Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-Kadir
Kadir  Ruslan
Civil Servant. Area of expertise: statistics and econometrics. Interested in socio-economic issues. kadirsst@gmail.com.
Senin 06 Juni 2016 13:19 WIB
Dibaca (4155)
Komentar (0)

'Menghitung Ulang' Produksi Beras Kita

indonesiana-surplus.jpg

Saat menyampaikan sambutannya pada Pencanangan Sensus Ekonomi 2016 dan Pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Sensus Ekonomi 2016 di Istana Negara pada 26 April 2016 lalu, Presiden Joko Widodo kembali menggarisbawahi pentingnya akurasi data sebagai pijakan pemerintah dalam memformulasi dan mengambil kebijakan terkait berbagai persoalan strategis di negeri ini. Salah satu persoalan strategis itu adalah isu importasi beras yang kerap menyulut debat publik di berbagai media cetak, elektronik, dan dalam jaringan.

Persoalan impor beras memang pelik. Keputusan terkait hal ini mesti didasarkan pada kalkulasi yang cermat dan akurat karena konsekuensi yang ditimbulkannya tidak hanya bersinggungan dengan dimensi ekonomi, tapi juga sosial dan politik.

Secara ekonomi dan sosial, persoalan impor beras tidak hanya menyangkut nasib petani padi dan keluarganya yang tingkat kesejahteraannya bakal terkoreksi akibat jatuhnya harga gabah jika impor dilakukan pada saat produksi padi melimpah, tapi juga stabilitas perekonomian nasional dan daya beli masyarakat miskin yang bakal terganggu akibat hantaman inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga beras jika impor terlambat dilakukan.

Sementara secara politik, impor beras tentu saja menyangkut harga diri kita sebagai bangsa agraris dan komitmen politik pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan di negeri ini sebagaimana telah tertuang dalam Nawacita.

Karena itu, tanpa dukungan data yang akurat, terutama data produksi padi/beras, pemerintah bakal dihadapkan pada situasi yang membingungkan ketika hendak memutuskan akan mengimpor beras atau tidak. Hal ini diakui sendiri oleh Presiden Jokowi dalam sambutannya. “Beda-beda semua. Bagaimana saya akan memutuskan tidak impor beras, (kalau) datanya  meragukan,” kata beliau.

Produksi overestimate

Selama ini, salah satu persoalan yang kerap mengemuka terkait importasi beras adalah isu data produksi padi/beras nasional yang ditengarai tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Data, yang perhitungannya merupakan hasil kolaborasi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian itu, diduga lebih tinggi dari kondisi sebenarnya di lapangan (overestimate).

Forum Masyarakat Statistik (FMS), lembaga independen yang dibentuk oleh pemerintah untuk memberikan masukan terkait penyelenggaraan statistik resmi di negeri ini, dalam surat resminya kepada Presiden Joko Widodo  ihwal perbaikan statistik produksi beras beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa ketidakakuratan data produksi padi/beras tersebut mengakibatkan kebijakan yang diambil pemerintah—terkait beras—kurang tepat dan terlambat.

Karena itu, salah satu rekomendasi yang disampaikan lembaga yang diketuai Prof. Bustanul Arifin itu, adalah agar pemerintah dan BPS melakukan backcasting (proyeksi kilas balik) perbaikan statistik beras selama 10 tahun atau 20 tahun ke belakang. Dengan kata lain, data produksi padi/beras nasional harus dikoreksi.

Meskipun masih diperdebatkan, sebetulnya tidak begitu sulit menunjukkan indikasi kelebihan estimasi pada data produksi padi/beras nasional. Inkonsistensi dalam perhitungan neraca (produksi dan kebutuhan) beras nasional adalah salah satunya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, misalnya, produksi beras nasional selalu berlebih (surplus) setelah dikurangi kebutuhan beras untuk konsumsi penduduk. Surplus beras tersebut secara umum juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun lalu, surplus produksi beras nasional bahkan diperkirakan mencapai 13 juta ton jika menggunakan angka konsumsi beras per kapita sebesar 114,8 kg/tahun.

Jika diakumulasikan, surplus produksi beras nasional sepanjang 2005-2015 mencapai lebih dari 80 juta ton. Itu artinya, Indonesia mestinya telah menjadi negara eksportir neto beras seperti halnya Vietnam dan Thailand dalam sepuluh tahun terakhir. 

Namun faktanya, data menunjukkan sebaliknya. Dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia selalu mengimpor beras yang kuantitasnya juah lebih tinggi dibanding beras yang diekspor ke luar negeri. Dengan kata lain, selama ini Indonesia adalah negara importir neto beras. Pada 2011, misalnya, impor beras kita mencapai 2,75 juta ton meski pada saat yang sama surplus produksi beras nasional diperkirakan mencapai 6,75 juta ton dan akumulasi surplus beras dari tahun 2005 nyaris mencapai 37 juta ton.

Koreksi data

Indikasi kelebihan estimasi pada data produksi padi/beras nasional juga terkonfirmasi oleh hasil Survei Kajian Cadangan Beras (KCB) yang dilakukan BPS bekerjasama Badan Ketahanan Pangan-Kementertian Pertanian pada tahun lalu. Hasil survei memperlihatkan bahwa stok beras nasional, yang tersebar di rumah tangga, pedagang, penggilingan padi, industri dan horeka, dan Bulog, mencapai 8,85 juta ton pada 30 September 2015.

Angka tersebut sebetulnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa surplus produksi beras nasional sebesar 13 juta ton pada 2015 terlalu tinggi. Hasil perhitungan dengan menggunakan angka konsumsi beras per kapita sebesar 114,8 kg/tahun dan stok beras pada 30 September sebagai patokan memperlihatkan bahwa surplus produksi beras nasional pada tahun lalu hanya sekitar 5-6 juta ton.

Karena itu, koreksi terhadap data produksi padi/beras nasional merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar lagi. Dan terkait hal ini, potensi munculnya resistensi dari pihak-pihak yang selama ini kinerjanya dievaluasi berdasarkan perkembangan data produksi padi/beras nasional harus menjadi fokus perhatian pemerintah. Konflik kepentingan harus disisihkan oleh mereka yang selama ini berkepentingan dengan besaran angka produksi padi/beras nasional.

Kepercayaan penuh juga harus diberikan kepada BPS dalam melakukan koreksi data produksi padi/beras nasional. Dalam sambutannya pada Pencanangan Sensus Ekonomi 2016 dan Pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Sensus Ekonomi 2016, Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa semua statistik resmi untuk penentuan kebijakan di negeri ini harus berasal dari satu sumber: BPS. "Kementerian ini ada proyek survei, kementerian ini ada proyek cari data, kementerian ini ada proyek cari informasi. Enggak. Stop! Stop! Stop! Satu data yang sekarang kita pakai, BPS," ujarnya.

Karena itu, apa pun angka yang dihasilkan oleh BPS dalam melakukan koreksi data produksi/beras nasional harus diterima oleh semua pihak sebagai rujukan dan pegangan bersama, meskipun secara politik bakal menyakitkan. (*)




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.