Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-Rais
Rais Muhammad K. S
Kamis 25 Februari 2016 09:42 WIB
Dibaca (776)
Komentar (0)

Mengasah Kreatifitas Guru Lewat Blog

indonesiana-guruuu.jpg

Di samping membawa dampak negatif, teknologi internet sebenarnya juga menawarkan banyak hal positif. Internet seperti pisau, tergantung siapa yang memegang. Kalau yang memegang adalah seorang ibu rumah tangga, maka pisau itu mungkin digunakan untuk memotong sayur. Tapi kalau yang memegang adalah penjahat, maka pisau itu mungkin akan digunakan untuk aksi kriminal. Jadi positif atau negatif dampak penggunaan internet tergantung pada penggunanya.

Demikian juga dengan blog, bisa positif bisa negatif. Jika blog digunakan untuk memposting atau mempublikasikan tulisan-tulisan kita yang bermutu dan berguna, maka blog bisa berfungsi sebagai media belajar baca-tulis bagi kita. Tapi kalau blog hanya digunakan untuk mempublikasikan materi-materi yang tidak berguna, baik asli karya kita maupun karya orang lain, maka blog itu laksana sampah di dunia maya.

Tentu, di sini kita mengajak Anda untuk menggunakan blog secara positif, yaitu sebagai media pembelajaran berbasis baca-tulis. Caranya,  kita membaca materi dari internet, lalu kita endapkan dalam diri kita, kita analisis, kita reaksikan dengan pikiran kita, lalu kita tulis dan hasil kita menulis kita publikasikan ke dalam blog.

Ini bisa kita lakukan karena blog pada dasarnya merupakan website pribadi. Isinya adalah tulisan-tulisan yang bernuansa pribadi, hasil pemikiran pribadi. Di sinilah kita bisa berekspresi secara bebas. Yang mengatur diri kita adalah diri kita sendiri. Enaknya, bikin blog atau istilah gaulnya ngeblog bersifat free (gratis). Kita bisa ngebog menggukan blogspot, wordpress, atau multiplay. Semuanya gratis.

Dengan adanya layanan blog di dunia maya kita benar-benar banyak terbantu. Kita dapat mempublikasikan pikiran kita secara bebas dalam waktu cepat yang bisa diakses secara luas. Interaksi antarblogger sebagai sesama insan belajar terjadi dengan intensif, melampaui batas-batas ruang dan waktu.

Dalam konteks pembelajaran berbasis baca-tulis, media blog layak untuk kita akomodasi dalam kegiatan pembelajaran. Teknisnya, siswa diberi tugas untuk mencari dan membaca informasi dari internet. Selanjutnya, hasil bacaannya itu -setelah direaksikan dengan pemikiran dan pengalaman sendiri- ditulis dan dipublikasikan ke dalam blog. Melalui kegiatan membaca lalu dipadukan dengan pemikiran dan pengalaman, lalu menuliskan sesuatu, Anda pada hakekatnya telah belajar. Belajar berbasis baca-tulis.

Istilah pembelajaran berbasis baca-tulis sebenarnya saya adopsi dari istilah Hernowo yang terkenal dengan teknik mengikat makna. Menurutnya, untuk dapat mengikat makna dari apa-apa yang kita baca, kita harus melanjutkan kegiatan membaca itu dengan kegiatan menulis.

Ternyata, cara ini memang sangat efektif. Saya telah mencoba menerapkan metode pembelajaran berbasis baca-tulis ini dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik di SMP Negeri 1 Kota Mojokerto pada kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Terlihat jelas, kegiatan belajar menjadi lebih hidup. Siswa terpacu untuk mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan, baik berita, opini, puisi, kisah pribadi, dan sebagainya melalui blog.

Untuk menghasilkan tulisan, aktivitas membaca yang dilakukan siswa tidak sekadar bersifat konsumtif. Kegiatan mereka adalah kegiatan produktif, yaitu menghasilkan karya tulis. Akibatnya, secara bertahap kualitas intelektual siswa meningkat. Ini terlihat dari kemampuan mereka membuat tulisan yang runtut, logis dan sistematis.

Awalnya, tulisan siswa memang terkesan seadanya. Ada yang sekadar mempublikasikan puisi tentang cinta. Ada yang mencoba menulis berita bercampur opini tentang kegiatan sekolah. Bahkan ada yang menulis kisah sedih tentang temannya yang menderita leukimia.

Saat tulisan siswa masih belum bagus, saya tidak mematahkan semangatnya dengan  memvonis jelek. Saya beri apresiasi secara positif dengan memberi komentar yang konstruktif. Biasanya saya mengungkapkan kelebihan-kelebihan tulisannya, dan memberi motivasi untuk membuat tulisan yang lebih baik. Begitu seterusnya, melalui latihan berulang-ulang, ternyata siswa  mengalami kemajuan yang pesat. Tulisan para siswa semakin berkualitas.

Harus diakui, selama ini dunia pendidikan kita belum banyak memberi ruang ekspresi bagi anak didik. Pembelajaran sering berjalan satu arah: dari guru ke siswa. Dalam pembelajaran seperti ini, siswa diperlakukan sebagai botol kosong yang mesti diisi oleh guru. Siswa sebagai pencari ilmu bersikap menunggu. Siswa hanya belajar dari satu sumber, yaitu guru. Seolah hasil belajar siswa dari perjumpannya dengan sumber belajar selain guru bukan termasuk hasil belajar.

Tentu, model pembelajaran yang demikian harus kita ubah. Di era informasi, dunia berubah dengan sangat cepat. Ilmu pengetahuan dan teknologi sama cepatnya bergerak maju. Dalam kondisi begini, tentu tidak relevan lagi guru menjejalkan ilmu kepada anak didik.

Nah, pembelajaran melalui media blog, kiranya bisa dijadikan salah satu alternatif pembelajaran yang relevan dengan tuntutan di atas. Guru cukup membelajarkan siswa agar bisa ngeblog, lalu membuat kesepakatan dengan siswa tentang apa yang harus ditulis oleh siswa. Alamat blog siswa ditautkan ke blognya guru sehingga guru dengan mudah dapat mengunjungi blognya siswa dan memberi komentar atas tulisan-tulisanya.

Kalau guru Anda tidak mengakomodasi media blog dalam pembelajaran, apa yang Anda lakukan? Ya, Anda tetap bikin blog. Biarlah orang lain yang akan mengomentari tulisan-tulisan Anda. Proses belajar Anda malah berjalan lebih alami.

Bagaimana menurut Anda?




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.