Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Rabu 20 Juli 2016 23:20 WIB
Dibaca (4445)
Komentar (0)

Sarapan Bersama CEO

indonesiana-sarapan_bersama_ceo.jpg

Kenalkah orang tertinggi perusahaan tempat Anda bekerja dengan Anda yang bertugas sebagai staf sumberdaya manusia? Anda barangkali mengenal bos tersebut, walau pun tidak secara langsung dan dari jauh—kenal nama, tidak secara pribadi. Sebaliknya, bos sangat mungkin tidak mengenal Anda, bahkan apabila perusahaan tempat Anda bekerja hanya memiliki karyawan kurang dari 50 orang. Apa lagi jika Anda bekerja di perusahaan yang mempunyai ribuan karyawan. Bisa jadi, di hadapan bos tertinggi, Anda hanyalah angka, kecuali Anda sedang membubuhkan prestasi yang sangat menonjol.

Banyak pimpinan perusahaan yang tidak pernah berbicara langsung dengan staf di jenjang bawah, sekalipun satu kali saja dalam lima tahun ia menjadi CEO. Ketiadaan waktu menjadi satu alasan yang kerap dikemukakan. “Kalau saya mesti berbicara secara personal dengan setiap pegawai, berapa hari mesti saya habiskan untuk itu?” ujar seorang direktur.

Bertemu dan berbicara dari hati ke hati dengan pegawai dianggap pemborosan. Sebagai gantinya, sang dirut memilih untuk bertemu dengan ratusan orang sekaligus dalam suatu ruangan untuk menyampaikan perubahan kebijakan. Sekali bertemu, keputusan direksi tersampaikan. Efisien, menurut mereka. Namanya bisa pengarahan, briefing, atau apapun. Bahkan, yang menyampaikan pun mungkin bukan direksi, melainkan manajer terkait.

Para pimpinan perusahaan yang berpikir seperti ini melupakan satu hal, bahwa pegawai—apapun jabatannya—‘juga manusia’. Bob Seelert, pimpinan puncak perusahaan periklanan kelas dunia, Saatchi & Saatchi, sangat memahami pentingnya sentuhan kemanusiaan dalam hubungan antara pimpinan dan karyawan yang tidak menempati posisi manajer, yang jarang sekali berbicara langsung dengan direksi. Steerlet merasakan betul bahwa sebagai CEO ia tidak cukup hanya kerap bertemu dengan jajaran direksi dan manajer senior.

Dua kali seminggu, Seelert mengadakan kegiatan rutin yang ia sebut “Sarapan Bersama Bob”. Ini merupakan acara sarapan bersama antara Seelert dan 400 orang karyawan di kantor pusat Saatchi & Saatchi. Tentu saja ia mempertimbangkan soal efisiensi waktu. Namun, dengan tujuh orang setiap kali sarapan, dua kali seminggu, Seelert telah bertemu dengan seluruh karyawan dalam waktu 29 minggu—kurang lebih tujuh bulan.

Sarapan bersama CEO perusahaan merupakan kesempatan langka bagi karyawan. Melalui sarapan bersama, Seelert berusaha mengenal karyawannya lebih dekat. Dalam kesempatan seperti ini, ia bukan hanya berbicara mengenai beberapa hal pokok dari persoalan perusahaan, seperti kebijakan yang dia ambil dan terapkan, tapi juga mencoba mengetahui apa hobi karyawannya, anaknya sekolah di mana. Ia sendiri juga menceritakan ihwal keluarganya, kegemaran mereka melakukan perjalanan, dan bayak hal yang bersifat pribadi. Dengan menceritakan keluarganya, Seelert berusaha menunjukkan dirinya terbuka kepada bawahan sekalipun.

Dari sarapan inilah, Seelert menyerap harapan pegawai terhadap perusahaan. Ia menangkap perubahan-perubahan yang diinginkan oleh karyawannya, langsung dari mulut mereka, bukan melalui para manajernya. Ia juga menggali apa yang disukai oleh karyawan dari perusahaan dan apa yang mereka inginkan untuk diubah.

Lewat acara “Sarapan Bersama Bob”, Seelert telah memangkas jalur komunikasi antara karyawan dan pimpinan perusahaan yang lazimnya memakan waktu lama. Ia bisa menangkap aspirasi karyawan yang selama ini terabaikan oleh para manajernya. Seelert mengatasi kepelikan birokrasi. Pengambilan keputusan mengenai hal tertentu juga dapat dilakukan lebih cepat.

Karyawan merasa senang dengan pendekatan Seelert dalam memperlakukan mereka. Cangkir kopi bertuliskan “Bob sudah sarapan bersama saya” menjadi kenangan tersendiri yang dipajang di meja kerja. Efek personalitas hubungan yang manusiawi ini terbukti membangkitkan spirit karyawan Saatchi & Saatchi dan mendongkrak produktivitas serta kreativitas mereka. Karyawan merasa ‘dimanusiakan’ oleh pimpinan perusahaan.

Dari kisah tentang kecerdikan Seelert, kita kembali kepada Anda. Sebagai karyawan, pernahkah Anda punya kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan pimpinan puncak perusahaan dan tanpa rasa cemas bakal dipecat, apapun yang Anda katakan kepada mereka? Misalnya saja, karena Anda kebelet bertanya: “Pak, maaf, benarkah gaji bersih Anda per bulan mencapai Rp 300 juta dan Anda memperoleh 20x gaji dalam setahun? Lalu masih ada bonus tahunan serta opsi saham? Juga jatah liburan bersama keluarga ke luar negeri?” (sumber ilustrasi: leaderonomics.com) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.