Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Olahraga  
Raket
indonesiana-tempoid-default
Steven Handoko 
Sabtu 16 April 2016 12:03 WIB
Dibaca (3782)
Komentar (0)

Tenis Bukan Hanya Menunggu Bola

indonesiana-DSC02058.JPG

Pria berbadan pendek itu menarik satu keranjang besi yang dipenuhi bola tenis. Di tengah aspal bercat hijau, ia mengambil sebuah bola dan melambungkannya ke salah satu murid di sisi lain jaring. Ia adalah Abdul Hanan, instruktur tenis di Lapangan Tenis Flamboyan, Jalan Flamboyan Raya, Sunter, Jakarta Utara, yang dulu lebih dikenal sebagai Kampus Tenis Hadiman.

Hari itu ia mengajarkan teknik memukul bola, mulai dari bagaimana memegang raket hingga bagaimana mengayunkan. Setelah bola tersebut dipukul muridnya, ia bergerak perlahan mendekati bola dan memukulnya kembali. Berkali-kali sang murid kewalahan membalas pukulan sang guru.

Selama 26 tahun Hanan menjadi instruktur tenis, ia telah melatih puluhan anak didik. Salah satunya adalah Suryaningsih, atlet tenis nasional yang mencapai peringkat empat nasional putri pada April 2015. “Waktu kecil, dari nol sama saya dulu. Itu sekeluarga tuh dari kecilnya awalnya dari saya juga,” ujarnya mengingat mengajar keluarga Suryaningsih.

Sama dengan Suryaningsih, pria 48 tahun itu memulai karir dari usia muda. Ia datang ke Jakarta dari Sukabumi bersama ayahnya di tahun 1980. Seringnya kunjungannya ke lapangan tenis menyebabkan pelatih tenis di tempat itu melatihnya dengan sukarela. Hanan yang lebih tertarik dengan sepakbola saat itu awalnya ragu dengan olahraga yang baru ia kenal.

Di tahun 1985, Hanan mengikuti pelatihan nasional untuk menjadi atlet tenis. Dengan surat izin dari pemerintah, sekolahnya mengijinkan untuk berlatih tenis sementara teman-temannya belajar kurikulum standar. Selama enam jam sehari dalam dua sesi dari Senin hingga Jum’at ia berlatih di bawah panduan Achmad Moerid, ayah dari atlet tenis nasional Irawati Moerid.

Kini, tenis sudah memasuki hidup Hanan selama 24 jam. Tak hanya sebagai pelatih, ia dan ketiga anaknya juga mengurus administrasi lapangan tenis serta tinggal di gedung sebelah lapangan. Putri pertamanya, Siti Kholifah mengurus akuntansi lapangan tenis. Dua putranya, Yusuf Supendi dan Trisi Komara bekerja sebagai asistennya sekaligus ball boy, sementara Istrinya Aisyah serta putri bungsunya Diana Setiani tinggal di Sukabumi.

Lapangan tenis itu telah berdiri sejak 5 Oktober 1989 ketika ia diresmikan oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Indonesia Sarwono Kusumaatmadja. Setelah Hadiman, nama dari lapangan tersebut, meninggalkannya untuk mengajar di Kelapa Gading, lapangan itu sudah tidak bernama.

Ketika tak ada murid yang datang, lapangan disewakan dengan tarif Rp 300.000 untuk 4 sesi atau digunakan oleh anaknya bertanding dengan teman-temannya. Hanan juga sering mengikuti sparring dengan para pecinta tenis dan dibayar Rp 250.000 untuk satu jam. Ia juga sering mengikuti pertandingan antar perusahaan yang diadakan Pelindo dan Asahimas dengan bayaran bisa mencapai 2 juta/minggu.

“Kalo main tenis itu, kalo kita ceroboh, pengennya matiin lawan buru-buru, itu pasti kalah,” ujarnya ketika ditanya hal terpenting dalam tenis. Menurutnya, kesabaran dan keuletan menurutnya menjadi karakter utama yang diperlukan seorang pemain tenis. Ia juga menekankan bahwa persiapan mental tak kalah penting. “Kita menang itu bukan secara kecepatan aja. Misalnya lawan di belakang, kita drop shot ke depan. Lawan lari ke depan, kita lob ke belakang. Harus bisa nyapein lawan.”

Keranjang besi yang kini sudah kosong itu kini diangkat. Kaki-kakinya yang dibungkus dengan bola tenis mirip dengan alat bantu berjalan.  Hanan dan anaknya mengumpulkan bola di sudut lapangan yang kemudian dimasukkan kembali ke dalam keranjang. Setelah satu jam berlalu, sang murid berpamit pulang sementara sang guru bersiap untuk babak baru.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.