Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 08 April 2016 23:18 WIB
Dibaca (1658)
Komentar (0)

Seperti Maraton, Menulis Perlu Daya Tahan

indonesiana-menulis_wordreams.jpg

 

“Bakat literer itu jamak; apa yang langka ialah daya tahan, hasrat untuk terus-menerus bekerja keras dalam menulis.”

--Donald Hall (Penyair, 1928-...)

 

Belajar dari para empu menulis, dari manapun asalnya dan kapanpun mereka hidup, adalah bagian dari ikhtiar untuk dapat menulis lebih baik lagi—tak pernah ada kesempurnaan, hanya lebih baik. James Baldwin suatu ketika pernah berkata bahwa ikhtiar untuk dapat menulis lebih baik lagi memerlukan daya tahan yang panjang. Ini tak ubahnya berlari maraton untuk sampai kepada tujuan.

 Begini kata Baldwin: “Bakat itu tidak penting. Saya tahu banyak orang berbakat yang tumbang. (Sebab) Di balik bakat terletak semua kata yang lazim lagi biasa: disiplin, kecintaan, keberuntungan, dan yang terpenting dari semua itu, daya tahan.” Saya coba memahami perkataan Baldwin menjadi bakat itu tidak akan berguna bila tidak diasah dengan disiplin, kecintaan, dan daya tahan. Keberuntungan barangkali sejenis peluang yang tepat momentumnya.

Daya tahan itu berarti pelatihan setiap hari—bak pesilat yang melatih jurus-jurusnya saban hari, juga kuda-kudanya agar semakin kokoh; bagai penari yang melatih geraknya agar bertambah lentur dan berjiwa; seperti penyanyi yang mengasah kekuatan vokalnya agak nyaring dan merdu terdengar, tanpa nada-nada fals. Begitu pula menulis. Daya tahan terkait kesanggupan menahan letih.

Para empu menulis memiliki kesamaan dalam ikhtiar mereka mengasah kemampuan, yakni kebutuhan akan daya tahan. Baldwin berbagi perihal kebiasaan menulisnya, yang ia lakukan bertahun-tahun. “Aku mulai bekerja ketika setiap orang berangkat tidur. Aku harus melakukan hal itu bahkan sejak muda—aku harus menunggu hingga anak-anak tidur,” ujar Baldwin. “Aku bekerja apa saja di siang hari dan selalu harus menulis di malam hari. Tapi kini aku mapan. Aku melakukannya karena aku sendiri di malam hari.”

Kebutuhan akan daya tahan untuk melewati fase-fase dalam menulis menjadikannya bagian dari kepenulisan Haruki Murakami. Dalam setiap wawancara, Murakami menyebut bakat sebagai kualitas terpenting yang dimiliki penulis novel—lebih tepat, sebagai prasyarat. Ia mengibaratkan bakat sebagai bahan bakar. “Tanpa bahan bakar, mobil terbaik sekalipun tidak akan berlari,” ujar Murakami. Persoalannya ialah kita tidak dapat mengendalikan jumlah atau kualitas bakat.

Kualitas terpenting berikutnya, kata Murakami, adalah fokus—kemampuan untuk memusatkan seluruh bakat yang terbatas apa saja yang kritis. “Aku biasanya berkonsentrasi pada pekerjaan selama 3 atau 4 jam setiap pagi. Aku duduk di kursi menghadap meja dan sepenuhnya fokus pada apa yang aku tulis. Aku tidak melihat apapun yang lain, aku tidak memikirkan apapun yang lain,” ujarnya.

Setelah fokus, Murakami menyebut daya tahan. “Setelah kamu berkonsentrasi pada apa yang kamu tulis 3 atau 4 jam dan merasa letih setelah melakukannya satu minggu, kamu tidak akan mampu menulis karya yang panjang,” katanya lagi. Lagi-lagi daya tahan yang panjang. Apa yang diperlukan penullis fiksi, setidaknya orang yang berharap menulis novel, kata Murakami, ialah energi untuk fokus setiap hari sepanjang setengah tahun, satu tahun, atau malah dua tahun.

Untungnya, fokus dan daya tahan berbeda dari bakat, keduanya dapat dipertajam melalui latihan. Seperti maraton, mula-mula kita sanggup berlari 5 km, lalu 10 km, hingga 42 km. Untuk sanggup berlari hingga 42 km, kita perlu berlatih berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. (sumber foto ilustrasi: wordstream.com) ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.