Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Pendidikan
indonesiana-Thurneysen Simanjuntak
Thurneysen Simanjuntak 
Senin 29 Februari 2016 07:37 WIB
Dibaca (884)
Komentar (0)

Aku Membaca, Maka Aku Menulis

indonesiana-ESN.jpg

Dari kuliah aku senang baca. Aku baca buku-buku manajemen, pengembangan diri, sejarah, komunikasi, filsafat, ilmu sosial hingga buku tips menulis. Bangganya bisa melahap buku-buku tersebut. Banyak informasi, fakta dan gagasan yang bersarang dalam benakku. Terakhir sampai pada titik bertanya, "Setelah itu untuk apa?" Aku mulai berpikir. Sia-sialah pengetahuan yang aku miliki kalau tidak kubagikan juga ke orang lain.

Menulis adalah cara yang pas untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain, disamping mengajarkannya. Tapi kalau mengajar bagiku, sudah tidak asing lagi. Pengalaman duapuluh tahun mengajar, ternyata rasanya ada yang kurang. Ibarat orang berjalan, butuh dua kaki untuk bisa seimbang. Demikian juga dalam hal berbagi pengetahuan. Ternyata perlu juga variasi lain untuk menjaga keimbangan dalam proses mentransfer pengetahuan tersebut.

Disamping hal di atas, menurutku menulis itu bisa menjadi nilai tambah bagiku sebagai seorang pengajar. Terkadang, malu rasanya sebagai pengajar hanya bisa berteori dan menyebar konsep, bahkan mulai terkadang menyarankan warga belajarku untuk membagi pengetahuannya juga dengan cara menulis, tapi saya sendiri tidak pernah memberikan contoh untuk menulis. Apa kata dunia?

Bagi rekanku, yang sudah banyak baca. Ambil waktu, menulislah! Kombinasikan pengetahuan yang didapat dari berbagai bacaan dengan pengalaman pribadi, dengan gagasan-gagasan yang ada. Maka tulisan itu akan lebih hidup dan menarik. Akan menginspirasi orang lain. Atau pun menjadi solusi hidup bagi orang-orang yang membacanya.

Ini adalah pengalamanku pribadi dari tahun 2OO3 sampai 2004. Ketika saya bekerja disebuah Non Government Organization (NGO), saya rutin dan aktif menulis di majalah mini (buletin) yang terbitkan berkala setiap bulannya. Secara kuantitatif, saya yakin ada 10.000 orang yang baca tulisan saya. Saya katakan demikian, karena kantor kami, setiap bulannya mencetak buletin itu sekisar 10.000 eksemplar setiap bulannya.

Tulisan-tulisan di Buletin tersebut merupakan kombinasi dari pengetahuan yang kuperoleh dari berbagai literatur yang pernah kubaca, pengalaman sendiri, dan pengalaman orang lain yang kugali dari berbagai diskusi dengan mereka. Adapun tema-tema tulisan yang kutuliskan seputar pendidikan, pendampingan dan pengembangan diri anak, membangun berbagai kebiasaan positif bagi anak, dan lain sebagainya.

Dari pengalaman menulis diatas, ternyata ada berbagai cerita dari sisi pembaca. Ini pengalaman yang pernah kualami. Ketika saya sedang berkunjung ke Ciracas, ke rumah saudaraku, kusempatkan berbincang dengan seorang ibu tetangga mereka. Singkat cerita, ternyata oh ternyata, tulisan-tulisanku selama ini dikoleksi tetangga dari saudaraku tersebut. Untuk sesaat saya senang campur haru. Apalagi ibu tersebut bilang kalau tulisan itu menginspirasinya. Saya baru sadar, ternyata tulisanku itu tidak sia-sia. Banyak orang yang bisa merasakan manfaatnya. Kalau begitu, bagaimana mungkin saya harus pensiun dari menulis?

Diakhir cerita ini, kusimpulkan, ternyata membaca itu asyik. Apalagi kalau kita bisa menulis, jauh lebih asik.

#menulisituasyik




Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 5

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.