Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Handoko
Handoko  Widagdo
Jumat 08 Maret 2019 08:33 WIB
Dibaca (199)
Komentar (0)

Ketika Sejarah Terjungkirbalikkan Melalui Candaan

indonesiana-The_Girl_Who_Saved_The_King_of_Sweden_kecil.jpg

Resensi ini telah terbit di Harian Suara Merdeka tanggal 3 Maret 2019, dengan judul: "Sejarah Dalam Canda dan Serbakebetulan."

 

Judul: The Girl Who Saved The King of Sweden

Judul Asli: Analfabeten Som Kunde Rakna

Penulis: Jonas Jonason

Penterjemah: Marcalais Fransisca

Tahun Terbit: 2018 (Cetakan kedua)

Penerbit: Bentang                                                                                                        

Tebal: vi + 550

ISBN: 978-602-291-508-9

Sejarah biasanya ditulis dan dimaknai dengan penuh kesungguhan. Sebab sejarah adalah bukti akan kejadian-kejadian, fakta-fakta dari sebuah bangsa atau peristiwa dari masa lalu yang begitu penting bagi kelangsungan masa kini dan masa depan. Tak jarang, demi kebenaran sejarah, manusia bisa bertikai bahkan berperang. Namun apa jadinya jika sejarah dipakai sebagai bahan candaan? Bagaimana jika sejarah digubah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah alat untuk menyindir kebenarannya sendiri?

Buku karya Jonas Jonason ini adalah sebuah candaan terhadap sejarah. Khususnya sejarah Afrika Selatan dan Swedia. Jonas Jonason memasukkan tokoh-tokoh konyol dalam kronologi sejarah yang sudah terbakukan. Tentu saja tokoh-tokoh konyol ini nyelonong begitu saja dalam kronologi sejarah yang sudah disepakati para ahli sejarah sehingga jalannya sejarah menjadi tidak karuan. Tokoh-tokoh candaan tersebut bisa berhubungan dengan tokoh-tokoh sungguhan seperti Presiden P.W. Botha, Thabo Mbeki dan Hu Jintao. Tokoh-tokoh candaan ini bisa mengakali MOSSAD dan menembus sistem keamanan negara Sewdia. Bahkan tokoh-tokoh rekaan ini dengan seenaknya bertemu dengan Perdana Menteri dan Raja Swedia.

Jonas Jonason tentu bukan sekadar ingin bercanda saat menulis buku ini. Ia menggunakan candaannya untuk memberi kritik kepada kemanusiaan yang sering terlupakan dalam penulisan sejarah. Tokoh-tokoh utama dunia, seperti para presiden negara-negara besar dibulinya sesuka hatinya. Ajaran agama (Kristen) ditafsirkan sekenanya sehingga menjadi sesuatu yang lucu. Kelucuan-kelucuan yang ditampilkan oleh Jonas Jonason memang tidak sekadar untuk membuat pembacanya tersenyum atau tertawa. Tetapi kelucuan-kelucuan ini, jika dibaca dengan mendalam kita akan tahu bahwa Jonas Jonason sedang menggugat sejarah dunia yang sama sekali lupa akan kemanusiaan. Para tokoh dunia pandai berucap bahwa mereka memperhatikan kemanusiaan. Namun tindakan mereka sering sangat bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan.

Jonas Jonason mengawali ceritanya dengan mengambil kisah sejarah tahun 1980 bahwa Afrika Selatan sedang membangun bom nuklir sejumlah 6 buah. Jonas Jonason mencandai fakta ini dengan menambahkan satu bom nuklir yang tak direncanakan; yaitu bom nuklir ketujuh yang secara tidak sengaja ikut terbuat.

Baiklah kita lihat terlebih dahulu alur cerita dalam novel kocak ini. Novel ini terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama mengambil kisah di Afrika Selatan. Sedangkan bagian kedua mengambil tempat kejadian di Swedia. Kisah yang terjadi di Afrika Selatan bermula dari Nombeko Mayeki, seorang perempuan kulit hitam pekerja pengangkut tinja dari jamban umum di Kota Soweto. Saat ia akan menuju ke perpustakaan di pusat kota, ia tertabrak mobil yang dikendarai oleh seorang lelaki mabok. Lelaki tersebut adalah seorang insinyur yang mengepalai tim pembuat bom nuklir. Ia divonis untuk bekerja kepada sang insinyur selama 7 tahun.

Karena kecerdasan matematikanya, Nombeko sering menyelamatkan sang insinyur dari kesulitan menjelaskan aspek teknis pengembangan bom nuklir.

Karena tim pembuat bom nuklir dipimpin oleh orang yang tidak kompeten, secara tidak sengaja ternyata jumlah bom yang dibuat bukan enam buah seperti yang direncanakan, melainkan tujuh! Bom yang ketujuh ini menjadi persoalan sekaligus rebutan.

Setelah bernegosiasi dengan MOSSAD – agen rahasia Israel yang dari awal terlibat dalam pembuatan bom, bom ketujuh akan dikirim ke Israel, sementara Nombeko akan diberikan suaka di Swedia. Namun sayang, ternyata paket bom yang seharusnya dikirim ke Israel malah tertukar dengan paket daging antelope yang seharunya dikirim ke Swedia untuk Nombeko. Jadilah bom nuklir ketujuh itu berada di Swedia bersama dengan Nombeko.

Kisah di tanah Swedia diawali oleh seorang republikan yang sangat ingin menghapuskan monarki. Ingmar memiliki anak kembar bernama Holger dan Holger. Namun mereka hanya mendaftarkan salah satunya sebagai anaknya. Holger Satu sangat mirip dengan bapaknya dalam hal keinginannya meruntuhkan monarki. Namun Holger Satu sama sekali tidak cerdas. Sedangkan Holger Dua yang tidak diakui ada, sangat cerdas. Namun Holger Dua tidak tertarik untuk menumbangkan raja Swedia.

Nombeko secara kebetulan bertemu dengan Holger dan Holger. Nombeko bersama dengan Holger dan Holger kemudian terlibat penyelamatan bom nuklir tersebut. Termasuk pertemuan dengan Hu Jintao yang berkunjung ke Swedia. Bom akhirnya berhasil terkirim ke China dan Nombeko hidup berbahagia dengan Holger Dua.

Alih-alih menggunakan tokoh lelaki kulit putih berpenampilan parlente dan berpendidikan tinggi, Jonas Jonason memilih tokoh perempuan kulit hitam tak berpendidikan dan bekerja sebagai pengangkut tinja. Dalam memilih tokoh utama ini kita bisa melihat bagaimana Jonas Jonason mengejek asumsi umum selama ini bahwa sejarah dibangun dan ditentukan oleh makhluk kulit putih berjenis kelamin lelaki, berpendidikan tinggi dan berpenampilan parlente. Tokoh utama tersebut bernama Nombeko Mayeki. Tokoh inilah yang menyelamatkan dunia dari bencana ledakan bom nuklir ketujuh yang terbuat tanpa sengaja tersebut.

Nombeko Mayeki adalah seorang perempuan yang lahir begitu saja di wilayah kumuh di Soweto, sebuah kota di Afrika Selatan. Ia tak pernah bertemu ayahnya. Ibunya pun kecanduan tiner karena ingin melupakan kemelaratan. Ibunya secara suka rela mengakhiri hidupnya karena merasa bahwa sudah tidak ada lagi yang diharapkan dalam hidupnya.

Meski buta huruf, Nombeko memiliki kemampuan matematika yang sangat hebat. Nombeko adalah seorang gadis yang dengan cepat belajar apa saja. Ia bisa belajar Bahasa Mandarin dari 3 orang. Ia kemudian juga dengan cepat belajar bahasa Swedia. Kemampuan matematikanya ini sering menyelamatkan sang insinyur ketika harus memberikan penjelasan teknis terhadap Presiden Botha. Sebab sesungguhnya sang Insinyur tidak paham apa-apa tentang fisika nuklir.

Jika sejarah sering dipercaya terjadi karena sebuah skenario yang terancang rapi, ternyata di tangan Jonas Jonason, sejarah terjadi karena kebetulan dan sebuah proses ketololan. Karier Nombeko misalnya. Ia akan tetap menjadi tukang angkut tinja seandainya ia tidak tertabrak mobil si perancang bom nuklir yang sedang mabok. Secara tidak sengaja Nombeko tertabrak mobil Insinyur Westhuizen, perancang bom nuklir yang sedang mabok. Dalam proses persidangan Nombeko kalah dan dihukum untuk menjadi pembantu sang Insinyur. Saat menjadi pembantu itulah ia berkenalan dengan 3 perempuan China yang mengajarinya bahasa Mandarin dialek Wu, sama dengan bahasa yang digunakan oleh Hu Jintao. Kariernya pun akan tetap menjadi pembantu Sang Insinyur apabila penterjemah yang dibawa oleh Hu Jintao tidak digigit kalajengking saat kencing sembarangan di semak-semak. Karena sengatan kalajengking itulah maka Nombeko akhirnya harus menggantikan posisi sang penterjemah.

Karena peristiwa yang serba kebetulan itulah akhirnya seorang perempuan kulit hitam yang tak berpendidikan dan bekerja sebagai pengangkut tinja mampu menyelamatkan dunia dari tragedi bom nuklir. Bukankah bom nuklirnya itu pun jadi karena proses yang tidak direncanakan?

Ah…seandainya Jonas Jonason membaca tentang Sukarno, maka akan ada candaan tentang Presiden Indonesia di novel ini. Bukankah Sukarno berperan besar dalam sejarah Afrika? Ah…ternyata sejarah besar manusia semuanya serba kebetulan saja.

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.