki tangan asing. Artinya, apa yang dilakukan orang yang disebut antek asing itu adalah berpihak kepada kepentingan asing dan memudahkan tangan-tangan asing masuk ke dalam negeri sendiri. Memang tidak enak mendapat julukan antek asing dengan konotasi pengertian seperti itu.

Jika ditilik baik-baik, di balik kata antek asing tersimpan isu nasionalisme, apakah itu politik ataupun ekonomi, maupun kepentingan nasional yang lain. Sayangnya, pertarungan kata tidak berlanjut hingga menukik ke kedalaman isu ini, yang bila dieksplorasi lebih jauh dapat mencuatkan diskusi yang intensif mengenai kedaulatan pangan, kemampuan untuk mandiri dalam energi, penguasaan sumber daya alam, hingga soal impor-ekspor.

Justru gengsilah yang akhirnya lebih menonjol sehingga masing-masing capres menuding siapa sebenarnya yang antek asing. Diskusi tidak jalan dan berhenti pada tuding dan bantah tentang propaganda dan penggunaan konsultan politik asing. Rakyat tidak diajak untuk memasuki wilayah wacana yang lebih tinggi dan eksploratif, melainkan membiarkan rakyat disuguhi dengan tuding dan bantah tadi.

Pemilihan legislatif dan pemilihan presiden berpotensi jadi ajang pendewasaan praktik demokrasi kita. Semakin sering kita menyelenggarakan pileg dan pilpres, semestinya kita semakin matang dalam praktik berpolitik. Namun tampaknya proses pendewasaan itu tidak berjalan linier ke depan dan mendaki, melainkan naik turun dan berkelok-kelok. Boleh jadi ini tidak lepas dari tingkat kematangan kepemimpinan kita di tataran elite yang belum optimal.

Banyak elite politik yang berpikir dalam bingkai sempit kekuasaan dan memandang pileg serta pilpres sebagai cara yang absah atau terlegitimasi oleh rakyat untuk berkuasa atau pun melanjutkan kekuasaan. Banyak elite yang sudah lama berkecimpung di dunia politik namun belum beranjak menjadi negarawan yang berpikir dalam bingkai yang lebih besar dan melampaui sekat-sekat kepentingan individu maupun partai politiknya.

Berjalin kelindannya kepentingan politik dan ekonomi para elite menjadikan istilah antek asing begitu sensitif. Ketika sensitivitas tersulut, pertarungan kata yang terjadi. Penggunaan jargon ini memang efektif dalam memancing reaksi kompetitor maupun menarik perhatian publik, namun rupanya telah membangkitkan reaksi yang membuat perdebatan mengenai isu-isu substansial mengenai relasi negara kita dan asing dalam berbagai bidang lantas tersingkirkan. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.