Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Australia
indonesiana-tempoid-default
Suhana Lim
Rabu 17 Desember 2014 06:51 WIB
Dibaca (4193)
Komentar (0)

Ngomong Aja Nggak Becus

indonesiana-351613

Oleh: Suhana Lim

Serasa baru kemarin, padahal hari ini pas setahun lalu saat saya dikenalin ke seorang motivational speaker. Ceritanya teman saya, yang adalah redaktur majalah, mengenalkan seorang pembicara dari Indo. Rupanya si A (sebut saja begitu) mau menjajagi kemungkinan membuka pasar baru diluar Indo. Istilah kerennya, tidak mau sebatas jago kandang dan mau go international. Kami bertiga pun ketemu di salah satu café untuk kenal dan kongkow.

A tanya-tanya soal peluang dan networking kalau ia mau melakukan acara di Aussie in general khususnya di Melbourne. Singkatnya ia minta pendapat dan masukan. Saya sampaikan bahwa lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. In term of mengadakan acara di sini bisa-bisa saja, tetapi apakah bisa menarik peminat itu yang harus di perhatikan baik-baik. Mungkin pengalamannya beracara sukses di Hongkong dan Malaysia, tetapi belum tentu di Aussie. Pasalnya target audience-nya beda. Disini jumlah TKI/TKW sangat minim. Komunitas Indo-nya mayoritas lebih mapan (secara sosial ekonomi dan pendidikan). Jadi memakai benchmark keberhasilannya di Malaysia dan Hongkong kurang afdol. Untuk menarik minat audience lokal juga bukan hal mudah. Boleh saja si A ngetop di tanah air. Tapi di Aussie sini, belum banyak yang kenal. Just another face in the crowd. Di sini ada bejibun motivational speakers dengan aneka background (sports, military, business, arts, etc, etc).

Hal lain yang beda ialah memakai topik agama, dan soal keparanormalan sebagai “sarana/alat bantu dan pemikat” akan kurang (atau tidak) ngefek bagi society di sini. Kurang laku!

Last but not least, kemampuan bahasa Inggris A juga pas-pasan saja. Tentu ini adalah barrier juga. Kasarnya, kalau ngomong aja ngak becus/fasih, gimana mau memotivasi orang? Perbendaharaan kata dan kalimat terbatas tentu akan lebih tersendat-sendat buat menyampaikan isi otak dan hati, boro-boro mau menyemangati dan memotivasi orang lain.

Bukan hanya dengan A, over the years ada pula kenalan praktisi lainnya yang directly or indirectly “mancing-mancing” untuk bertanya mengenai possibility mengekspor kiprahnya dan go international. IMHO, the very basic ialah kuasai dulu dengan baik International lingua franca (untuk jaman sekarang at least ialah Inggris dan Mandarin). Dengan begitu akan sangat membantu dan memudahkan. Dengan begitu bisa menghindari lost in translation dalam menjelaskan. Kasar ngomong, gimana bisa tembus pasar luar negeri kalau barang kualitas lokal? Hal lain yang juga membantu ialah kalau mengerti or at least tahu soal tradisi dan local wisdoms.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.