Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Metro  
Metro Sudut
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 25 Juli 2016 23:38 WIB
Dibaca (4750)
Komentar (0)

Lelaki Tua dan Sedekahnya

indonesiana-pemulung_tempo.jpg

 

Terkadang saya tidak segera cukup mengerti apa yang sedang terjadi di sekeliling saya. Seorang pedagang gorengan terpaksa menyingkir dari trotoar karena pemkot ingin menjadikan kotanya bersih (sebentar lagi tim penilai Adipura akan datang meninjau, ujar pedagang itu menirukan petugas RT). Pedagang itu mencari penghasilan tanpa fasilitas pemerintah. Ia menciptakan lapangan kerja sendiri, ia bekerja dengan kaki dan tangan sendiri. Namun, tekanan hidup sebesar itupun belum cukup, ia harus menyingkir—setidaknya beberapa hari ke depan.

Namun, setelah pembongkaran lapak berlangsung, lelaki tua itu tak terlihat lagi, bahkan hingga sekarang, beberapa minggu kemudian. Saya berusaha memahami perkataannya beberapa bulan yang lampau bahwa terkadang hidup berjalan tidak seperti yang kita harapkan. “Kita ingin berjalan ke kanan, arus kehidupan membawa kita ke kiri, dan kita mungkin tak sanggup menolaknya,” tutur lelaki itu suatu ketika, beberapa bulan lalu. “Tapi saya jalani saja. Marah dan menggerutu tidak akan mengubah keadaan, den.”

Sebelum tersingkirnya lelaki pedagang gorengan itu, saya juga kehilangan lelaki tua lain yang sehari-hari berjualan kupat tahu. Saya tak pernah meminta lebih, tapi ia selalu memberi porsi kupat tahu lebih banyak ketimbang kepada pembeli lain. Sayangnya, ia tak mau dibayar lebih dari semestinya. Ini menempatkan saya dalam posisi dilematis: membeli lagi kupatnya atau membeli ke pedagang kupat lainnya sebab tak enak selalu diberi porsi lebih.

Tapi, barangkali itulah cara lelaki tua itu bersedekah—memberi kupat tahu lebih dari porsi standar yang berbayar. Ia tidak pernah mengatakan ingin bersedekah, sebab itu dapat menurunkan nilai sedekahnya—setidaknya barangkali itulah yang secara tersirat pernah ia sampaikan: “Saya tidak tahu apa yang mesti saya sedekahkan. Mungkin hanya sepotong tahu atau seiris ketupat. Saya malu, tapi mau bagaimana lagi, penghasilan saya sedikit, sementara saya juga ingin bersedekah. Biarpun sedikit, sedekah meringankan hidup saya.”

Pedagang kupat tahu itu kini entah kemana. Saya tidak pernah melihatnya lagi. Kabar yang saya dengar, ia telah berpulang, tanpa mewariskan harta, barangkali hanya kepiawaian meracik bumbu dan membuat kupat tahu yang enak disantap. Sayangnya, tak ada yang meneruskannya berdagang. Saya lihat, gerobaknya teronggok diam.

Saya juga pernah beberapa kali ngobrol dengan lelaki tua lainnya, tanpa mengenal nama. Setiap pagi, saya berjalan kaki dan berpapasan dengannya—ia tengah memanggul karung berisi barang-barang bekas hasil pulungan. Kelihatannya, usianya lebih tua dari saya, kecuali bila raut wajahnya yang berkerut dan terbakar panas matahari itu sekedar pertanda kerja kerasnya setiap hari di bawah langit.

Jika saya berpapasan ketika berjalan, ia selalu tersenyum dan menyapa, “Badhe kamana? (Mau kemana?).” Setiap kali berpapasan dengan bapak tua itu, peristiwa ini seperti sejenis pengingat bagi saya tentang keramahtamahan—saya tidak tahu apakah ia menyadari bahwa sapaan ramahnya adalah sedekah yang menyegarkan batin. Saya sendiri baru menyadari hal itu setelah cukup lama saya tidak bertemu dengan bapak tua itu, yang entah sekarang ada di mana: sakit, meninggal, atau pindah.

Pernah suatu ketika saya berusaha menyeberang jalan di tengah kepadatan lalu lintas, dan bapak tua itu seolah tiba-tiba saja muncul dan membantu menghentikan arus lalu lintas, memudahkan saya untuk menyeberang. “Tidak, tidak usah. Terima kasih,” ujar bapak tua itu sembari tersenyum ketika saya menyisipkan uang di tangannya sebagai tanda terima kasih. Belum lagi saya mengucapkan sepatah kata, bapak tua itu sudah berbalik pergi. “Mangga’ dèn,” ujarnya sambil berlalu.

Saya hanya dapat menduga, itulah cara dia bersedekah: tersenyum, menyapa, menyeberangkan orang, dan entah apa lagi—hal-hal yang barangkali terlihat sederhana di mata orang lain. Ia tak mau menerima imbalan kecuali untuk hasil kerjanya, memulung. Saya berusaha mencerna kejadian itu dan esoknya saya ingin mengonfirmasi hasil pencernaan pikiran itu, namun sayangnya saya tak pernah bertemu lagi dengan bapak tua itu. Saya tak tahu di mana dapat menemukannya.

Apakah para lelaki tua itu guru-guru kehidupan yang mengajar dengan cara berbeda-beda? Mungkin saja, sayangnya saya terlambat mengerti. (foto ilustrasi: tempo.co) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.