Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Hobi
indonesiana-Diaz
Diaz Setia
Kamis 03 Maret 2016 22:46 WIB
Dibaca (1120)
Komentar (0)

Menulis, Sebuah Proses Pembebasan

indonesiana-penulis-ilustrasi-_141124145920-343.jpg

Menulis bagi saya adalah sebuah penyembuhan. Betapa asyiknya kita ketika dapat menyembuhkan diri sendiri. Bebas-sebebasnya menuangkan segala ragu, gelisah, pertanyaan-pertanyaan yang meski juga tidak terjawab dalam tulisan-tulisan saya. Tapi setelah menulis, saya sudah sembuh. Saya setuju saat seorang kawan bilang bahwa,

“Menulis itu mendengarkan suara hati, bukan menuangkannya. Belajar mendengar untuk memahami, bukan untuk menjawab.”

Santer disebutkan bahwa salah satu tujuan menulis adalah  untuk menyampaikan kebenaran. Sebenarnya perlu lagi diberi batasan soal definisi kebenaran yang masih bias ini. Namun saya percaya bahwa jalan menuju penyampaian “kebenaran yang masih bias itu” adalah dengan kejujuran penulis dalam mendengarkan hati nuraninya.

Saya bisa bohong dalam bicara, bohong dalam menampilkan ekspresi, bohong dalam melakukan sesuatu. Tapi berbohong dalam menulis? Saya pikir itu merupakan bentuk kemunduran yang total. Manipulasi dalam menulis hanya akan menimbulkan polemik nurani yang baru bukan justru menyembuhkan. Pun dalam menulis fiksi, yang fiksi adalah ceritanya, bukan pesan yang ingin disampaikan penulisnya. Untuk memberikan nyawa dalam setiap tulisan saya, saya mutlak harus jujur. Menulis adalah cermin yang menembus inti diri saya, menangkap bayangan utuh yang ada dalam pikiran dan nurani saya. Berdamai dengan pikiran dan nurani saya sendiri. Menulis adalah kanvas bagi saya untuk menuangkan segala warna yang saya tangkap dengan indera lain diluar yang lima. Menulis adalah ketidakpedulian bagi saya. Tidak peduli untuk mempersoalkan apa yang orang lain pikirkan setelah membaca tulisan saya. Selama tulisan saya tidak menebas hak-hak orang lain, dan selama berada dalam jalur etika jurnalistik, saya pikir semua yang saya tulis adalah sah. Menulis adalah kastil dan saya adalah permaisurinya. Menulis adalah ruangan hakiki yang bebas saya tata sendiri. Perasaan-perasaan saya, pemikiran-pemikiran saya, kegelisahan-kegelisahan saya, adalah dekorasi yang saya letakkan dengan apik di kastil saya, tempat saya menulis. Sebebas-bebasnya.

Menulis adalah keputusan bagi saya untuk mendengarkan dan menyampaikan kegelisahan. Kata orang, kita harus gelisah. Gelisah adalah indikator bahwa betapa hati kita masih peka untuk dapat merasa. Banyak penulis-penulis masterpiece di negeri ini yang menulis karna gelisah. Gelisah akan persoalan-persoalan sosial di hadapannnya, atau gelisah akan ide-idenya sendiri, akan ketakutan-ketakutannya, atau harapan-harapannya. Kita perlu menjadi gelisah, menikmati setiap kegelisahan-kegelisahan itu sebagai anugrah bagi manusia yang peka. Supaya sebuah kegelisahan tidak terdegradasi sebagai bentuk pemakluman, pemakluman yang nantinya akan mematikan hati kita sendiri, kegelisahan mestilah disampaikan tidak hanya bersarang dalam pikiran kita.Jadi, kita pun perlu untuk mendengarkan dan menyampaikan kegelisahan itu dalam bentuk karya. Dan menulis adalah keputusan saya untuk mengkaryakan segala bentuk gelisah.

Menulis adalah rel bagi saya untuk berkontemplasi. Menulis adalah cara saya belajar mengerti, cara saya menelan segala kemajemukan dunia, menulis adalah cara saya bertoleransi terhadap hidup. Menulis adalah asyiknya saya bebas melihat segala macam polemik dari kacamata saya sendiri. Menulis adalah asyiknya saya menelanjangi dimensi persoalan yang lain, yang mungkin saja luput dari pengamatan orang lain. Menulis adalah cara saya memberi satu warna khas bagi dunia, warna saya sendiri: tulisan saya. Menulis mungkin adalah cara saya dikenang, cara saya diingat, cara saya eksis di dalam perjalanan gembala sang zaman. Menulis adalah latihan bagi saya untuk menjadi manusia yang utuh dengan kepekaan-kepekaan intuitif.

Disaat semua orang berisik soal manfaat, soal memberi manfaat, soal menginspirasi, soal medan perjuangan, soal apresisasi. Disaat yang sama saya hanya akan hening, sambil bertanya kepada diri sendiri,

“ Sebenarnya siapa yang akan paling banyak mendapat manfaat dan inspirasi dari sebuah tulisan?”

Penulisnya sendiri. Yup. Penulisnya sendiri.

Tak ada manfaat menulis yang lebih besar daripada pembebasan pikiran penulisnya. Tak ada inspirasi yang lebih hebat dari sebuah tulisan selain inspirasi yang masuk ke jiwa penulisnya sendiri. Dan tak ada perjuangan yang lebih hebat dalam perjalanan menulis ketimbang perjuangan penulisnya sendiri untuk jujur dalam tulisan-tulisannya. Dan soal apresiasi, saya juga percaya bahwa apresiasi akan berbalik sendiri sebanyak nyawa yang kita berikan dalam tulisan-tulisan kita.

Lalu bagaimana dengan kekeringan ide? Saya belum pernah mengalami kekeringan ide. Ide-ide menulis bertubrukan dalam udara di sekeliling saya. Bertubrukan, tak terkendali. Saya hanya sering kekeringan cara untuk menyampaikan ide-ide liar tersebut. Kekeringan rumus meracik ide-ide tersebut untuk menjadi sebuah manfaat bagi pembebasan diri saya sendiri, menjadi inspirasi bagi jiwa saya, dan menjadi sebuah perjuangan untuk menyampaikannya dengan jujur. Kata orang penulis hebat adalah pembaca yang baik. Membaca ibarat interlude dalam sebuah lagu, dan menulis adalah sesingkat reff-nya. Menulis 100 kata artinya membaca 10.000 kata. Menulis dan membaca adalah siklus yang tak bisa diputus. Saya masih perlu untuk membaca, membaca, membaca, dan membaca lagi. Selain membaca, belajar langsung dari penulis-penulis yang lebih banyak pengalaman, dan dari pakar-pakar dibidang menulis, barangkali akan sangat membantu saya dalam meminimalisir bahkan mengeliminasi kendala kekeringan cara dan rumus meracik tsb.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.

Manusia mati meninggalkan karya. Dan tulisan-tulisan adalah karya yang ingin saya tinggalkan.

Asyik, ya?

Sumber foto: http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/tips/14/12/30/nhe7a6-tips-jadi-penulis-produktif




Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 3

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.