Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Seleb  
Fotografi
indonesiana-tempoid-default
Suryo Gumilar
Minggu 05 Januari 2014 09:00 WIB
Dibaca (6754)
Komentar (0)

Mengapresiasi Karya Foto Anak Indonesia

indonesiana-americans.jpg

Umurnya baru 30an tahun. Berbekal referensi dari sahabatnya, Walker Evans, ia mengirim proposal untuk mendapat grant dari John Simon Guggenheim Memorial Foundation. Setelah berhasil mendapatkan dana grant sebesar $ 36.000, dia membeli mobil Ford. Lalu, dia melakukan perjalanan ke beberapa negara bagian Amerika Serikat untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakatnya.

Dari perjalanannya tersebut lahirlah sebuah karya monumental, “The Americans”. Karya itu mendobrak pemahaman tentang Amerika saat itu, di mana Amerika memiliki gambaran ideal sebagai tanah makmur dengan ‘Mimpi Amerikanya’. Ternyata di mata pemuda itu, Amerika digambarkan sebagai egara dengan konsumerisme yang tinggi, isu rasial dan segregasi, serta jurang pemisah yang lebar antara kaya dan miskin. Pemuda itu adalah Robert Frank.

Saat membuat ‘The Americans’ Frank melakukan perjalanan sejauh 1.000 mil melalui 30 negara bagian dalam jangka waktu 9 bulan. Frank menghabiskan 767 rol film yang berisi sekitar 27.000 foto. Dari jumlah tersebut ia membuat 1.000 cetakan. Setelah 1,5 tahun melakukan proses edit dan kurasi, akhirnya hanya 83 foto yang ia tampilkan dalam bukunya.

Frank berangkat dari basis sebagai fotografer fashion. Namun dia sendiri tidak begitu menyukai bidang tersebut dan hanya menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Hasratnya adalah membuat cerita melalui foto. Tapi impiannya itu tak mendapatkan publikasi luas. Karya-karyanya sering ditolak oleh majalah LIFE sehingga akhirnya pendiriannya terbentuk.

“Saya juga ingin mengikuti intuisi saya dan mengerjakannya sesuai cara saya dan membuat standar sendiri dan bukannya membuat cerita LIFE. Itulah salah satu hal yang saya benci. Cerita menyebalkan yang punya awal dan akhir,” katanya.

Dia juga ditolak saat mengajukan lamaran untuk bergabung dalam agensi foto Magnum. Sempat pulang kampung ke Switzerland, dia kembali ke Amerika dan bertaruh untuk terakhir kalinya. “Ini terakhir kalinya saya kembali ke New York dan mencoba mencapai derajat tertinggi dengan karya saya.”

Dalam pandangan tertentu, Frank memang bertaruh dan ini taruhan terakhirnya. Dia frustasi dengan karyanya yang sering ditolak dan taruhan itu adalah dengan mencoba mengajukan aplikasi beasiswa ke Yayasan Guggenheim. Beruntung proposalnya diterima. Lebih beruntung lagi, karyanya mengubah pandangan mengenai fotografi dokumenter.

Guggenheim sendiri adalah yayasan yang dibuat oleh Simon Guggenheim. Yayasan ini memberikan penghargaan berupa pemberian pendanaan (grant) kepada para professional yang telah membuat ‘body of work’ di bidang ilmu alam, ilmu sosial, kemanusiaan, dan kerja kreatif. Tujuan diberikannya grant tersebut adalah memberikan kesempatan kepada orang-orang berbakat untuk menciptakan karya dengan kreatifitas dan kebebasan sebesar mungkin.

Apresiasi untuk para Praktisi

Bagi beberapa seniman, salah satu penyokong kreatifitas dan kebebasan adalah ketersediaan dana. Bayangkan jika Frank tidak punya dana untuk berkelana ke seluruh negeri, memotret kondisi kultural masyarakat Amerika. Karyanya tentu hanya karya biasa, bersifat lokal, dan tidak mendapat pengaruh luas.

Ada banyak pendanaan untuk seniman berbakat selain Guggenheim. Beberapa di antaranya adalah National Medal of Arts dari pemerintah Amerika Serikat. Penghargaan berupa dana hibah 1.52 juta US dollar kemudian mewujud dalam 40.000 konser, pertunjukan seni dan ribuan pameran. Contoh lain adalah Finnish State Art Prize, yang menghibahkan dana sekitar 500.000 euro kepada 30 fotografer.

Dana hibah itu membantu para seniman berkarya dan pada akhirnya justru membantu pemasukan Negara melalui industri kreatifnya. Dari kegiatan-kegiatan Medal of Arts, tercatat pemasukan sebesar 600 juta dollar, dan Finnish State Art of Prize menyokong pemasukan dari sektor budaya dan media sebesar 3.2 persen GDPnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Potensi industri dari fotografi sangatlah besar. Sayangnya, belum semua tergali. Dari jumlah galeri di Indonesia saja, tercatat ada 191 yang dianggap punya jaringan luas dan rutin berpameran. Namun, dari angka tersebut, sepanjang tahun 2012 hanya ada 570 pameran.

Padahal jika 191 galeri tersebut melakukan pameran sedikitnya 4 kali dalam setahun saja, seharusnya jumlah pameran adalah 764.

Bandingkan pula dengan jumlah kamera sebagai alat produksi yang beredar di Indonesia. Pada tahun 2011, penjualan kamera DSLR dari satu merk mencapai 160.000 unit, atau naik 40 persen dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2012, penjualan kamera DSLR dari merk yang sama mencapai 250.000 unit, atau naik 50 persen. Hingga Juni 2013, penjualan kamera kompak merk yang sama mencapai 150.000 unit.

Begitu banyak kamera yang bisa terjual dalam setahun. Namun, subsektor fotografi pada tahun 2002-2010 hanya menyumbang sekitar Rp 1,76 miliar, atau peringkat ketiga terbawah dari 14 subsektor ekonomi kreatif lainnya. Seharusnya dengan potensi yang belum tergali itu, fotografi di Indonesia mampu mencipta karya-karya semonumental Robert Frank di atas.

Memahami potensi tersebut, Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif mengadakan Anugerah Fotografi Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian-pencapaian oleh eberapa praktisi fotografer di tanah air. Melalui ajang penghargaan ini, pemerintah mengakui sekaligus mendukung geliat ekonomi kreatif berbasis fotografi di Indonesia.

Kehadiran Anugerah Fotografi Indonesia (AFI) menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia mengakui dan mengapresiasi segala bentuk usaha yang sudah dilakukan oleh komunitas fotografi Indonesia.

Dengan memberikan penghargaan kepada orang atau organisasi fotografi yang dianggap signifikan pada perkembangan fotografi di Indonesia, berarti pemerintah sudah menetapkan tolok ukur bagi perkembangan dan kemajuan bidang ini. Diharapkan, keberadaan AFI menjadi semacam rangsangan bagi para pelaku fotografi untuk menghasilkan karya fotografi yang berkualitas dan pada akhirnya akan meningkatkan nilai produksi.

*Tulisan ini dibuat sebagai keterangan pers pada ajang Anugerah Fotografi Indonesia oleh Kemenparekraf, November 2013*




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.