Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Sabtu 27 Februari 2016 11:09 WIB
Dibaca (1472)
Komentar (0)

Menulis: Pilihlah Satu Sudut Pandang

indonesiana-typewriter_quotesgram.jpg

 
“Setiap manusia jenius memandang dunia dengan sudut pandang berbeda dibandingkan pengikutnya, dan itulah tragedinya.”

--Havelock Ellis (Psikolog, 1859-1939)

 

“Jika kamu hendak menulis, pilihlah satu sudut pandang tertentu,” begitu nasihat seorang kawan. Saya rasa ia benar ketika mengatakan bahwa peristiwa, topik, ataupun sosok seseorang dapat ditulis dari beragam sudut pandang. Ibarat sebuah tugu yang berdiri tegak di tengah jalan, kita dapat melihatnya dari sudut manapun—360 derajat.

“Nah, dari sudut mana kita mau melihat tugu itu—itulah sudut pandang seorang penulis,” begitu ujar kawan saya. “Kita mungkin bisa menulis dari semua sudut pandang, tapi pembaca akan bingung, unsur atau aspek mana yang kita tonjolkan. Jadinya, tidak ada fokus, gambarnya kabur, bahkan mungkin tumpang tindih. Lagi pula, dengan satu sudut pandang saja, kita dapat mengeksplorasi banyak hal dari sesuatu yang kita tulis.”

Sembari menyeruput kopi hangat yang saya sajikan, kawan saya memberi contoh tulisan tentang Bung Karno. Begitu banyak buku ditulis di dalam dan luar negeri mengenai sosok proklamator kemerdekaan kita itu. John D. Legge, sarjana Australia, menulis biografi Soekarno dari sudut pandang politik—lahirlah Sukarno: A Political Biography. Dalam Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams, Cindy Adams menulis biografi dengan menonjolkan kompleksitas Sukarno sebagai manusia.

Confronting Sukarno, karya J. Subritzky, mengulas tentang upaya diplomasi Inggris, AS, Australia, dan Selandia Baru dalam menengahi pertikaian Indonesia-Malaysia dengan fokus pada peran Bung Karno. Ketika itu Bung Karno sangat marah kepada Malaysia sehingga ketegangan kedua negara menyebarkan ketegangan pula ke wilayah sekitarnya.

Itu baru sebagian judul karya yang ditulis mengenai Bung Karno. Setiap penulis berusaha menunjukkan satu sudut pandang: sepak terjang Bung Karno di arena politik, sebagai manusia dengan beragam segi kehidupannya yang manusiawi, serta sebagai sosok sentral dalam konfrontasi dengan Malaysia. “Pilih sudut pandang yang menarik, yang kamu kuasai,” ujar kawan saya. “Kamu juga bisa menulis Bung Karno dari sudut pandang lain, misalnya kehidupan Sukarno muda sebagai mahasiswa di Bandung tempo dulu.”

Sudut pandang yang jelas membuat penulis itu fokus pada apa yang ia bicarakan. “Penulis yang baik tidak akan ngelantur membicarakan ini dan itu yang tidak terkait dengan sudut pandang yang ia pilih,” tutur kawan saya lagi. “Penulis hebat mampu menghubungkan apa yang oleh kebanyakan orang dilihat tak punya kaitan dengan topik yang ia bicarakan.”

“Eh, kopi buatanmu enak lho,” ujarnya. Saya tengok cangkirnya sudah kosong dan itu isyarat saya mesti membuatkannya lagi. Tidak apa-apa barter kopi panas dengan segenggam pengetahuan.

Kawan saya lalu memberi contoh lain mengenai sudut pandang dengan topik perombakan kabinet. Ada yang menulis dari sudut pandang komposisi profesional dan orang partai, ada pula yang menulis dari sisi kinerja para menteri (yang baik dipertahankan, yang buruk dicopot), ada juga yang menulis dari sudut pandang perebutan pengaruh di antara orang-orang sekeliling Presiden. “Tentu saja, ketiga tulisan itu mesti dibumbui agar ceritanya seru,” ujar kawan saya.

Saya pun mengangguk-angguk mendengar penuturannya. “Kalau saya mau menulis tentang perombakan kabinet dalam empat tulisan bagaimana cara menentukan sudut pandangnya?” celetuk saya. “He he he, itu lain lagi ceritanya. Sekarang kamu belajar menulis satu tulisan dulu dengan satu sudut pandang. Kalau sudah selesai menulis, kabari saya. Nanti kita ngobrol lagi,” ujarnya sembari berpamitan setelah ia menghabiskan dua cangkir kopi. (sumber foto: quotesgram.com) ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.