Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Selasa 19 Juli 2016 20:39 WIB
Dibaca (7868)
Komentar (0)

Sebelum Darwin, al-Jahiz telah Mengusung Ide Evolusi

indonesiana-al-Jazis-bapak-biologi-dunia2.jpg

Dalam karyanya yang kerap jadi rujukan para sarjana saat membicarakan sejarah sains, yakni Introduction to the History of Science, mendiang George Sarton menarasikan: “Kitab al-Hayawan memuat bibit-bibit teori di masa kemudian, yaitu evolusi, adaptasi, dan psikologi hewan.” Muhammad Iqbal, pemikir Pakistan, menulis: “Adalah al-Jahiz yang pertama mengisyaratkan perubahan-perubahan pada kehidupan hewan yang disebabkan oleh migrasi dan lingkungan.”

Siapa yang disebut Iqbal sebagai al-Jahiz dan apa kaitannya dengan Kitab al-Hayawan yang disebut Sarton? Bila kita menelusuri sejarah pengetahuan di masa keemasan Muslim, kita akan mendapati bahwa al-Jahiz adalah penyusun Kitab al-Hayawan. Menariknya, Sarton dan Iqbal mencium aroma teori evolusi yang di masa modern selalu dinisbatkan kepada ilmuwan Inggris, Charles Darwin.

Bernama lengkap Abu ‘Uthman ‘Amr ibn Bahr al-Kinani al-Basri, lahir di Basra pada 776 M, sosok ini lebih dikenal sebagai al-Jahiz yang bermakna ‘mata bundar seperti ikan’. Dibesarkan dalam keluarga yang sangat miskin, al-Jahiz merupakan keturunan kakek berdarah Afrika—diduga berasal dari Ethiopia. Al-Jahiz kecil kerap menjual ikan untuk membantu keuangan keluarganya.

Kendati begitu, kesukaran finansial tidak menghentikan al-Jahiz untuk terus mencari pengetahuan. Di masa mudanya, bersama kawan-kawannya, ia kerap mendiskusikan topik-topik berbagai pengetahuan di masjid utama kota Basra di Irak. Ia juga kerap menghadiri ceramah tentang filologi, leksikografi, maupun puisi—bidang yang ia pelajari bertahun-tahun kemudian beserta sejarah Arab pra-Islam serta al-Quran dan Hadis.

Al-Jahiz kemudian tekun menuangkan gagasannya tentang beragam topik, termasuk tata bahasa Arab, zoologi, puisi, leksikografi, dan retorika. Ia dikenal sebagai penulis pertama yang membahas secara lengkap sistem gramatika bahasa Arab. Ketika kekhalifahan Abbasiyah berkuasa dan Baghdad menjadi ibukotanya, al-Jahiz pindah ke kota ini. Khalifah al-Makmun mendorong ilmuwan dan sarjana untuk melahirkan karya mereka.

Selain Kitab al-Hawayan (Kitab tentang Hewan), al-Jahiz menulis sejumlah kitab, di antaranya Kitab al-Bukhala (Buku tentang si Tamak) berupa kumpulan cerita tentang keserakahan dalam nada satir; lalu Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (Buku tentang Kefasihan dan Penampilan) yang membahas kemampuan berpidato, kepemimpinan, dan para pangeran; serta Risalat mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Risalah tentang Orang Hitam) yang membahas orang-orang berkulit hitam yang dianugerahi beragam bakat, termasuk dalam musik—mampu mengikuti irama tamborin tanpa perlu belajar lebih dulu.

Kitab al-Hayawan berupa ensiklopedi tujuh jilid yang berisi anekdot, diskripsi puitis, dan pepatah tentang lebih dari 350 jenis hewan. Karya yang disertai gambar-gambar ini merupakan buku pertama yang membahas berbagai aspek biologi dan zoologi hewan, seperti klasifikasi hewan, rantai makanan, seleksi alam, dan evolusi.

Al-Jahiz menulis perihal hewan yang lebih besar menakuti hewan yang lebih kecil. Hyena bisa menakuti rubah atau hewan yang lebih kecil. Hewan kecil tidak memakan hewan yang lebih besar. “Ini hukum eksistensi,” tulis al-Jahiz dalam kitabnya. Al-Jahiz juga menguraikan ihwal mimikri, cara hewan berkomunikasi, maupun tingkat kecerdasan serangga dan hewan lainnya.

Banyak sarjana terkejut mengetahui bahwa al-Jahiz mendiskusikan tiga isu penting yang ditulis Charles Darwin dalam The Origin of Species, yakni tentang hewan-hewan yang berjuang untuk hidup, transformasi spesies, dan pengaruh-pengaruh lingkungan terhadap kehidupan hewan. Menurut al-Jahiz, spesies dapat mengalami transformasi yang dalam jangka panjang memunculkan spesies baru.

Kitab al-Hayawan menjadi acuan para ahli hewan dan pemikir evolusi di Eropa. Miguel Asin Palacios, seorang ilmuwan dan pendeta Katolik, mengatakan, Kitab al-Hayawan sangat penting bagi perkembangan sains, khususnya zoologi. John William Draper, sarjana sezaman Darwin, bahkan menyebut gagasan al-Jahiz sebagai Mohammadan Theory of Evolution.

Darwin diketahui mengenal bahasa Arab dan memiliki akses langsung ke kepustakaan berbahasa Arab. Ia kerap mengunjungi pusat budaya Islam di Fakultas Keagamaan Universitas Cambridge. Boleh dikata, menurut Muhammad Sultan Shah, ketua Departmen Studi Islam, G.C. University, Lahore, Darwin mendapatkan bahan-bahan untuk mendukung teorinya dari kepustakaan timur.

Gagasan al-Jahiz tentang mekanisme evolusi dan transformasi spesies dianggap memengaruhi sarjana Muslim lain seperti ad-Damiri, al-Biruni, Ibn Tufail, maupun Ibn Khaldun. Al-Jahiz adalah murid al-Nazzam yang diduga Sarton mengusung ide evolusi. Iqbal juga sangat menghargai gagasan evolusi al-Jahiz dan menganggapnya sebagai evolusionis pertama di dunia Islam. Sarjana Barat lainnya, J.Z. Wilezynski, dalam artikelnya On the presumed Darwinism of eight hundred years befor Darwin, berusaha membuktikan bahwa al-Biruni mengajukan gagasan evolusi yang serupa dengan ide Darwin.

Perbedaan antara teori evolusi al-Jahiz dan teori evolusi modern terletak pada pengakuan ilmuwan Muslim bahwa evolusi merupakan proses yang disiapkan Sang Pencipta. Ibn Miskawaih, yang juga membahas evolusi hewan dengan lebih rinci, meyakini bahwa seluruh proses maupun makhluk-makhluk yang mengalaminya berutang eksistensi kepada Tuhan. (ilustrasi dalam Kitab al-Hayawan) ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.