Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Sejarah
indonesiana-tempoid-default
Yati Maulana
Kamis 30 Januari 2014 18:11 WIB
Dibaca (8068)
Komentar (0)

Libur Imlek, Saatnya Mengunjungi Kawasan Pecinan

indonesiana-255337

Sudah punya rencana akan berkunjung ke mana saat libur panjang akhir pekan ini? Jika terkendala hujan dan banjir di beberapa tempat, mungkin Anda akan berpikir sekian kali untuk mengadakan perjalanan ke luar kota. Mengunjungi kawasan Pecinan, mungkin merupakan alternatif yang baik. Selain akan banyak tontonan menarik karena warga Tionghoa tengah merayakan tahun baru Cina atau Imlek, Anda juga bisa belajar sejarah kota tempat Anda tinggal. Sebab, biasanya kawasan Pecinan juga merupakan kawasan kota tua.

Bagaimana mengetahui letak kawasan Pecinan di setiap kota? Saat ini beberapa pemerintah daerah sudah menetapkan kawasan Pecinan dengan "memberi tanda" berupa pintu gerbang bertuliskan "China Town". Jangan lupa untuk berwisata kuliner dengan mampir ke beberapa kedai tua yang masih bertahan dengan sajian khasnya seperti kopi, es krim, dan kue-kue.

Berikut beberapa informasi tentang kawasan Pecinan di beberapa kota di Indonesia, yang saya himpun daari berbagai sumber:

1. Jakarta

Mungkin hampir semua orang Jakarta maupun pendatang sudah mengetahui di mana letak Pecinan di ibu kota ini. Kawasan Pasar Glodok merupakan pusatnya. Kawasan ini berdekatan dengan Kota Tua. Hal itu bisa ditandai dengan ciri khas bangunan di sepanjang Jalan Gajah Mada, berupa rumah toko tua, khas tempat tinggal dan tempat usaha warga Tionghoa yang rata-rata menjadi pedagang. Memasuki jalan-jalan kecil di belakang pasar pusat elektronik tersebut, akan makin terlihat jelas bahwa kawasan itu merupakan pemukiman warga Tionghoa dengan ciri bangunan berupa ruko. Di kawasan ini, tepatnya di Jalan Petak Sembilan terdapat sebuah klenteng, yang pasti sangat ramai saat Imlek. Pada hari-hari biasa pun jalan ini sangat ramai. Di kawasan yang sama, terdapat banyak warung atau kedai yang menyajikan makanan khas Cina seperti mie ayam, kue bulan, permen, dan manisan. Tentu saja toko obat herbal dan pengobatan tradisional Cina seperti akupuntur, juga ada di sana.

2. Bandung

Sama seperti hasil pengamatan saya, menurut situs ini, kawasan Pecinan di Bandung, tidak menonjol seperti di kota lain. Pecinan di Bandung berkembang di sekitar Pasar Baru sejak tahun 1905. Umumnya warga Tionghoa memiliki usaha dagang. Sebagian warga Tionghoa yang tinggal di Pulau Jawa berpindah ke kota Bandung pada saat terjadi perang Dipenogoro (1825). Pecinan di Bandung terlihat seperti toko–toko pada umumnya, tidak ada ciri khusus. Warganya pun beragam, tidak hanya keturunan Tionghoa.

3. Semarang

Kawasan Pecinan yang paling terkenal di Indonesia, mungkin kawasan Pecinan Semarang. Sebab di sana terdapat jejak pendaratan kapal milik Laksamana Cheng Ho yang ditempatkan di Klenteng Sam Poo Kong. Kawasan Pecinan Semarang terletak di Kelurahan Kranggan. Klenteng bersejarah lainnya di kawasan Pecinan menurut situs ini adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng yang masih mempertahankan bentuk aslinya ini, dibangun pada tahun 1746, dan bukan hanya menjadi tempat beribadah melainkan juga tempat bersosialisasi etnis Tionghoa. Usai mengeksplorasi klenteng, Anda dapat menikmati sepiring Lumpia Gang Lombok di dekat klenteng. Tak jauh dari Gang Lombok terdapat Gang Warung yang tiap Jumat hingga Minggu menjelma menjadi pusat wisata kuliner dengan nama Pasar Semawis. Pasar yang hanya buka sejak pukul 17.00 - 23.00 WIB ini berupa lapak-lapak non permanen yang menjual makanan, pakaian, aksesori, hingga lapak jasa ramal menggunakan kartu. Sangat pas waktunya jika ingin berlibur ke sana.

4. Yogyakarta

Menurut situs ini, kampung Pecinan di Yogyakarta kini sudah berganti nama menjadi Jalan Ahmad Yani, yang berada di sebelah selatan Maliobro. Mengelilingi kawasan ini, Anda akan menjumpai beberapa toko dan kios bersejarah yang berusia puluhan tahun. Terdapat kios pengobatan tradisional, tukang gigi, dan berbagai masakan khas Cina seperti bakmi, cap cay, kwe tiau, serta toko bahan-bahan kue, kain, dan aksesoris. Di ujung Jalan Pajeksan, terdapat rumah tempat berkumpul anggota Perhimpunan Fu Ching, yakni warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal atau berdagang di wilayah itu. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya saat Imlek, anggota perhimpunan menggelar acara kesenian tradisional Cina. Di kawasan itu juga terdapat toko roti bernama 'Djoen' yang berusia puluhan tahun.

5. Surabaya

Ada beberapa lokasi Pecinan di Surabaya. Namun yang cukup terkenal adalah kawasan Kya Kya, yang diambil dari bahasa Mandarin yang artinya jalan-jalan. Kawasan ini juga menjadi pusat jajan dan wisata kuliner terutama pada malam hari. Kawasan Pecinan yang juga disebut Kembang Jepun ini, hampir semua bangunannya masih mempertahankan arsitektur khas Tionghoa. Di kawasan Pecinan yang juga merupakan kawasan kota tua Surabaya ini, terdapat masjid merah Cheng Hoo, sebuah masjid dengan gaya klenteng.

6. Medan

Jalan Ahmad Yani, merupakan kawasan Pecinan di Medan. Daerah ini merupakan daerah pertokoan dan pusat bisnis pada siang hari, sedangkan pada malam hari menjadi tempat berjualan berbagai jenis makanan. Di sana terdapat rumah tua peninggalan Tjong A Fie, seorang mayor Cina di Medan yang juga miliarder pertama di Sumatera. Nuansa Pecinan seperti terwakili oleh rumah tersebut. Sedangkan tempat makan yang terkenal adalah Restoran Tiptop yang konon berdiri sejak tahun 1920-an.

7. Makassar

Pintu gerbang bertuliskan China Town di Makassar, terletak di Jalan Ahmad Yani. Kawasan itu melingkupi pemukiman warga di pusat kota, yang diapit oleh pusat-pusat keramaian yakni Lapangan Karebosi, Pasar Sentral, Pelabuhan Laut Sukarno-Hatta, Pantai Losari, dan kawasan perkantoran pemerintah Kota Makassar. Di kawasan tersebut terdapat sejumlah klenteng dan vihara yang usianya cukup tua. Hampir semuanya berjejer di Jalan Sulawesi. Sementara rumah-rumah warga Tionghoa di daerah itu, kebanyakan berbentuk rumah toko karena memang sekaligus dijadikan tempat usaha. Tapi rumah-rumah besar berarsitektur khas Tionghoa juga masih banyak. Karena merupakan pusat kota, pusat pemerintahan, dan pusat perdagangan, serta pusat wisata, tak sulit menemukan tempat makan dan jajan di kawasan ini. Mulai dari makanan khas Cina, sampai Coto Makassar, hingga hidangan laut.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.