Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Lingkungan
indonesiana-Dewa
Dewa Made
Selasa 09 April 2019 22:44 WIB
Dibaca (243)
Komentar (1)

Melepaskan Diri dari Jerat Adiktif Kantong Plastik

indonesiana-larangan_kantong_plastik_2.jpg

Sesaat sebelum ke Jakarta, seperti biasa saya mampir ke toko oleh-oleh langganan di Kawasan Kuta. Toko ini sering saya kunjungi karena dekat dengan bandara dan menyediakan berbagai macam makanan olahan hasil UKM Bali dengan harga yang terjangkau. Nama toko ini sebut saja Bali Jaya Mart.

 

Meski sudah terbiasa ke sini, ada yang tidak biasa di Tahun 2019 ini. Setelah selesai memilih barang belanjaan pesanan oleh-oleh rekan kantor, saya membawa belanjaan langsung ke meja kasir, sebagaimana orang belanja pada umumnya. Kasirnya pun mulai menghitung belanjaan saya tanpa beritikad untuk merapikan belanjaan saya. Sampai proses perhitungan belanja selesai dan saya melakukan pembayaran, kasir itu tetap membiarkan barang belanjaan saya berserakan di atas meja. Setelah tertegun beberapa detik, saya sadar bahwa kabar tentang Bali mulai melarang penggunaan kantong plastik memang benar adanya. Dengan wajah kalem, saya tersenyum ke arah kasir dan mulai mencicil untuk memasukkan barang belanjaan ke dalam tas ransel -syukurnya masih muat.

 

Kabar larangan penggunaan kantong plastik ini sebenarnya tidak saya ketahui dari media, melainkan dari obrolan ibu-ibu di kampung saya. Para ibu tersebut heboh manakala pedagang di pasar mulai membatasi penggunaan kantong plastik. Mereka pun membahas dengan serius tas serbaguna yang mesti disiapkan ketika ke pasar. Dan begitulah, mereka saling mengingatkan satu sama lain saat hendak ke pasar.

 

Bali sejatinya telah memulai pembatasan penggunaan kantong plastik ini sejak akhir 2018. Aturan ini rencananya berlaku secara penuh sekitar Juni 2019. Di balik itu, tersirat pesimis di benak saya. Mungkinkah Bali bisa lepas dari jerat kantong plastik hanya dalam 6 bulan? Berkaca pada pengalaman retorika di kota metropolitan, gubernur segalak Ahok pun tidak mampu menekan penggunaan kantong plastik. Saat Ahok menjabat, sempat muncul wacana agar ritel membebankan biaya kantong plastik hingga Rp 5.000 ke konsumen. Namun dalam perkembangannya, biaya tersebut kemudian turun menjadi Rp 500 hingga akhirnya, gratis kembali. Saya tidak tahu persis apa yang mengganjal aturan tersebut. Padahal tahap sosialisasi telah dimulai. Saya pun sempat berangan-angan untuk menyiapkan tas serba guna saat ke mini market, tapi pupus kembali.

 

Tapi semangat di Jakarta ini nampaknya berbeda dengan Bali. Aturan mengenai larangan penggunaaan kantong plastik ternyata lebih cepat menyebar dan menjadi perbincangan warga hingga ke pelosok-pelosok Bali. Perbandingannya, kampung saya yang letaknya di pedalaman Bali saja, telihat menggeliat untuk mendukung larangan ini tanpa basa-basi. Mungkin karena karakteristik warga Bali tidak seheterogen di Jakarta yang dihuni berbagai kalangan.

 

Yang kemudian menjadi pertanyaan, sejauh mana pemerintah Bali menyiapkan solusi alternatif pengganti kantong plastik ini. Faktanya, warga Bali sendiri sudah banyak yang meninggalkan kehidupan agraris mereka. Pemerintah Bali seolah ingin mebangunkan romansa bungkusan dedaunan hijau sebagai pengganti plastik. Romansa Bali yang ramah lingkungan dan selaras dengan alam. Tapi semoga kita tidak lupa kalau produksi daun pisang -atau dedaunan yang lain- tidak semasif dulu akibat jumlah petani yang kian berkurang dan alih fungsi lahan yang meningkat. Wong sekarang warga Bali sudah banyak yang lebih memilih untuk berdasi dibading pegang cangkul.

 

Saya belum tahu pasti bagaimana para penjual jajanan tradisional di Bali yang biasa menggunakan kantong plastik kemudian beralih ke bungkusan yang lebih ramah lingkungan. Lalu apakah ini akan mempengaruhi biaya operasional mereka karena sulit mendapatkan daun pisang. Saya jelas keberatan jika harga jajanan jadi naik karena mengikuti aturan kantong plastik sementara gaji saya belum naik-naik dan terus tergerus inflasi -curhat.

 

Saya tentu berharap aturan ini tidak sekadar populis tapi memang benar-benar dilakukan dengan tulus dan tegas. Aturan ini juga sebaiknya tidak hanya ditekankan pada konsumen, tetapi juga bagi produsen kantong plastik. Edukasi soal bahaya plastik harus terus digencarkan. Momentum pembatasan kantong plastik juga kian pas akhir-akhir ini. Terutama setelah ditemukan bangkai hewan-hewan laut yang mengkonsumsi plastik. Bahkan sampah plastik bungkus indomie yang beredar 19 tahun lalu pun menjadi viral karena tidak rusak sama sekali. Ini berarti bahaya plastik kian disadari masyarakat.

 

Jika pada akhirnya, Bali mampu menyetop penggunaan kantong plastik pada Juni 2019 maka selanjutnya tentu ada PR besar bagaimana membatasi peredaran produk berbungkus plastik. Apabila hanya berhenti pada kantong plastik, akan jadi menggelikan ketika saya membawa tas rotan ke mini market tetapi pulangnya berisikan penuh dengan produk berbungkus plastik. Ini sama menggelikannya ketika saya berbelanja di McD yang berhenti menyediakan sedotan plastik atas alasan lingkungan, namun masih rutin dan masif menggunakan gelas plastik.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.

0
0
2019-04-13 14:19:15
Wow i love bali