Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Iwan Kurniawan
Jumat 23 Oktober 2015 19:13 WIB
Dibaca (21074)
Komentar (0)

Agus Noor dan Para Selingkuhannya

indonesiana-agus.jpg

Agus Noor sedang sibuk sekarang. Dia banyak menghabiskan waktunya di Jakarta untuk menggarap berbagai pekerjaan sambil terus menulis cerita pendek. Sesekali saat ingin mencari inspirasi tulisan, ia kembali ke Kota Gudeg. Baginya, Yogyakarta adalah pemasok energi untuk karyanya. “Ke Jakarta dalam rangka mencari duit, ke Yogya seringnya bawa pulang pekerjaan,” kata dia di sebuah kafe di sebuah pusat belanja di Yogyakarta, Januari lalu.

Belum lama ini, dia menerbitkan kumpulan cerpen terbarunya, Cerita Buat Para Kekasih, yang memuat 32 cerpen. Sebagian cerpen itu bertema perempuan, cinta, dan perselingkuhan. Seorang Wanita & Jus Mangga, misalnya, mengisahkan ketegangan hubungan sepasang kekasih. Sang perempuan dengan cara yang halus tapi mengerikan mengancam sang lelaki: dia berbicara sambil mengupas mangga dengan sebilah pisau yang tajam. Dalam Cocktail, Agus mengangkat tema pedofilia lewat hubungan antara El Picho, bromocorah pelabuhan, dan Dul, bartender tampan berkulit halus.

Sastrawan kelahiran Tegal, Jawa Tengah, pada 1968 itu sudah lama menulis karya sastra. Pada mulanya dia menulis puisi.

Cerpen pertamanya, Kecoa, dimuat di Kompas pada 1987. Sejak itulah ia memantapkan diri menjadi penulis yang karyanya dimuat di majalah pelajar terbitan sebuah surat kabar di Jawa Tengah, saat dia duduk di bangku sekolah menengah pertama. “Dimuat di situ rasanya hebat banget,” kata dia.

Pada 1984, dia hijrah ke Yogyakarta untuk bersekolah di sekolah menengah atas. Dia pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada, tapi tak selesai, lalu memilih belajar teater di ISI Yogyakarta. Di sini ia mulai bergaul dengan sejumlah seniman teater, seperti Butet Kartaredjasa dan Indra Tranggono, serta sejumlah sastrawan, seperti Linus Suryadi AG dan Emha Ainun Nadjib.

Ada sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Suatu malam, dia dan para seniman lainnya sedang terlibat diskusi panjang sampai pagi. Obrolan usai pukul tiga. Ketika orang-orang pulang, ia tidur di rumah Cak Nun, panggilan Emha. “Jam lima pagi saya bangun dan melihat Cak Nun menulis,” kata dia.

Pelajaran yang ia petik adalah bahwa nongkrong, mengobrol, dan diskusi melahirkan banyak ide. “Tapi, apa gunanya ide kalau tak dieksekusi?” Maka ia pun mulai rajin menulis.

Sebagai sastrawan, Agus tak punya kantor, tapi dia menerapkan sendiri jam kerjanya. Dalam sehari, dia mengkhususkan sembilan jam waktunya untuk membaca dan menulis. Soal tempat kerja, bisa di mana saja. Menurut dia, kantor seorang penulis ada di pikirannya.

Ia juga menargetkan untuk menulis empat cerita pendek setiap bulan. Dikirim ke surat kabar atau tidak, dimuat atau tidak, bahkan nanti diterbitkan menjadi buku atau tidak, tak ada urusan. Yang penting, ia tetap menulis. Kalau bulan lalu ia hanya menulis dua cerpen, itu artinya ia masih berutang dua cerpen pada bulan ini. “Berarti bulan ini enam cerpen,” kata dia.

Agus bukanlah orang yang ingin dicap sebagai penulis dengan aliran tertentu. Buku pertamanya terbit pada 1999, Bapak Presiden yang Terhormat. Buku itu bertema kritik sosial tentang orang-orang yang terbuang. Dia pun dianggap sebagai penulis dengan gaya realis. Tapi, pada buku keduanya, Memorabilia, ia meloncat ke surealisme, yang mencampurkan realitas dengan dongeng. “Di buku kedua aku menolak itu (anggapan sebagai penulis realis sosial),” kata dia.

Jika kini sebagian orang beranggapan cerpennya lebih banyak berkisah tentang cinta dan kekasih, kata dia, itu pasti karena tulisan-tulisannya pada 2000-an. Pada periode ini, ia memang beralih ke gaya pop. Ia menulis buku Selingkuh Itu Indah, lalu Rendezvous, yang memadukan gaya pop itu dengan surealisme. Lantas, pada buku Potongan Cerita di Kartu Pos, ia menulis dengan bentuk fiksi mini.

Ketekunannya sebagai penulis mengantar dia untuk mendapat sejumlah ganjaran. Pada 1999, tiga cerpennya—Dzikir Sebutir Peluru, Keluarga Bahagia, dan Tak Ada Mawar di Jalan Raya—mendapat Anugerah Cerpen Indonesia dari Dewan Kesenian Jakarta. Adapun cerpen Pemburu terpilih sebagai karya terbaik oleh Horison diantara karya yang pernah diterbitkan majalah sastra itu sepanjang 1990–2000. Pada 2006, cerpen Piknik mendapat Anugerah Kebudayaan dari Departemen Seni dan Budaya. Lima tahun kemudian, cerpen Kunang-kunang di Langit Jakarta menjadi cerpen terbaik Kompas pada 2011.

Inspirasi tulisannya datang dari kehidupan keseharian dan lingkungan sekitarnya. Cerpen Dua Wajah Kekasih di buku Cerita buat Para Kekasih, misalnya, terilhami oleh kisah nyata temannya, seorang muslim penjaga parkir di Gereja Marga Mulya, yang lebih dikenal sebagai Gereja Ngejaman, di ujung Jalan Malioboro, Yogyakarta. “Cerita itu saya kembangkan,” kata dia.

Bagi Agus, tak ada alasan seorang penulis kehabisan ide. Persoalannya adalah bagaimana ia melawan kemalasan. “Cara mengatasinya, ya, dengan menulis,” kata dia. Namun, ia menambahkan, masih ada satu kendala yang mengganggu rencananya menulis. Twitter. Bayangkan, jika diakumulasi waktunya, Agus bisa bermain Twitter selama empat jam sehari. “Kalau dulu buka laptop langsung menulis, sekarang bermain Twitter dulu.”

Penulis: Kurniawan dan Anang Zakaria

DATA BUKU

Judul: Cerita Buat Para Kekasih

Pengarang: Agus Noor

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Edisi: Cetakan pertama, November 2014

Tebal: x + 276 halaman

[*]




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.