Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

indonesiana-tempoid-default
Irfantoni Listiyawan
Senin 06 Juni 2016 15:16 WIB
Dibaca (1105)
Komentar (0)

Sepenggal Risalah Bijak Sang Guru Bangsa

indonesiana-FB_IMG_14643335563171.jpg

Sosok K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah kontemporer Indonesia pasca era reformasi. Presiden ke-4 periode 1999-2001 yang menggantikan B.J Habibie lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940. Gus Dur tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga santri. Kakek dan ayah beliau adalah salah satu tokoh intelektual islam negeri ini, tak heran jika bakat intelektual mereka tertanam dalam diri Gus Dur sejak usia belia.

Sepanjang karir politiknya, Gus Dur menyimpan berbagai kontroversi diantaranya rencananya untuk membubarkan parlemen, hingga wacana membuka hubungan dagang dengan Israel yang sontak menimbulkan keriuhan. Kontroversi lainnya sebagaimana ditulis Veven SP. Wardhana dalam “Off the Record from Gus Dur, On the Record on Gus Dur” adalah usulan Gus Dur mencabut TAP MPRS nomor XXV/1966 yang berisi tentang larangan penyebaran ajaran marxisme-komunisme dan leninisme. Usulan ini lagi-lagi memancing hujatan balik dari publik. Namun, dibalik segi kontroversialnya Gus Dur memiliki gagasan dan pemikiran yang luas, kompleks dan multidimensional. Julukan Guru Bangsa pun disematkan pada diri beliau.

Tak hanya dalam urusan agama, pemikiran Gus Dur juga memiliki arah yang visioner dalam bidang kenegaraan, kepemimpinan politik, moral dan spiritual, hingga tentang demokrasi. Di era kepmimpinannya sebagai presiden RI, Gus Dur merangkul semua elemen masyarakat termasuk etnis Tionghoa. Etnis yang sempat mengalami tekanan politik di era Orde Baru pasca huru-hara 1965. Oleh karenanya, identitasnya sebagai Bapak Pluralisme melekat erat dalam dirinya. Sepenggal risalah bijak Guru Bangsa ini terangkum dalam salah satu buku berjudul “Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman : Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid”.

Wejangan Sang Guru Bangsa

Sebagai insan politik, Gus Dur pernah mengulas perihal hak bagi hakim nonmuslim untuk mengadili perkara di sebuah pengadilan agama. Selain itu pada era Orde Baru, Gus Dur mengingatkan kita semua terutama kaum muslim untuk lebih terbuka dalam menyikapi demokratisasi. Jika tidak siap, sebaiknya memang jangan turut menampilkan isu demokratisasi itu sendiri agar tidak menimbulkan harapan terlalu besar bagi orang lain. Yang menjadi sorotannya adalah seperti masalah pencalonan seorang nonmuslim untuk jabatan tertinggi di negara ini. Hal ini dijawab Gus Dur jika mengacu pada UUD 1945, itu bisa saja terwujud. Namun, raksi masyarakat bermacam-macam menyikapi jawaban Gus Dur tersebut.

Menyikapi reaksi masyarakat itu Gus Dur yang kondang dengan celetukan “gitu aja kok repot...” tidak ambil pusing. Baginya, bagaimanapun juga kita harus berpegang teguh pada produk tertulis kehidupan berbangsa dan bernegara. Daripada kita berdebat tentang tafsir sebuah undang-undang demi kepentingan sendiri, lebih baik jika kita berlatih mendisiplinkan diri untuk taat pada undang-undang itu. Demikian tutur Gus Dur.

Gus Dur juga menyayangkan sikap umat Islam yang merupakan golongan mayoritas penduduk Indonesia masih memandang negatif terhadap pihak diluar mereka. Masyarakat kita masih dicengkam oleh kemiskinan dan kebodohan, sehingga mudah untuk dirayu dan dihasut oleh isu murahan yang dapat memecah belah umat. Bagi Gus Dur, dalam menyikapi permasalahan ini hendaknya terlebih dahulu memahami sebab musabab paling dasar kemelut yang dihadapi. Gus Dur menganalogikannya dengan “tanpa mengetahui penyakitnya, tentu tak akan ditemukan obatnya dan penyembuhan tidak dapat dilakukan”. Selain itu diperlukan adanya sikap sense of belonging serta mendudukkan permasalahan yang ada secara proporsional dan menghindari sikap saling menyalahkan.

Dalam hal kepemimpinan politk, Gus Dur sebagai Guru Bangsa memberi wejangan bahwa kepemimpinan yang baik dapat membawa hasil yang baik tanpa telalu banyak menumpahkan darah. Gus Dur mencontohkan hal ini mengacu pada perjuangan Mahatma Gandhi dalam menyikapi politik kolonial Inggris. Karir sebagai pengacara ditinggalkannya, hidup enak tidak ia jalani sebagaimana pengacara kondang pada umumnya. Perlawanan tidak harus dengan angkat senjata. Sikap kepemimpinan yang sangat pribadi dari seorang pemimpin (personal leader), sangat diperlukan untuk memimpin sebuah masyarakat. Contoh lain yang digambarkan Gus Dur kaitannya dalam personal leader adalah sosok Martin Luther King Jr. yang membawa kaum kulit hitam dalam pemilihan suara, cita-cita yang terwujud setelah dua ratus tahun perjuangannya. Bagi Gus Dur sosok seperti Gandhi, Martin Luther King Jr. adalah sosok yang dihormati orang karena ia lebih besar dari kehidupannya (larger than life).

Bangsa kita adalah bangsa yang cinta damai, perubahan sosial yang terjadi diupayakan pula dengan damai. Namun mengapa perubahan yang terjadi tidak berjalan damai?. Lebih jauh Gus Dur menjawabnya, karena pemimpinnya lebih mementingkan tingkat pencapaian yang lebih besar dalam sejarah melalui konflik berdarah. Dengan kata lain, kepemimpinan mereka masih belum lepas dari kepentingan pribadi yang selalu disandingkan dengan kepentingan bangsa. Jadi kesimpulannya, bangsa kita mempunyai gaya kehidupan senang damai, tapi senang terhadap para pemimpin yang justru mengejar kejayaan pribadi.

 

Tutup Kata

 Kini, setelah beberapa tahun kepergian Gus Dur bangsa ini masih dirundung berbagai permasalahan yang tak kunjung usai. Seperti kata pepatah, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Jika para pemimpin terdahulu kepergian seorang pemimpin bangsa meninggalkan berbagai cara dari yang sedrhana hingga sesuatu yang bersifat monumental. Soekarno pergi meninggalkan warisan kebangsaan serta warisan monumental berupa karya seni seperti patung, bangunan, dan lain sebagainya. Pun dengan Soeharto, meninggalkan bangsa ini dengan berbagai kontroversi selain kebijakan nasional di bidang pembangunan serta karya monumental lainnya. Habibie mewarisi bangsa ini dengan pemikiran bidang teknologinya. Kepergian Gus Dur meninggalkan warisan pemikiran yang terus hidup dalam diri masyarakat Indonesia., terutama dalam bidang keagamaan, politik, bertoleransi dan kehidupan berbangsa dan bernegara secara bijak.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah, pemimpin tidak melulu hidup enak, menjadi pemimpin haruslah dapat menjadi panutan bagi para pengikutnya. Menjadi pemimpin juga harus bersiap untuk menjadi sengsara, seperti kata Bung Karno “Leiden is Lijden”. Semoga secuplik wejangan Sang Guru Bangsa diatas dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua terutama bagi para pemimpin agar senantiasa meimpin dijalur rel yang semestinya dalam menjadikan kehidupan bebrangsa dan bernegara yang “gemah ripah loh jinawi” dibawah panji-panji luhur merah putih.

 

Sumber tulisan diolah dari :

  • Parera, Frans M. dan Koekertis, T.Jakob (ed). 2010. Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman : Warisan Pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.
  • SP. Wardhana, Veven. “Off the Record from Gus Dur, On the Record on Gus Dur” dalamSP. Wardhana, Veven. 2013. Budaya Massa, Agama, Wanita : Risalah Budaya. Jakarta : Penerbit KPG.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.