Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Nasional
indonesiana-tempoid-default
Putu Suasta 
Politisi Demokrat
Senin 12 Oktober 2015 09:43 WIB
Dibaca (4776)
Komentar (0)

Ahok dan Jakarta dalam Perspektif Baru

indonesiana-Ahok_2.jpg

Tulisan seri III  ini akan mulai membahas kiprah Ahok di Jakarta.

Istilah Jakarta Baru populer sejak Jokowi-Ahok mulai tampil di pentas politik Jakarta. Mereka disambut dengan antusias oleh masyarakat yang percaya dan berharap kota tempat tinggal mereka, di bawah kepimpinan pasangan tersebut, dapat menjadi kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, serta pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik. Itulah konsep Jakarta Baru yang ditawarkan oleh Jokowi-Ahok.

Sebenarnya, konsep itu tidak baru sekali. Para pemimpin-pemimpin sebelumnya juga menjanjikan hal yang sama. Tapi proses penantian teramat panjang tanpa bukti konkrit membuat masayarakat lelah, kemudian pesimis dan akhirnya apatis terhadap kota mereka. Jakarta dalam benak banyak orang telah puluhan tahun menjadi arena buas dan ganas sebagai tempat tinggal tapi lahan basah dan tajir sebagai tempat mengeruk rejeki. Maka berpuluh-puluh tahun orang hanya berpikir untuk mengeruk rejeki di Jakarta tanpa benar-benar peduli bagaimana Ibu Kota negeri ini ditata dan dikelola. “Itu urusan pemerintah, bukan urusan gue”, begitu kira-kira komentar anak-anak muda Jakarta. Tapi kurang lebih sejak tiga tahun lalu komentar seperti itu hampir tak pernah terdengar lagi. Urusan pemerintah menjadi urusan masyarakat. Program-program yang dijalankan pemerintah Jakarta disorot secara luas, diberi dukungan, dikomentari, diikuti dengan antusias oleh berbagai lapisan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga eksekusi di lapangan.

Perkembangan media sosial memberi akses bagi masyarakat untuk memantau perkembangan pembangunan di kota mereka. Maka sebuah perspektif baru terbangun. Masyarakat menanggalkan kaca mata pesimis dan apatis mereka, dan mulai mengenakan sudut-sudut pandang penuh optimisme. Hanya saja, sebelum Jakarta Baru benar-benar terwujud, Jokowi sebebagai salah satu tokoh yang memancarkan optimisme itu naik ke tangga lebih tinggi dan meninggalkan Ahok meneruskan progam-program Jakarta Baru. Ahok telah berhasil memikat hati warga kota ketika menjabat sebagai wakil Gubernur dan Plt Gubernur. Maka kepergian Jokowi tidak menyurutkan optimisme dan semangat warga untuk mendukung pembangunan kota mereka. Jadilah Ahok menjadi andalan warga untuk mewujudkan Jakarta seperti yang mereka impikan dan kini Jakarta seakan menjadi panggung show tunggal Ahok.

Kehadiran Ahok memberi keyakinan bagi masyarakat bahwa Jakarta memiliki seluruh potensi dan sumberdaya untuk menjadi kota terbaik dan kebanggaan di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Di Jakarta terdapat banyak ahli dan pakar di bidang tata kota, ahli transportasi, pakar dalam hal pemukiman, drainase, lingkungan, dan lain-lain. Jakarta juga memiliki dana lebih dari cukup untuk menuntaskan semua permasalahannya. Seorang Gubernur Jakarta dalam satu periode (5 tahun) minimal mendapatkan Rp. 180 Triliun. Tapi semua potensi tersebut akan menjadi sia-sia tanpa seorang eksekutor ulung yang bekerja dengan tulus, juju dan berani. Itulah yang dilakukan Ahok sehingga dari hari ke hari semakin banyak orang yang terinspirasi olehnya....bersambung ke seri IV




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.