Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Dunia  
Asia
indonesiana-Erri
Erri Subakti
Rabu 17 Desember 2014 09:26 WIB
Dibaca (7771)
Komentar (0)

Luhut Pandjaitan: Pendekatan Dialog dalam Sengketa Laut Cina Selatan

indonesiana-Screen_Shot_2014-12-17_at_9.46_.30_AM_.png

Tanggal 8 Desember 2014 lalu, Luhut Pandjaitan diundang oleh CSIS (Center for Strategic & International Studies di Washington DC, untuk berbicara dalam sebuah forum diskusi. Luhut diminta memaparkan mengenai perekonomian Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi dan kebijakan-kebijakan luar negeri Indonesia ke depan.

Topik yang banyak ditanyakan oleh para peserta diskusi salah satunya adalah mengenai sengketa wilayah di Laut Cina Selatan, di mana di wilayah tersebut terdapat kepulauan Natuna yang masih dalam batas wilayah Indonesia.

Banyak yang mengkhawatirkan pendekatan apa yang akan dilakukan oleh pemerintan Indonesia terhadap persoalan tersebut. Mereka menanyakan, "How to approach China about Natuna island?"

Dalam kesempatan tersebut, Jenderal bintang 4 pendiri Gultor 81 Kopassus yang mantan Menperindag di era Presiden Gus Dur, ini menjawab secara gamblang seperti yang ditulis dalam artikel di website pribadinya. (Lihat: Kita Jangan Hanya Jadi Pasar High Tech)

"Saya pikir diskusi antara Presiden Jokowi dan Senator John McCain sangat jelas. Kami tidak akan menggunakan kekuatan militer di wilayah ini. Apa yang kita kedepankan adalah pendekatan dialog. Setiap masalah sengketa wilayah, kita akan mengedepankan pendekatan dialogis sebagai solusi. Kami percaya bahwa melalui dialog itu merupakan solusi terbaik. Indonesia juga dapat menjembatani persengketaan antara China dan Filipina, juga dengan Vietnam," ujar Luhut.

"Sekali lagi kami tidak memiliki rencana untuk menggunakan angkatan bersenjata kita untuk menyelesaikan masalah persengketaan di wilayah ini," terangnya.

"Jika kita melihat Indonesia 5-10 tahun dari sekarang atau mungkin 15 tahun dari sekarang saya pikir pertumbuhan ekonomi Indonesia akan jauh lebih besar dari saat ini. Pada saat yang sama mungkin Indonesia bisa menjadi 7 besar negara ekonomi dunia. Jadi ini adalah sinyal yang baik terhadap negara lain bahwa Indonesia tidak hanya berpenduduk terbesar keempat melainkan juga salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia," lanjut Luhut.

"Di saat yang sama kita akan meningkatkan kualitas angkatan bersenjata, alutsista kita, dan juga melatih dengan baik para tentara kita. Jadi saya pikir Indonesia akan menjadi kekuatan terkuat di wilayah ini. Ini menjadi strategi pencegahan (deterrent strategic) namun di saat yang sama kami ingin memainkan peran kami yang lebih besar di masa depan, dalam pendekatan damai," pungkas Luhut Pandjaitan yang pernah ditugaskan sebagai Dubes RI berkuasa penuh untuk Singapura saat BJ Habibie menjabat sebagai Presiden RI tahun 1999.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.