Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Putu Suasta 
Politisi Demokrat
Rabu 18 Februari 2015 13:41 WIB
Dibaca (5465)
Komentar (0)

Merayakan Perbedaan, Merawat Pluralisme

indonesiana-Suasana_Imlek1.jpg

Satu hari lagi saudara-saudara kita etnis Tionghoa akan memasuki  tahun baru Imlek ke- 2566. Sebagai warga dari sebuah negara yang pluralis dalam hal suku bangsa, agama, dan keyakinan, kita memiliki tanggungjawab moral dan etis untuk turut serta memberi dukungan dengan menciptakan suasana kondusif agar saudar-saudara kita dapat merayakan dan menyongsong tahun baru sesuai dengan budaya dan keyakinan mereka dalam suasana damai. Situasi seperti ini, yakni hidup dalam harmoni di tengah perbedaan, merupakan agregat paling substansial dari kedewasaan masyarakat demokratis.

Menoleh sejenak ke lembaran sejarah, pengukuhan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional dan kebebasan untuk merayakannya secara defenitif baru terjadi pasca Reformasi. Pengukuhan tersebut dapat dipandang sebagai sebuah pencapaian dan kemajuan signifikan dalam proses pendewasaan negeri ini menyikapi perbedaan. Pencapaian tersebut, menurut hemat saya, pantas kita jaga dan pertahankan karena pluralitas merupakan anugerah serta kekayaan bagi bangsa ini. Sebuah negara tidak mungkin menjadi besar tanpa ada pengakuan dan penghormatan terhadap semua elemen masyarakatnya. Sama seperti suku-suku bangsa lain di Indonesia, saudara-saudara kita etnis Tionghoa juga telah memberi sumbangsih yang tak terhitung dalam memperjuangan dan memajukan bangsa ini.

 

Wawasan dan Kesadaran Multikulturalisme

Minggu-minggu terakhir ini hampir semua media massa, baik cetak maupun elektronik, dihiasi dengan pernak-pernik perayaan Imlek. Demikian juga dengan pusat perbelajaan, pusat bisnis dan tempat-tempat publik. Kita tahu, pernak-pernik dan ucapan selamat itu sebagian dibuat oleh orang-orang dari etnis dan keyakinan yang berbeda. Kemeriahan seperti itu juga terjadi menjelang perayaan hari besar Islam, Kristen, Hindu dan agama lain. Situasi seperti ini amat penting dipertahankan agar wawasan dan kesadaran akan pluralisme dibina sedari awal. Anak-anak yang menonton televisi dan ikut berbelanja di mall menyaksikan pernak-pernik itu dan sedari awal disadarkan bahwa di negaranya terdapat berbagai budaya, keyakinan dan agama.

Setiap kebudayaan memiliki unsur dinamis yang terbuka pada perubahan dan kesinambungan dalam menjawab tantangan zaman. Agar kebudayaan itu berkembang baik, pemerintah dan masyarakat menyediakan ruang kebebasan untuk berekspresi. Karena itulah amat diperlukan sikap untuk memberikan kesempatan dan saling toleransi yang lahir dari wawasan dan kesadaran akan nilai-nilai multikultralisme. Semua budaya di Indonesia, termasuk budaya Tionghoa, mempunyai kedudukan yang sama sama seperti budaya Melayu, Jawa, Bali dan lainnya, yang menjadi bagian bangsa Indonesia. Keragaman suku, etnis, agama, dan budaya, tidak hanya kita terima sebagai kekayaan bangsa, tetapi juga sebagai unsur-unsur pembentuk keindonesiaan. Segenap perbedaan itu mesti memperkuat rasa kebangsaan, karena di rumah yang  bernama Indonesia, mereka merasa terjaga dan terlindungi.

Jika kesadaran tentang pentingnya kesetaraan dalam keragaman budaya ini berhasil ditanamkan di setiap keluarga, akan terbangun komunitas masyarakat yang berkarakter demokratis dan tidak gampang melontarkan prasangka-prasangka negatif atas adanya perbedaan budaya. Jika karakter masyarakat demokratis berhasil terbentuk, maka harapan untuk membangun masyarakat multicultural di Indonesia tidak lagi sekedar wacana. Semoga saja semangat multikulturisme yang muncul dalam perayaan Imlek tahun ini dapat dijadikan momentum untuk membangun Indonesia agar lebih berkarakter di masa depan. Ketika matahari terbit besok pagi saya akan mengucapakan “Gong Xi Fa Chai” kepada saudara-saudara yang merayakan tahun baru Imlek. (Putu Suasta, 18/02/2015)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.