Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Renard M 
Senin 11 Maret 2019 01:27 WIB
Dibaca (234)
Komentar (0)

Humanoid

indonesiana-irobot_featured.jpg

 

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Perannya di tengah komunal adalah sebuah representasi dari alam pikiran—imajinasinya. Pikiran & imajinasinya nya memiliki pola, daya tindak dan gairah yang berkembang. Permainan kuasa adalah sebagai manifestasi dari naluri terkuat manusia. Dalam terjemahannya, ia dapat berupa ambisi menyerupai kuasa Tuhan. Ramses II sang Firaun telah melaksanakannya. Fuehrer “ Mein Kampf “ juga telah menggenapinya dengan narasi bertinta merah.

Memiliki kuasa dengan legitimasi persis seperti orang mencandu. Jika di abaikan, mengakibatkan sakit, menggigil, gusar dan marah. Pada puncaknya ia akan menjelma sakau yang mengakibatkan menghalalkan segala cara agar kembali menggapai kenikmatannya. Jika di teruskan, ambisi ini akan menjadi tragedi seperti kisah zaman kerajaan masa lampau dan di kenang sebagai mimpi buruk. Para pengejarnya telah merasakan akhir hidup tragis. Namun, sekali lagi, ia seperti candu. Dan, ia hanya kalah dan berhenti oleh fana—mati.

Karena itu, ia harus menjadi mesin agar kokoh, tangguh, dan patuh, tidak di telan waktu. Ia butuh rupa baru yang harus di isi , di unduh agar bergerak seperti tujuan awalnya, sebuah perpanjangan tangan yang melanggengkan nafsu kuasa. Humanoid adalah rupa baru di era baru. Ia menggabungkan keinginan sesuai pesanan, sehingga segala aturan , tatanan dapat di wujudkan dengan praktis. Ia harus rigid.

Pada awalnya manusia nyaman berdampingan. Tapi, kemudian manusia merasa terancam. Makhluk yang selalu yakin akan kesempurnaan pada rupa dan eksistensinya di bumi, dan telah pula beribu tahun di stempel sebagai tokoh yang hidup dengan daya ciptanya, ternyata kalah saing oleh ciptaannya. Manusia tentu iri kepada humanoid, sebagai mana naluri yang tidak ingin di duakan—disaingi. Ia ( manusia ) memutar otak, ia mengangkangi ciptaannya. Seperti sebuah lampu strongkeng yang menyala terang di tengah rimba , ia mulai mengikis sedikit ego sebagai makhluk sempurna dengan begitu ia akan di kerubungi pengikut yang terpukau. Ternyata, humanoid sangat mungkin sinergis, berkompromi. Ia mengeluarkan dogma. Ia mencampuradukkan doktrin sesuai keinginan atas nama kuasa yang di beri label kebenaran absolut.

Ia mengumpulkan rekan terdekat, sanak saudara dan progresif mengumpulkan pengikutnya. Bagai sang raja tanpa cela dan berdosa , ia mengirimkan pesan dalam rupa sabda “ jika aku benar, ia pasti salah”, “ jika aku suci, ia pasti nista”. Kemudian dengan gaya teriakan sang Fasis ia berteriak “ Kita yang paling superioritas !”. Humanoid awalnya diam. Tapi, ia mampu beradaptasi dengan semakin besarnya unduhan program dogma & doktrin.

Seiring waktu, manusialah yang ingin menjadi seperti dirinya. Manusia terpesona oleh kesempurnaan—kepatuhan. Ia ( manusia ) takzim, bergemuruh, mengangkat kepalan tangan tinggi ke atas menyatukan tekad, sambil tak lupa berteriak “ Humanoidkan semua manusia yang tak seirama”. Jika banyak yang tidak bersedia, singkirkan !.

 

Sebenarnya manusia telah cukup di tumpahi akal sehat

 

Ia lupa, ia sebenarnya manusia yang telah cukup di tumpahi akal sehat. Ia juga lupa, ia bukan hidup agar kebenaran miliknya. Dan ia juga lupa, taman yang dulu indah dalam imajinasinya bukan hutan belantara yang bisa membuat orang tersesat. Tapi celakanya , ia punya kuasa dan bukan sembarang kuasa. Humanoid telah berbaris rapat menjadi sebuah kaum baru yang mengikutinya, setia kemana saja ia berada. Ia ( humanoid ) juga telah candu. Matanya nyalang penuh tekad.

Sayangnya, manusia tidak akan mampu menolak fana. Namun , itu sudah terlambat di pahami. Memahami, jika suatu saat ia mati meninggalkan dunia dan selalu membusuk diruang sempit, ia telah banyak merobek tubuh sekaligus jiwa dan menyisakan duka lara terdalam bagi manusia, sesama yang ia sebut juga dengan kaumnya. Apa mau di kata, kini, humanoid telah menjelma manusia seperti penciptanya—tuannya. Menunggu aba-aba untuk bersiap menerkam dan menikam.

Gerombolan humanoid itu telah mulai tampak di permukaan dalam rupa virus radikalisme yang sibuk bergegas ingin mencapai “taman indah” versinya. Ia ( humanoid ) lupa, penciptanya, juga dulu manusia yang di lahirkan berdarah-darah, di peluk agar hangat, di temani agar tidak kesepian sehingga akhirnya memiliki rasa moral, martabat, solidaritas dan juga menangis jika ia kehilangan bahkan bisa terluka jiwanya . Tapi, ia ( humanoid) tidak akan memiliki pikiran tersebut apalagi merasa bahwa manusia memang seperti itu adanya. Ia kini liar, berpencar, bersiap menyusun rencana kembali, berharap dengan teriakannya, tindak-tanduk brutalnya, dapat menakuti yang tidak dianggap seide dengan keyakinannya. Ia selalu saja lupa, ia pasti fana—mati.

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.