Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Hobi
indonesiana-Mukhotib MD
Mukhotib MD 
Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Minggu 28 Februari 2016 15:21 WIB
Dibaca (1256)
Komentar (0)

Menulis, Kenapa Harus Kehabisan Ide?

indonesiana-2013-01-19_10.43_.54_.jpg

Banyak orang ingin menulis, dan banyak orang pula yang ingin membantu orang lain untuk bisa menulis. Sebab, dengan menulis, tak saja gagasan seseorang akan tersimpan dalam batas waktu yang tak terbatas. Menulis juga bisa mengawetkan apa pun yang pernah dibaca, dan gagasan apa pun yang pernah ditulis.

Saya sampai sekarang masih selalu ingat ide yang saya kembangkan, dalam cerita pendek dengan judul 'Di Persimpangan' yang saya publikasikan melalui harian Lampung Post sekitar tahun 1989. Artinya, ide itu sudah berusia 18 tahun yang lalu. Jika dikonversi ke dalam usia anak, berarti sudah SMA dan sebagiannya sudah di Perguruan Tinggi.

Pertanyaannya, kenapa masih ada yang menganggap menulis itu sulit, dan bahkan begitu takut untuk memulainya? Jawabnya, si penulis selalu ingin menulis hal-hal besar dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Maka, saya sering bilang, menulis mengenai Presiden akan menjadi lebih sulit, dibandingkan menulis sebuah gelas yang ada di hadapan kita.

Prinsip itulah yang selama ini, saya gunakan sebagai modal awal ketika saya hendak menulis. Saya tak akan menulis berada di luar jangkauan pengetahuan saya. Saya menulis hal yang sederhana, hal-hal yang sangat saya kenali. Lantas, apa yang saya kenali saya tarik ke persoalan-persoalan sosial yang lebih besar, persoalan yang dihadapi masyarakat pada situasi kekinian.

Dengan menulis yang saya kenali, saya bisa menulis detail-detailnya. Menulis sampai ke akar-akarnya. Menjelaskan dengan yakin, sebab apa yang kita uraikan memang benar-benar saya kuasai. Dengan begitu, uraian yang saya sampaikan menjadi deskripsi yang menarik.

Bagaimana dengan menulis yang berada di luar jangkauan pengetahuan? Dampak paling serius, akan kehabisan kata-kata. Sebab tak bisa menulis detail, melainkan simpulan-simpulan dengan menggunakan narasi pensifatan. Di sinilah, menulis menjadi menyeaskkan dada, membuat pusing kepala.

Setelah menemukan ide dari situasi sosial yang dikenali, saya akan melanjutkan dengan membaca, membandingkan gagasan-gagasan yang saya miliki, dengan gagasan-gagasan yang pernah dikembangkan orang lain. Ketika, tak menemukan perbedaan sama sekali dengan gagasan orang lain, saya akan hentikan gagasan itu untuk dikembangkan. Bagi saya, tak ada gunanya menulis sesuatu yang sudah ditulis orang.

Tetapi, jika saya masih menemukan cara pandang yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, nilai-nilai yang berbeda, saya akan memulai menulis. menunjukkan gagasan yang saya tawarkan memiliki nilai lebih, bahkan dengan gagasan yang ditulis oleh penulis terkenal sekalipuin.

Sekarang, kenapa kita masih merasa pusing menulis? Mari kita mulai menulis setiap saat, kapan pun kita menemukan ide: berbasis fakta empiris atau berbasis fakta psikis. Sama saja.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.