Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Teguh Solih Setiyo Wibowo
Jumat 12 April 2019 09:10 WIB
Dibaca (74)
Komentar (0)

Menakar Integritas Caleg Artis:

Riuh rendah pemilu tahun ini, setidaknya dipengaruhi pula oleh adanya 91 caleg artis dari berbagai profesi yang maju sebagai calon legislatif. Salah satu diantaranya adalah Agustina Hermanto, S.Kom, MH., mantan penyanyi cilik yang akrab disapa Tina Toon. Pemudi lulusan jurusan hukum ini menyampaikan bahwa ia layak dipilih karena muda dan mewakili generasi millenial, mau terus belajar dan berkarya serta peduli dan empati besarnya terhadap kesetaraan gender. Untuk itulah ia dengan mantap hati menyiapkan diri untuk menjadi pembantu penyampaian aspirasi masyarakat dan bukan untuk menjadi seorang pencuri uang rakyat. Lain pula Giring Ganesha Djumaryo, biasa dikenal Giring Nidji, mantan vokalis Band ini mengaku pantas dipilih oleh rakyat karena telah membuktikan dirinya adalah seorang pekerja yang bertanggung jawab yang diwariskan dari garis keluarganya. Giring menyatakan siap untuk anti, benci dan berani terus melawan korupsi. Ia juga menghargai perbedaan, baginya debat kusir hanya cukup di sosial media saja tetapi juga mengajak untuk terus berkarya di dunia nyata dengan segala perbedaan yang ada. Latar belakang pendidikan politik membuatnya ingin menciptakan negara terbaik untuk anak-anaknya kelak dan bagi seluruh keluarga di Indonesia karena sebagaimana senandung syair lagunya, mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.

Komitmen para caleg artis ini pada upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dapat diawali dengan tujuan mereka duduk di kursi legislatif nanti dan juga pada pemahaman awal mereka mengenai korupsi. Secara khusus, Giring menjawab bahwa niat tulusnya untuk melayani masyarakat melalui jalur legislatif sempat dikoreksi oleh legislatif senior Popong Otje Djundjunan bahwa semestinya anggota legislatif itu bukan melayani tetapi memperjuangkan nasib masyarakat. Ceu Popong juga menambahkan tidak ada batasan umur maksimal maupun dikotomi tua muda dalam memperjuangkan nasib rakyat karena yang sudah berumur pun punya hak dan kewajiban yang sama untuk memperjuangkannya.

Sudah ada contoh kasus bahwa caleg artis dapat terjebak pada pusaran arus korupsi di lingkup legislatif. Angelina Sondakh, mantan anggota Komisi X yang membidangi pendidikan, olahraga, dan sejarah, divonis 10 tahun kurungan setelah PK dari semula 12 tahun. Begitu besarnya arus dan tawaran untuk korupsi inilah yang nantinya akan menguji integritas para caleg dari kalangan artis ini, hal yang membuat seorang aktor sekaligus penyanyi kawakan Syahrul Gunawan justru merasa tertantang untuk mengalami sendiri seberapa deras arus korupsi yang terjadi di sekitar gedung DPR. Menurut seorang panelis dari ICW  setidaknya ada 2 modus yang mungkin menggiring korupsi bagi caleg artis ini yakni pertama bermain anggaran ataupun kembali manggung sebagai artis dengan memanfaatkan fasilitas negara dan waktunya sebagai wakil rakyat. Tindakan pencegahan dengan membentuk Kaukus Politisi Bersih pun hanya jalan di tempat dan tidak terdengar gaungnya lagi. Sekali lagi, Komitmen para caleg artis tersebut masih bisa diragukan mengingat ketika ditanya mengenai pemahaman terhadap korupsi jawaban mereka secara umum adalah masih akan mempelajarinya terlebih dahulu. Bahkan tentang buku kecil mengenai korupsi oleh KPK yang berjudul Memahami untuk Membasmi, belum ada yang pernah membacanya. Hanya Tina Toon saja yang mengaku pernah mendengar dan menjawab bahwa pada prinsipnya ada 2 jenis tipikor yakni penyalahgunaan uang dan anggaran, dan abuse of power. Ini mengasumsikan bahwa integritas caleg artis masih bisa diperdebatkan karena adalah mustahil untuk membasmi korupsi tanpa adanya pemahaman yang cukup terhadap korupsi itu sendiri. Tetapi, patut juga diapresiasi langkah Giring Nidji yang memohon untuk diajari pemahaman tersebut oleh ICW dan komunitas anti korupsi lainnya. Pada akhirnya, semua caleg artis bersepakat bahwa terlalu mahal harga yang harus dibayar oleh yang bersangkutan, baik ketenaran maupun nama baik yang bertahun-tahun di bangun di atas panggung selebritas, dengan membenamkan diri mereka sendiri dalam pusaran korupsi ini. Saya pribadi melihat fenomena caleg artis ini laksana menemani anak SMP yang memaksakan hendak masuk kuliah. Masih gamang, ingin segera dianggap dewasa tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan di bangku kampus nanti. Kiranya, umumnya caleg artis ini masih meraba-raba dan abu-abu terhadap pemahaman tindak pidana korupsi ini. Soal integritas? biar waktu saja yang menjawab. Karena ujung jari rakyat jualah yang menentukan apakah caleg artis ini layak duduk karena integritas dan perjuangannya, atau sekedar numpang lewat oleh sebab pudarnya nama panggung.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.