Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Kamis 14 Maret 2019 11:42 WIB
Dibaca (205)
Komentar (0)

Partai Solidaritas Menggoyang Koalisi Jokowi

 

Satu bulan menjelang berbondong-bondongnya rakyat menuju bilik-bilik suara untuk memilih calon anggota legislatif, Partai Solidaritas Indonesia kembali melancarkan kritik kepada partai nasionalis yang jadi sekutunya dalam mendukung Capres Jokowi-Ma’ruf Amin. Secara khusus, kritik ditujukan kepada PDI-P dan Golkar, yang menurut Ketua Umum PSI Grace Natalie bukan nasionalis sejati karena dianggap mendukung pembentukan peraturan daerah berbasis syariah dan minim semangat antikorupsinya.

Kritik kepada partai sekoalisi ini, tentu saja, membuat PDI-P kepanasan dan membalas balik serangan Partai Solidaritas. Hendrawan Supratikno, Ketua DPP PDI-P, menyebut kritik Grace itu ngawur. Seperti dikutip Tempo.co, Hendrawan menduga bahwa Grace bermaksud membangun persepsi sebagai partai paling pancasilais dan nasionalis, dan berusaha menarik basis pemilih PDI-P yang moderat agar bisa lolos ambang batas parlemen.

Ambang batas parlemen memang menjadi rintangan yang menakutkan bagi banyak partai, apa lagi bagi partai-partai baru seperti Partai Solidaritas, Berkarya, dan Perindo, bahkan partai lama seperti PBB tengah berusaha kembali ke Parlemen. Partai lama pun belum tentu aman melenggang ke Senayan.

Nah, saat liputan media lebih banyak mengangkat isu-isu pencapresan Jokowi dan Prabowo, sebagai partai yang masih baru, pimpinan Partai Solidaritas mungkin tersadar bahwa ada urusan internal yang harus diselamatkan, yaitu target menempatkan wakil partai di Senayan. Jika mereka sibuk bekerja keras untuk menyuarakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin, boleh jadi urusan dapur sendiri yang strategis ini malah terbengkalai.

Seandainya kemudian Jokowi-Ma’ruf terpilih, mungkin saja Partai Solidaritas juga tidak mampu berkiprah di legislatif. Pimpinan partai ini boleh jadi menyadari bahwa apa yang disebut-sebut ‘efek ekor jas’ presiden itu tidak akan terwujud. Dan jika tidak ada wakil partai yang duduk di Parlemen, maka Partai Solidaritas akan bernasib sama dengan partai lain semacam PKPI dan PBB. Apa arti sebuah partai bila tidak mempunyai wakil di Parlemen?

Lantaran itulah, agaknya pimpinan Partai Solidaritas berpikir untuk ‘tampil beda’ di antara partai-partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf. Dalam pidatonya di Medan baru-baru ini (11 Maret 2019), Grace dikabarkan menyatakan bahwa partainya berbeda dari partai-partai sekoalisi. Kesibukan menggalang dukungan untuk pencapresan memang menyita banyak waktu partai politik dan urusan dapur sendiri boleh jadi terbaikan.

Partai Solidaritas memang harus mencuri perhatian masyarakat jika ingin ditengok, sebab partai ini betapapun belum memiliki basis massa. Dibanding merebut massa pemilih lama, yang sudah punya pilihan, peluang Partai Solidaritas sebenarnya ada pada pemilih-pemilih baru, khususnya di wilayah perkotaan, yang tahun ini baru dapat menggunakan hak pilihnya. Tapi tampaknya peluang ini tidak digarap dengan baik. Pimpinan partai semula tampak berharap akan memperoleh advantage dari mendukung koalisi PDI-P, tapi kini menyadari bahwa advantage yang dibayangkan itu tidak akan mereka dapatkan. Goyangan terhadap partai sekoalisi boleh jadi juga tidak akan banyak menimbulkan efek positif bagi partai ini.

Sebagai partai baru, mereka mungkin baru menyadari bahwa mereka harus berjuang sendiri. Sayangnya, waktu sudah mepet. Upaya Partai Solidaritas untuk tampil beda dan melepaskan diri dari bayang-bayang partai old—istilah yang dipakai Grace—tampaknya tidak akan cukup mendongkrak elektabilitas calon-calon legislatif mereka di sisa waktu yang tersedia.

Seandainya Partai Solidaritas berjalan mandiri dan bersikap independen sedari awal serta tidak melibatkan diri ke dalam koalisi pencapresan, melainkan fokus pada upaya memperoleh kursi Parlemen, hasilnya boleh jadi berbeda. Walhasil, cita-cita untuk mewujudkan Fraksi Solidaritas melalui pemilihan legislatif 2019 tampaknya akan sukar terlaksana. Tujuan pembentukan Partai Solidaritas untuk menawarkan antitesis terhadap tradisi usang yang diusung partai-partai lama boleh jadi akan redup sebelum cahayanya menyala terang. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.