Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 25 Juli 2016 20:50 WIB
Dibaca (6025)
Komentar (0)

Sains-Agama: Saling Bertentangan atau Mendukung?

indonesiana-sains_agama_patheoscom.jpg

 

Salah satu eksponen yang aktif mengupayakan diskursus hubungan sains dan agama tidak lain Ian Barbour. Hingga akhir hayatnya, tahun 2013, Barbour tak letih berusaha untuk menemukan titik temu sains dan agama. Secara akademik, Barbour—kelahiran Beijing, 1923—terdidik sebagai fisikawan hingga jenjang doktoral. Minatnya yang luar biasa terhadap agama dalam hubungannya dengan sains mendorong Barbour untuk memikirkan kerangka bagi model interaksi antara dua bidang yang kelihatannya terpisah ini.

Kontribusi pentingnya yang pertama ialah Issues in Science and Religion, karya yang diterbitkan pada 1966 dan dianggap telah meletakkan dasar pada upaya memahami relasi sains dan agama. Sejak itu, ia mengeksplorasi berbagai kemungkinan relasi keduanya, tentu saja dalam konteks keyakinan religinya. Dalam buku lainnya, Religion in an Age of Science, Barbour mengembangkan model empat pendekatan hubungan sains dan agama, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi.

Konflik merupakan pendekatan pertama hubungan sains dan agama. Para penafsir-harfiah kitab suci percaya bahwa teori evolusi bertentangan dengan keyakinan agama. Sementara itu, ilmuwan ateis mengklaim bahwa bukti-bukti ilmiah atas teori evolusi tidak sejalan dengan keimanan. Dua kelompok ini bersepakat bahwa orang tidak bisa memercayai Tuhan dan teori evolusi secara serentak kendatipun mereka tidak bersepakat dalam hal yang mereka yakini. Bagi mereka, sains dan agama bertentangan.

Pendekatan kedua adalah independensi. Menurut pandangan ini, sains dan agama merupakan dua ranah independen yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan ‘jarak aman’ satu sama lain. Semestinya tidak perlu ada konflik karena sains dan agama berada di domain yang berbeda. Pernyataan sains dan pernyataan agama juga memiliki bahasa yang tidak bisa dipertentangkan karena masing-masing pernyataan melayani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia dan berusaha menjawab persoalan yang berbeda.

Dialog merupakan pendekatan ketiga. Upaya dialog dilakukan dengan membandingkan metode kedua bidang ini, yang dapat menunjukkan kemiripan dan perbedaan. Sebagai contoh, model konseptual dan analogi dapat dipergunakan untuk menggambarkan hal-hal yang tidak dapat diamati secara langsung, misalnya Tuhan atau partikel subatom. Ilmuwan dan agamawan merupakan mitra dialog dalam melakukan refleksi kritis atas topik-topik sains dan agama dengan tetap menghormati integritas masing-masing.

Pendekatan yang keempat ialah integrasi. Sebagian ilmuwan dan agamawan berusaha mencari titik temu antara sains dan agama. Dalam natural theology, misalnya, telah dikenal tradisi seputar bukti ilmiah keberadaan Tuhan. Para astronom, sebagai contoh, berargumen bahwa tetapan fisika dalam semesta tampaknya dirancang sedemikian cermat. Seandainya laju ekspansi alam semesta satu detik setelah Dentuman Besar (Big Bang) sedikit lebih kecil (daripada yang kini diketahui), alam semesta akan runtuh sebelum unsur-unsur kimia yang diperlukan bagi kehidupan terbentuk.

Model relasi sains dan agama yang disampaikan Barbour bukanlah satu-satunya pendekatan yang ada. Beberapa nama lain mengajukan pendekatan yang agak berbeda dengan model yang lebih rumit. Dapat dikata, model yang diajukan Barbour-lah yang memudahkan kita memahami hubungan-hubungan yang mungkin di antara sains dan agama. Meskipun ia berfokus pada tradisi Kristen, Barbour percaya bahwa contoh-contoh dari keempat kategori relasi itu dapat dijumpai dalam berbagai tradisi agama besar lainnya. (sumber ilustrasi: pantheos.com) ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.