Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bola  
Sepakbola
indonesiana-tempoid-default
Tuluswijanarko 
Jumat 24 Juni 2016 13:54 WIB
Dibaca (3023)
Komentar (0)

Berutang pada Sepak Bola

indonesiana-518080

Tulus Wijanarko

Wartawan Tempo

Dari manakah kegilaan orang-orang Amerika Latin terhadap olahraga sepak bola berasal? Jawabnya: dari Inggris.

Pada abad ke-19, Negeri Ratu Victoria itu banyak mengekspor wol, kulit, gandum, sepatu bot, hingga rel kereta api ke Argentina dan Uruguay. Saat bongkar muatan tengah dilakukan di Buenos Aires dan Montevideo, para pelaut mengisi waktu luang dengan main bal-balan di lahan-lahan kosong. Orang-orang lokal yang melihat para lelaki itu berebut bola dan menendangnya ke sana-kemari menyebutnya dengan: "Orang gila dari Inggris."

Eh, belakangan, mereka malah tertarik, dan akhirnya ikut memainkannya. Segera saja "barang" baru itu digemari banyak orang. Lalu demam ini meluas ke kota-kota lain. Ringkas cerita, akhirnya seluruh Amerika Latin keranjingan main bola. Maka, pada waktu berikutnya, selain barang-barang ekspor, kapal Inggris membawa buku peraturan sepak bola ke Amerika Latin. Saat itulah mulai dikenal kata-kata berikut: lapangan, skor, gawang, kiper, penalti, offside, dan lain-lain. Tentu saja ada banyak jalur bagaimana sepak bola kemudian menyebar ke seluruh jagat.

Sepak bola adalah olah raga yang awet. Sejak dimainkan pertama kali di Mesir berabad silam, orang tetap menggulirkannya hingga sekarang. Tak hanya untuk mengisi waktu luang, kompetisi dan turnamen resmi pun digelar teratur. Dari tingkat kecamatan sampai dunia. Semuanya menyedot perhatian. Seperti halnya Copa America dan Piala Eropa yang hari-hari ini menyita emosi kita.

Bal-balan telah menjadi milik dunia. FIFA, organisasi sepak bola dunia, memperkirakan saat ini tak kurang dari 275 juta umat manusia memainkan si kulit bundar tersebut. Belum lagi para pemain pasif, yakni para penonton, fan, atau para penyokong setia. Ditotal, jumlah para penggila bola ini mungkin bisa setengah miliar. Adakah jenis gerak badan lain yang memiliki "umat" sebanyak itu?

Tidak ribet. Barangkali itu yang membuat sepak bola digemari segala lapisan. Tak perlu tempat khusus (saat bocah kita bisa main di jalanan), juga peralatan mahal (kertas digulung pun bisa dimanfaatkan sebagai bola). Maka pemain bola bisa datang dari mana saja. Dari keluarga terdidik, seperti Mario Goetze, atau dari daerah slum, seperti Neymar.

Ini juga olah raga yang bisa dilakukan orang tanpa batasan postur badan. Si mungil Andik Vermansyah bisa sama (atau lebih) hebat dengan Rudy Keltjes yang tinggi-besar. Dalam basket, misalnya, pemain semungil Lionel Messi pasti tak akan mendapat tempat. New York Times pernah menulis, mereka yang tingginya kurang dari enam kaki hanya punya kesempatan 1 banding di 1,2 juta untuk berkiprah di NBA.

Pendeknya, bal-balan adalah permainan dan olahraga yang egaliter. Siapa saja bisa main. Maka ia bisa menjadi bahasa universal. Dalam posisi seperti itu, sepak bola punya peluang difaedahkan untuk hal-hal lebih besar, misalnya kemanusiaan. Itulah yang dilakukan Che Guevara dengan melatih para kuli di Peru dan menginisiasi pertandingan antara penderita lepra dan non-lepra. Atau di era modern ini juga dilakukan aktivis Abhijeet Barse dengan menggerakkan liga kawasan kumuh di India.

Sepak bola, dengan demikian, sangat mampu malampaui definisi sempit tentang olahraga. Seperti yang sedikit filosofis pernah dikatakan Albert Camus: "Semua yang saya tahu tentang moralitas dan kewajiban laki-laki, saya berutang kepada sepak bola."

Tulisan ini sudah dimuat di Koran Tempo edisi 24 Juni 2016




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.