Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bola  
Sepakbola
indonesiana-tempoid-default
Dwi Riyanto Agustiar - Redaksi TNR 24122008 Agustiar
Sabtu 25 Juni 2016 23:46 WIB
Dibaca (2898)
Komentar (0)

Terjepit karena Brexit

indonesiana-518300

LONDON - Di tengah-tengah perhelatan Piala Eropa, Inggris tiba-tiba membetot perhatian. Bukan karena tim Inggris asuhan Roy Hodgson bermain hebat, melainkan gara-gara hasil referendum yang menginginkan negeri itu keluar dari Uni Eropa, yang dikenal sebagai Brexit. Hasil referendum pada Kamis lalu menyatakan 51,9 persen pemilih menghendaki Inggris meninggalkan Uni Eropa. Sisanya bertahan.

Tak pelak, masalah pun muncul. Tak hanya soal politik dan ekonomi, tapi juga Liga Primer Inggris. Ini yang ditakuti banyak orang di sana. Jauh sebelum jajak pendapat digelar, Kepala Eksekutif Liga Primer, Richard Scudamore, sudah mewanti-wanti para pencinta sepak bola Negeri Ratu Elizabeth II agar memberikan suara mendukung Inggris tetap menjadi bagian Uni Eropa.

Alasannya, kata Scudamore, keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan mempengaruhi kualitas kompetisi liga utama mereka. "Ada keterbukaan di Liga Primer, sehingga akan benar-benar aneh jika kami mengambil posisi yang berlawanan," kata Scudamore.

Hal senada diungkapkan Arsene Wenger, yang ikut menandatangani surat terbuka agar Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa. Kekhawatiran Wenger kini sudah di depan mata, karena harapannya bahwa Inggris tetap bertahan di Uni Eropa sirna. "Saya percaya dunia hanya akan bertahan jika kita mencoba bekerja bersama-sama, itulah yang saya percayai," kata Wenger sebelum pemungutan suara.

Ragam tanggapan itu memang wajar. Sebab, dengan adanya Brexit, jelas liga sepak bola Inggris akan terjepit. Selama ini, pemain berpaspor negara-negara Uni Eropa bisa bebas bermain di sana. Kelak, saat Inggris tidak lagi menjadi anggota himpunan tersebut, mereka menjadi pemain asing yang terkena kuota pembatasan. Pun sebaliknya dengan pemain Inggris yang bermain di luar Liga Inggris. Mereka dianggap sebagai pemain asing.

Dari segi fulus, sebentar lagi biaya operasional klub-klub Inggris diperkirakan membengkak. Setidaknya, klub harus membayar premi 10 persen lebih tinggi jika mereka ingin bersaing dengan klub-klub lainnya di seluruh dunia dalam hal biaya transfer dan gaji. Contohnya transfer Paul Pogba, yang harga potensialnya mencapai 160 juta euro. Nilai transfernya ke klub Inggris sebelum referendum yang sekitar 113 juta pound sterling bisa mencapai 145 juta pound sterling.

Menurut pengamat keuangan Keith Harris, pemain-pemain top semacam N'Golo Kante, Anthony Martial, Romelu Lukaku, dan Dimitri Payet juga tidak akan diizinkan bergabung dengan klub Inggris. Sebelum referendum, para pemain dari negara-negara Uni Eropa itu dapat mencari nafkah di Inggris tanpa izin kerja. Kini, mereka harus mengikuti aturan yang dibuat Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) untuk pemain asing.

"Meskipun efek baru akan terasa dalam beberapa tahun," kata Harris, yang membantu mengawasi penjualan pemain sejumlah klub, di antaranya Chelsea dan Manchester City. "Saya jadi bertanya-tanya, apa menariknya Liga Primer dengan klub tanpa pemain-pemain top. Itu yang menjadi spekulasi saat ini."

Daniel Geey, dari firma hukum Sheridans, mengatakan hasil referendum Inggris membuat biaya transfer meningkat dan dibutuhkan aturan izin kerja baru bagi klub Liga Primer. Klub pun dalam bahaya kehilangan pemain remaja berbakat dari Eropa.

Pasal 19 Statuta FIFA tentang status dan transfer pemain memungkinkan transfer anak di bawah umur antara usia 16 dan 18 tahun dalam Uni Eropa atau Wilayah Ekonomi Eropa (EEA). Setelah Inggris tak lagi ikut Uni Eropa, akademi-akademi terkemuka di Liga Primer seperti Chelsea dan Manchester City, akan kesulitan mengimpor pemain muda dari klub-klub Eropa.

Geey mencontohkan, pemain yang tidak lagi bisa merumput di Liga Primer adalah Hector Bellerin, yang bergabung dengan Arsenal sejak berusia 16 tahun.

Adapun pemain seperti N'Golo Kante di Leicester City, Dimitri Payet di West Ham United, dan Anthony Martial di Manchester United akan sulit mendapatkan izin kerja. Sebab, ketika bergabung dengan klub masing-masing, mereka belum mengantongi paspor Prancis.

Namun, di antara kekhawatiran itu, ada juga sisi positif. Menurut legenda Arsenal, Sol Campbell, justru keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan menjadi titik awal upaya membantu perkembangan pemain-pemain muda Inggris yang punya talenta. "Kami melihat klub-klub Inggris saat ini terlalu banyak menampung pemain dari luar negeri yang kemampuannya biasa-biasa saja, terutama dari Eropa."

Satu hal yang membuat banyak penggemar sepak bola, termasuk di negeri ini, cukup tenang adalah hasil referendum ini tidak akan segera diterapkan. Paling cepat dalam dua tahun ke depan keputusan itu baru berlaku. Tapi, musim depan sangat tidak aman. Masih banyak pemain hebat dari Uni Eropa yang bermain di Inggris pada musim mendatang. TELEGRAPH | MIRROR | GUARDIAN | DW |




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.