Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 05 September 2014 14:43 WIB
Dibaca (3448)
Komentar (0)

Jejak Paradigma Kuhn

indonesiana-Thomas_Kuhn.jpg

“Under normal conditions the research scientist is not an innovator but a solver of puzzles..."

--Thomas S. Kuhn (sejarawan sains, 1922-1996)

 

Di tahun 1962, jagat filsafat sains yang tenang, dengan Karl Raimund Popper sebagai salah satu elite yang melihat sejarah ilmu pengetahuan sebagai gerak evolusioner, diguncang oleh terbitnya sebuah buku yang tidak begitu tebal, 180 halaman: The Structure of Scientific Revolutions. Karya yang ditulis oleh Thomas Samuel Kuhn, seorang doktor fisika yang kemudian menekuni sejarah sains, ini masih mengundang perdebatan hingga 50 tahun kemudian.

Tak lama setelah dipublikasikan, The Structure of Scientific Revolutions menjadi trending topic yang menyita perhatian komunitas sains kealaman serta sejarah dan filsafat sains. Karya terpenting Kuhn ini dipuji sebagai telah mengubah cara pandang manusia dalam memahami cara berkembangnya sains. Banyak kritik datang, di antaranya dari Popper dan muridnya yang cemerlang, Imre Lakatos, yang menganggap Kuhn telah menyebarkan paham relativisme dalam sains—sesuatu yang menyimpang dari kepastian.

Falsifikasi Popper, yang menandingi verifikasi versi Lingkaran Wina, menghadapi tantangan dari apa yang kemudian terkenal dengan sebutan Paradigma Kuhn—salah satu gagasan pokok Kuhn. Kuhn mengusung nomenklatur dan istilahnya  sendiri, seperti pergeseran paradigma, sains normal, sains revolusioner, dan anomali. Dalam sains normal, kata Kuhn, sekelompok ‘praktisi’ sains mendefinisikan dan memecahkan masalah berdasarkan kerangka teori tertentu. Inilah paradigm yang jadi pijakan komunitas ilmuwan dalam memandang dunia dan berkomunikasi di antara sesama mereka. Di mata Kuhn, sains bukanlah one-person game, melainkan sebentuk social enterprise.

Di dalam paradigma ada serangkaian keyakinan yang diadopsi untuk praktik ilmiah, di samping menyediakan contoh-contoh riset yang dapat dirujuk kembali oleh ilmuwan sebagai inspirasi yang memandu riset mereka sendiri. Teori evolusi Darwin, misalnya, menjadi paradigma yang memayungi kerja ilmuwan yang mendukung ide evolusi dalam melakukan riset. Pandangan konstruktivisme sosial Kuhn ini kelak diadopsi oleh banyak ilmuwan di bidang lain, di antaranya science and technology studies (STS).

Suatu ketika, muncul masalah-masalah yang sulit dipecahkan—Kuhn menyebutnya anomali. Paradigma yang dianut menghadapi kegentingan hingga mencapai situasi krisis. Keberhasilan dalam menemukan paradigma alternatif membuat paradigma lama ditinggalkan. Ketika itulah terjadi revolusi melalui penghancuran kreatif—penghancuran gagasan lama untuk membangun gagasan baru. Para pengusung paradigma baru berdiri di atas pundak para raksasa (meminjam frasa Isaac Newton), lalu menyerang mereka dengan ganas.

Pergeseran paradigma versi Kuhn ini mengubah pandangan perihal kemajuan keilmuan (scientific progress). Sebelum buku The Structure of Scientific Revolution terbit, pandangan tentang sains didominasi oleh narasi bahwa kemajuan pengetahuan merupakan “penambahan kebenaran baru di atas kebenaran lama”, sebab sains tumbuh tahap demi tahap—sebuah proses kumulatif. Kuhn menolak pandangan ini dan mengatakan bahwa ada diskontinyuitas ketika para ilmuwan menghadapi masa-masa krisis.

Di akhir abad ke-19, fisika menghadapai situasi seperti itu. Lord Kelvin (ilmuwan yang namanya diabadikan sebagai salah satu skala temperatur di samping Celcius, Reamur, dan Fahrenheit), pada tahun 1900, mengatakan, “Tidak ada hal baru yang ditemukan dalam fisika hari ini. Semua tinggal pengukuran yang semakin dan semakin presisi.”

Lima tahun kemudian perkataan Kelvin terbantahkan oleh Albert Einstein yang menerbitkan risalahnya tentang relativitas khusus. Relativitas Einstein menantang mekanika Newton, yang telah diadopsi oleh para ilmuwan sepanjang dua abad. Ini tak ubahnya ketika geometri Eucledian tak sanggup menghadapi masalah baru dan mendorong ilmuwan, antara lain Umar Khayyam, untuk merintis geometri non-Eucledian yang kelak menjadi pijakan Einstein dalam mengembangkan gagasan tentang kurva ruang-waktu yang melengkung.

Adanya revolusi menunjukkan watak perkembangan yang non-kumulatif, di mana paradigma lama digantikan oleh paradigma baru yang tidak kompatibel. Karena itu, menurut Kuhn, paradigma-paradigma ini tidak dapat diperbandingkan (incommensurable). Tidak ada ukuran bersama yang dapat dipakai untuk menilai teori-teori keilmuan yang berlainan paradigmanya. Tesis ini juga dikembangkan pada saat yang sama oleh murid Popper lainnya, yakni Paul Feyerabend, yang dikenal dengan pandangan anarkisnya.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat kumulatif menimbulkan konsekuensi bahwa teori yang lahir belakangan berarti semakin mendekati kebenaran. Kuhn sulit menerima konsekuensi ini. Ia menegaskan kembali posisinya saat menyampaikan Rothschild Lecture di Universitas Harvard, 1991. “Sukar membayangkan apa makna frasa bahwa teori keilmuan membawa kita ‘mendekati kebenaran’.”

Apa yang ‘benar’ (dalam konteks kebenaran mengenai alam) menurut sebuah paradigma, dalam kacamata Kuhn, mungkin ‘salah’ menurut paradigma penggantinya—sebuah pandangan yang mengundang kritik dan Kuhn dianggap menyebarkan paham relativis yang antikemajuan pengetahuan (sebuah cap yang ditolak oleh Kuhn). Ia juga dipandang mengaburkan garis demarkasi yang tegas di antara sains dan pseudo-sains.

Dalam ulasannya di New York Review of Books, 1998, peraih Nobel fisika Steven Weinberg menunjukkan perbedaan antara apa yang ia sebut sebagai “Kuhnian science” (yakni sains sebagaimana diimajinasikan oleh Kuhn) dan actual science. Teori-teori Kuhn, kata Weinberg, tidak mencirikan sains sebagai yang ia ketahui. Weinberg menganggap penting untuk melihat apa yang berubah dan apa yang tidak berubah dalam revolusi keilmuan, pembedaan yang menurut Weinberg tidak ada dalam pandangan Kuhn.

Weinberg menulis: “Apa yang menggangguku ketika membaca ulang Structure dan tulisan-tulisan Kuhn yang belakangan ialah kesimpulannya yang sangat skeptis mengenai apa yang dicapai oleh kerja sains… kesimpulan yang menjadikan Kuhn hero bagi filosof, sejarawan, sosiolog, dan kritikus budaya yang mempertanyakan karakter obyektif pengetahuan ilmiah, dan yang lebih suka menggambarkan teori-teori ilmiah sebagai konstruksi sosial, tidak begitu berbeda dari demokrasi atau baseball.”

Kini, 50 tahun sejak The Structure of Scientific Revolution terbit, sebagian orang, di antaranya filosof Ian Hacking, beranggapan bahwa pergeseran paradigma Kuhn tidak berlaku lagi. Kemajuan pengetahuan saat ini tidak lagi terjadi sebagaimana yang dibayangkan oleh Kuhn ketika memikirkan gagasan besarnya tentang paradigma. Fisika tidak lagi menjadi primadona sains kealaman, dan ilmu-ilmu hayati tengah menjadi ratunya. Bila demikian, apakah sudah tiba waktu bagi terjadinya “pergeseran paradigm” bagi teori Paradigma Kuhn? Tampaknya tidak semudah itu, karena para pendukung Kuhn juga tak henti mengembangkan pikiran-pikirannya. (sbr foto: chronicle.com) ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.