Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 12 April 2019 08:24 WIB
Dibaca (80)
Komentar (0)

KPK Alami Infeksi Dalam?

 

Dua tahun yang lampau, 11 April, ba’da menunaikan Subuh di masjid, Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal. Salah satu mata penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu rusak dan tidak lagi dapat berfungsi normal. Di negeri yang selalu terdengar kumandang suara bahwa hukum ditegakkan, pengalaman pahit Novel terbukti tidak kunjung terang duduk soalnya, hingga kini dan entah sampai kapan.

Beriringan dengan dua tahun berlalunya kejadian itu, pegawai KPK mengajukan petisi yang memuat lima butir keprihatinan mereka. Pertama, terhambatnya penanganan perkara, khususnya yang terkait dengan pengembangan perkara ke tingkat pejabat yang lebih tinggi. Kedua, beberapa bulan belakangan penyelidikan kerap bocor hingga berujung pada kegagalan operasi tangkap tangan. Ketiga, adanya perlakuan khusus kepada saksi tertentu. Keempat, penyidik kesulitan mengumpulkan barang bukti karena pengajuan rencana penggeledahan di beberapa lokasi tidak diizinkan. Kelima, beberapa dugaan pelanggaran berat tidak ditindaklanjuti secara transparan.

Lima butir keprihatinan itu tentu saja perkara serius. Bila terjadi hambatan dan rintangan dari pimpinan KPK, bagaimana institusi ini akan dipercaya masyarakat? Pegawai akan bertanya-tanya: ada apa ini? Begitu pula, bocornya rencana penangkapan berpotensi membahayakan keselamatan petugas yang berada di lapangan. Butir-butir keprihatinan yang diungkapkan dalam petisi tersebut menunjukkan bahwa suasana kerja di internal sudah kurang kondusif. Apabila situasi ini dibiarkan terus, secara institusi KPK akan melemah. Inikah tujuan akhir dari kemunculan hambatan dan rintangan yang diungkapkan itu?

Sejauh ini, KPK telah berusaha keras menjalankan tugas dan fungsinya, dan rakyat menaruh harapan bahwa tugas dan fungsi tersebut tertunaikan secara baik. Dalam beberapa hal, KPK telah menunjukkan taringnya dengan menangkap sejumlah orang yang memegang jabatan tinggi, seperti ketua DPR, ketua DPD, beberapa menteri, beberapa ketua umum partai politik, maupun pengusaha. Namun, dalam hal lain, KPK tampak kurang berdaya menghadapi sejumlah kasus penting karena adanya serangan balik yang demikian kuat.

Rakyat berkepentingan atas institusi KPK yang kuat, yang mampu mendukung terwujudnya masyarakat yang bersih dari korupsi dan suap. Tantangannya tidak ringan karena banyak pula pihak yang memiliki kepentingan sebaliknya. Laporan Koran Tempo beberapa hari terakhir ini menyebutkan banyaknya serangan kepada KPK. Ini memperlihatkan bahwa perjuangan melawan korupsi merupakan tanggungjawab bersama yang berat dan menjadi semakin berat manakala institusi KPK menemui rintangan justru dari dalam.

Akan menjadi semakin sukar bagi KPK untuk melangkah apabila ‘infeksi dalam’ yang menurunkan kekebalan tubuh institusi KPK itu tidak segera ditanggulangi. Bila infeksi terus menjalar di dalam tubuh KPK, bukan tidak mungkin institusi ini akan mandul dan lemah dalam menghadapi kasus-kasus besar yang melibatkan orang-orang (yang menganggap dirinya) penting. Ketika serangan dari luar ternyata tidak mempan untuk menyurutkan keberanian para pegawai KPK dan melumpuhkan institusi KPK, maka menimbulkan infeksi dari dalam tubuh bisa jadi pilihan yang efektif. Apakah ini yang sedang dialami KPK? ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.