Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 25 Juli 2016 22:15 WIB
Dibaca (10756)
Komentar (0)

Ketika Raksasa Yahoo! Limbung

indonesiana-Yahoo.jpg

Duapuluh dua tahun yang silam, tak lama setelah didirikan oleh Jerry Yang dan David Flo, Yahoo! (dengan tanda seru) melesat menjadi portal internet yang paling terkenal kendati pada masa itu ada MSN, Alta Vista, Excite, dan Lycos. Layanan e-mail Yahoo sangat populer di seluruh dunia. Orang-orang senang ngobrol melalui Yahoo Messenger (YM). Yahoo! tumbuh nyaris tanpa kompetitor yang sebanding, hingga kemudian Google berdiri empat tahun setelah Yahoo! (1998) lalu disusul Facebook (2004).

Dalam beberapa tahun saja, Yahoo! meraih masa keemasannya. Sekitar 5-6 tahun setelah berdiri (2000), harga saham Yahoo! meroket hingga mencapai 118,75 dolar AS pada 2000 untuk kemudian anjlok pada tahun berikutnya menjadi 8,11 dolar AS menyusul kempisnya dotcom bubble pada masa itu. Kehadiran Google, yang didirikan dan dibesarkan oleh Sergey Brin dan Larry Page, menjadikan dominasi Yahoo! goyah. Cengkeraman Google semakin kuat di wilayah pencarian (searching) di Internet. Orang semakin berkurang memakai Yahoo! untuk menyusuri laman-laman di jagat maya.

Google menjadi petarung hebat bagi Yahoo!, sedangkan Facebook menawarkan pilihan menarik tentang bagaimana menampilkan diri di hadapan publik. Pengguna juga bisa berkomentar lewat Facebook. Untuk menenangkan diri, pemilik dan dewan direksi Yahoo! merekrut Carol Bartz dengan tugas melakukan perubahan internal perusahaan menghadapi perubahan lingkungan industri dan pasar.

Saat dilirik Yahoo! untuk menggantikan Jerry Yang sebagai CEO, Bartz memang tengah cemerlang oleh karena keberhasilannya memimpin Autodesk sehingga mampu mendongkrak penjualan perusahaan dari 200 juta dolar AS menjadi angka milyaran. Keberhasilan di Autodesk, perusahaan penghasil beragam produk perangkat lunak untuk komputer, menjadikan Bartz calon ideal untuk menempati posisi CEO Yahoo!

Namun, agaknya pemilik Yahoo! kurang mencermati faktor lain yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan. Di Autodesk, Bartz sukses mengelola investor maupun membesarkan bisnis perusahaan karena pasar tumbuh cepat, tapi ia tidak berpengalaman dalam menemukan produk baru maupun sumber penghasilan baru—sesuatu yang diperlukan oleh Yahoo! karena lingkungan berubah. Pengalaman Bartz di Autodesk tidak menyiapkannya untuk menghadapi tantangan berbeda di Yahoo! yang memerlukan jalan pertumbuhan baru.

Setelah 30 bulan memimpin Yahoo!, Bartz tak lagi menduduki kursi CEO perusahaan ini. Bartz rupanya bukan orang yang tepat untuk perusahaan ini. Ini mengingatkan pada pikiran Clayton Christensen, guru besar manajemen, yang mendukung ide “merekrut manajer sebaiknya dengan school of experience yang tepat’. Saat hendak merekrut, janganlah memilih orang atas dasar keberhasilannya di tempat lama, melainkan ia berhasil dalam menghadapi tantangan seperti apa. Intinya: keberhasilan masa lalu tidak selalu merupakan indikator yang tepat bagi keberhasilan di masa depan.

September 2011 merupakan bulan terakhir bagi Bartz untuk menempati posisi CEO Yahoo!—Bartz menjabat selama 2 tahun 9 bulan saja karena dianggap tidak mampu memperbaiki kondisi perusahaan. Ia digantikan untuk sementara oleh Timothy Morse, Chief Financial Officer, dan tidak lama kemudian Scott Thompson menjadi CEO definitif pada Januari 2012. Thompson hanya bertahan hingga Mei 2012 dan digantikan oleh Ross Levinsohn sebagai pejabat CEO. Pertengahan Juli 2012, Marissa Mayer, eksekutif di Google, dipilih sebagai CEO definitif.

Meski juga cemerlang di tempat lama seperti halnya Bartz, Mayer menghadapi tantangan yang tak kalah pelik—teknologi berubah, lingkungan industri tumbuh cepat, konsumen semakin menuntut, dan smartphone mulai jadi kegemaran para pemakai telepon seluler.

Ketika masuk ke Yahoo!, Mayer bekerja cepat dengan melihat daftar aktivitas paling populer yang dilakukan pemakai telepon. Ia mendapati: di samping kebiasaan berbicara dan menulis-baca e-mail, pengguna telepon juga memeriksa cuaca, membaca berita, berbagi foto, memantau informasi keuangan, melihat hasil pertandingan olah raga, dan bermain game. Perbedan yang sangat mencolok dibandingkan masa-masa sebelumnya ialah mereka cenderung memakai smartphone untuk mengakses semua itu. “Untuk merebut orang-orang ini, Yahoo! harus dominan di bisnis mobile,” ujar Mayer seperti dikutip New Yorker.

Sayangnya, bisnis mobile Yahoo!—yang tergolong baru waktu itu—hanya membuahkan sedikit penghasilan. Dalam tiga bulan pertama tahun 2015, seperti ditulis Vauhini Vara di New Yorker, bisnis mobile ini menghasilkan 291 juta dolar AS; memang meningkat dibanding sebelum Mayer menjadi CEO, tapi tetap sangat kecil dibandingkan kompetitor. Dalam rentang waktu yang sama, Facebook memasukkan 4,5 milyar dolar AS. Google diperkirakan jauh lebih besar, karena Google menguasai 34 persen pangsa pasar global untuk iklan mobile, dibandingkan 17% Facebook dan kurang dari 2% Yahoo!.

Upaya Mayer untuk memperbaiki Yahoo! belum membuahkan hasil, bahkan pada awal 2012 perusahaan memangkas 14% tenaga kerjanya dan mengeksplorasi strategi alternatif. Sebelumnya, Yahoo! mengidentifikasi diri sebagai perusahaan media yang menciptakan konten—berita, pertandingan olah raga, data keuangan—yang didistribusikan secara online dengan harapan dapat menjual iklan dengan materi itu. Strategi ini tampaknya tidak berjalan sukses.

Konten ada di mana-mana, dan yang diperlukan pengguna Internet adalah mesin pencari yang cepat dan akurat; di sinilah Google merebut peluang. Pengguna memakai Google untuk menyusuri laman-laman web dan menemukan konten paling menarik. Upaya Yahoo! untuk menghimpun beragam konten dari berbagai sumber kelihatannya juga tidak mampu mendongkrak kinerja perusahaan ini. Mayer, dalam suatu wawancara, mengaku bahwa mereka gagal menangkap banyak audiens pemakai smartphone untuk konten seperti ini.

Seorang eksekutif Yahoo! mengatakan persoalan besar di bisnis mobile Yahoo! berasal terutama dari satu persoalan: tidak seperti Google dan Apple, Yahoo! bukanlah mobile operating system dan browser-nya tidak dipakai secara luas. Ibaranya, Yahoo! tidak punya ‘pintu depan’ yang membuat pemakai smartphone dapat mengakses layanan dan aplikasi Yahoo!. Google punya Android.

Yahoo! tampaknya memang terlambat untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang berlangsung cepat, termasuk kebutuhan dan keinginan konsumen. Perusahaan masih punya jutaan orang yang memakai layanan e-mail dan sebagian di antaranya mungkin masih memakai browser Yahoo!, tapi keunggulan ini dengan cepat menguap karena kebiasaan orang bergeser dengan lebih mengandalkan smartphone—wilayah di mana produk Yahoo tidak berhasil karena sejumlah alasan teknis. Lebih banyak orang mengandalkan mesin pencari Google.

Facebook lebih cerdik dalam mengambil keuntungan dari pergeseran itu meski tidak punya bisnis mobile, operating system, maupun browser. Perusahaan milik Mark Zuckerberg ini kemudian mengakuisisi Instagram dan WhatsApp dan mengubah fitur Messenger-nya menjadi stand alone application.

Mayer, yang cemerlang di Google, tidak berhasil menuntaskan tugas yang diberikan kepadanya saat direkrut. Sebagai eksekutif, Mayer menyadari adanya realitas baru, tapi mengemudikan raksasa Yahoo! untuk menempuh jalan baru terbukti tidak semudah yang ia bayangkan di tengah tekanan para investor yang sudah tidak sabar lagi melihat kinerja perusahaan. Situasi semakin tidak mudah bagi Yahoo! hingga akhirnya minggu ini tersiar kabar bahwa Verizon, operator telekomunikasi di AS, sepakat untuk mengakuisisi Yahoo! dengan nilai 4,8 milyar dolar AS atau sekitar Rp 63 trilyun.

Raksasa pun limbung bila tak sigap menghadapi berbagai tantangan di tengah arus perubahan yang cepat. **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.