Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Minggu 07 April 2019 21:29 WIB
Dibaca (789)
Komentar (1)

Pilpres, Jari, dan Baju Putih

 

Ada dua ‘benda’ yang sepanjang masa pemilihan presiden kali ini begitu kontroversial. ‘Benda’ pertama ialah jari. Selama ini, kita tidak punya masalah setiap kali memakai jari-jemari tangan kita. Mau pakai lima, tiga, atau delapan, tidak timbul masalah. Orang lain tidak berprasangka, menduga-duga, atau was-was. Namun, sepanjang pilpres kali ini, jika kita mengacungkan satu jari, orang langsung berasosiasi bahwa itu dukungan untuk capres 01. Begitu pula, jika ada yang mengacungkan dua jari, orang langsung ribut bahwa itu simbol dukungan untuk capres 02.

Politik praktis telah mengekang kebebasan kita untuk memakai jari-jemari sekehendak hati kita. Politik pilpres telah membatasi kebebasan jari-jemari kita: ‘Jangan satu jari, sebab ini...“, “Jangan dua jari, karena itu....” Hasrat kita akan kuasa telah membius kesadaran kita sehingga punya kegemaran akan identitas semacam itu, dan ini telah membatasi kebebasan diri sendiri dalam memakai jari-jemari kita. Jika biasanya kita menggaruk-garuk kepala dengan dua jari, kini kita memakai satu jari karena khawatir dianggap pendukung tetangga sebelah. Jika lazimnya kita menunjuk dengan satu jari, kini kita menggunakan dua jari karena cemas dipersepsikan pendukung tetangga sebelah.

Oleh sebagian orang, jari sebagai identitas memang dianggap penting, sehingga ada saja yang bersikap manipulatif. Maksudnya, bersikap pura-pura tidak tahu bahwa satu jari atau dua jari itu berasosiasi dengan capres 01 atau 02, padahal ia tahu. Ada pula yang berkelit bahwa pengacungan jarinya bukan berarti mempromosikan capres 01 atau 02. Ada pula yang bergegas mengklarifikasi bahwa foto dirinya dengan pose acungan jari itu diambil lama sebelum pilpres digelar. Mengapa bergegas? Karena khawatir dianggap tidak netral, dituding mendukung tetangga sebelah, atau karena alasan lain. Banyak orang jadi repot, banyak pula orang jadi manipulatif.

Selain jari, warna baju juga jadi kontroversi. Meskipun warna itu sangat banyak jumlahnya, tapi putih jadi pilihan. Lagi-lagi, karena putih diasosiasikan dengan kebersihan dan kejujuran—oh ho, ayolah, benarkah politik sebersih dan sejujur warna putih? Para kubu capres bermain dengan warna putih dan bahkan memperebutkannya sebagai identitas kelompok. Masing-masing mengklaim sebagai yang lebih dulu memakai baju putih sebagai simbol.

Kedua kubu capres juga berencana memakai baju putih saat pemungutan suara 17 April nanti. Rakyat pemilih, yang tidak mau terlibat dalam dukung-mendukung salah satu capres, akan merasa tidak nyaman bila banyak orang memakai baju putih di TPS, sedangkan ia datang dengan mengenakan baju berwarna pelangi, bergaris-garis, atau berbatik, serta berenda dan berbordir merah dan biru muda. Pemilih yang tidak terlibat dukung-mendukung mungkin merasa terasing dan tidak nyaman karena semua orang yang berbaju putih menatapnya melangkah ke bilik suara dan seolah berkomentar: “Mengapa kamu tidak memakai baju putih seperti kami?”

Dalam pilpres ini, gimmick telah menepikan esensi. Itulah yang terjadi dengan jari dan warna baju. Keanekaragaman yang begitu kaya seperti kehadiran 10 jari tangan dan warna-warni yang menawan bak pelangi telah direduksi menjadi simbol dan identitas politik. Reduksi keanekaragaman ini telah menciptakan garis pemisah antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Begitulah, gimmick telah mengalahkan esensi demokrasi. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.

0
0
2019-04-13 13:36:08
#SALAMAKALSEHAT Klik Di Bawah Ini https://medium.com/@office.barokah/cara-menghilangkan-benjolan-di-batang-penis-8347ebbd174d