Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Gaya  
Hobi
indonesiana-muthiah alhasany
Muthiah Alhasany 
Jumat 04 Maret 2016 23:30 WIB
Dibaca (1343)
Komentar (0)

Dengan Menulis, Bertemu Orang Hebat, Menjadi Orang Hebat

indonesiana-12466190_10205576494480320_573313193918476013_o.jpg

Banyak orang beranggapan bahwa pandai menulis adalah sebuah bakat turunan. Karena itu ketika ada orang yang diminta untuk mengarang, merasa pesimis karena menganggap dirinya tidak berbakat. Padahal seseorang menulis tidak saja berdasarkan bakat, tetapi juga belajar dan mengasah diri dengan tekun.

Memang tidak disangkal bahwa sebagian penulis menuruni bakat dari orang tuanya. Namun kenyataannya, sekarang ini siapa saja yang  ingin menjadi penulis,  bisa belajar dari sekolah resmi atau juga secara otodidak. Kemauan, tekad dan kerja keras lebih menentukan apakah seseorang bisa menjadi penulis yang sukses atau tidak.

Saya menyadari memiliki bakat menulis ketika di Sekolah Dasar mendapatkan nilai tertinggi untuk mengarang. Hasil nilai tersebut cukup menghebohkan seisi kelas karena guru Bahasa Indonesia yang mengajar terkenal killer, sangat pelit dengan nilai. Berebutlah teman-teman saya melihat karangan saya. Mereka sangat penasaran.

Namun bakat itu tidak diketahui atau disadari oleh orang tua, jadi tidak ada upaya untuk mengasah bakat tersebut. Apalagi ketika di SMP, guru Bahasa Indonesianya tidak menyenangkan. Di sisi lain, saya banyak membaca berbagai buku di perpustakaan. Sedangkan di SMA, suasana juga tidak mendukung. Saya diam-diam suka menulis puisi di saat guru menerangkan pelajaran.

Selepas SMA, barulah saya serius memikirkan cita-cita dan pekerjaan. Karena saya senang menulis, maka perguruan tinggi yang saya pilih adalah IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) d/h STP (Sekolah Tinggi Publisistik) yang telah banyak menelurkan wartawan-wartawan terkenal. Saya mengambil jurusan jurnalistik yang sesuai dengan hobi menulis.

Pada tahun ketiga saya mulai magang di sebuah harian ibukota. Saya kuliah sambil bekerja. Saya sempat mempelajari beberapa bidang seperti olahraga, ekonomi dan politik. Kebetulan waktu itu redaktur pelaksana senang melakukan rolling untuk wartawan-wartawannya. Dengan demikian saya semakin mengerti dan paham  bidang-bidang tersebut. Pengetahuan dan wawasan saya bertambah luas.

Selama menjadi wartawan, saya bisa menemui tokoh-tokoh penting, entah itu pejabat atau tokoh masyarakat. Jadi, kalau orang lain hanya melihat di layar kaca atau membaca di media cetak, maka saya sudah pernah bertemu dan berbicara dengan mereka.

Ketika mulai aktif di organisasi, saya melepaskan diri dari profesi jurnalis tetap. Namun bukan berarti bahwa saya berhenti menulis. Saya mengelola majalah intern organisasi sambil sesekali menulis di media massa. Saya tidak kehilangan passion untuk menulis.

Menjadi blogger

Dengan berkembangnya teknologi, penggunaan internet semakin meningkat. Orang-orang yang senang menulis, melampiaskannya dengan membuat blog. Fenomena ini ditangkap beberapa media besar. Kompas grup membuat blog 'keroyokan' yang disebut Kompasiana. Sedangkan Tempo membuat wadah untuk para blogger bernama Indonesiana.

Kompasiana lebih dahulu lahir, karena itulah saya menjadi anggota di sana lebih dahulu, baru kemudian menjadi anggota Indonesia. Dengan memiliki blog, maka hobi dan kemampuan menulis tetap terjaga dan terasah. Selain itu blog telah menambah pertemanan dengan penulis-penulis lain. Kami bisa berinteraksi dan bertukar pikiran ketika bertemu di suatu tempat.

Konsisten menulis di blog kompasiana menjadikan saya cukup dikenal admin. Setahun sekali Kompasiana mengadakan kopi darat yaitu Kompasianival. Pada saat itu banyak tokoh-tokoh nasional yang diundang. Maka saya berkesempatan pula bertemu dan mewawancarai mereka.

Pada tahun lalu, Kompasianival direncanakan akan dibuka oleh Presiden Jokowi. Karena sesuatu hal, tidak bisa dipenuhi, Yang terjadi adalah sebaliknya, Presiden Jokowi yang mengundang Kompasiana untuk bersantap siap di istana. Admin Kompasiana lalu memilih 100 kompasianer untuk diajak ke sana. Saya menjadi salah satu blogger yang beruntung.

Saya bisa bertemu dan makan siang bersama seorang presiden. Hal ini terjadi karena memiliki kemampuan menulis yang tetap diasah melalui blog. Menulis telah membawa saya berjumpa dengan orang-orang hebat selevel presiden atau tokoh-tokoh nasional.

Kita bisa menjadi orang hebat

Sesungguhnya kita juga bisa menjadi orang hebat karena kemampuan menulis. Ada banyak tokoh yang dikenal masyarakat internasional karena kemampuannya menulis. Kita mengenal Shakespeare, Lord Byron, sampai JK Rowling.  Sedangkan di Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang atau Gerson Poyk.

Dengan menyimak tokoh-tokoh tersebut, maka kita tahu bahwa menulis bisa membuat seseorang menjadi hebat. Mereka bisa terkenal karena menulis, karena itu kita juga bisa dikenal karena menulis. Namun tentu saja kualitas tulisan sangat menentukan apakah tulisan kita akan dibaca banyak orang.

Konsistensi dan ketekunan, tak segan untuk terus belajar adalah modal yang wajib kita miliki untuk menjadi penulis hebat. Memang bukan jalan yang mudah.  Beberapa penulis baru dikenal setelah puluhan tahun berkarya. JK Rowling membuat Harry Potter setelah sekian banyak naskah yang ditolak dan usianya sudah menginjak empat puluhan. Tidak ada yang tahu pasti kapan sukses akan digenggam.

Namun bagi yang memiliki passion menulis, waktu yang berjalan tidak terlalu diperhitungkan. Hal yang paling penting adalah terus menulis walau dalam keadaan apa pun, karena tanpa menulis jiwa terasa hampa. Saya pun masih berharap suatu saat akan menjadi penulis yang hebat pada suatu waktu sambil terus berkarya.

 

 




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.