Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bola  
Sepakbola
indonesiana-Eddi Elison
Eddi Elison 
Kamis 28 Juli 2016 19:20 WIB
Dibaca (6933)
Komentar (0)

KLB PSSI dan Sang Jenderal ~ Eddi Elison

indonesiana-504794

Para pemilik suara (voter) anggota Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang menamakan dirinya Kelompok 85 (K-85) mengklaim bahwa saat ini jumlah mereka mencapai 92 dari 108 klub atau asosiasi provinsi yang berhak bersuara dalam Kongres PSSI.

K-85 telah menyampaikan tuntutan kepada pengurus PSSI agar melaksanakan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI pada 3 Maret 2016. Namun rencana KLB baru mendapat kepastian setelah Kepala Asosiasi Anggota FIFA, Primo Corvaro, dan Kepala Asosiasi Anggota dan Pengembangan AFC, Sanjeevan Balasingam, bertemu dengan K-85 pada Juni lalu di Jakarta. Dari pertemuan tersebut, disepakati KLB harus diadakan selambat-lambatnya pada 31 Oktober 2016. Adapun KLB pada 3 Agustus mendatang hanya untuk menyusun alat kelengkapan Komite Pemilihan (tujuh orang) dan Komite Banding (lima orang). Sebelumnya, pengurus PSSI telah mencoba "mengolah" agar KLB pada 3 Agustus nanti hanya mengisi jabatan pengurus yang kosong.

Penegasan tuntutan KLB sebelumnya diperkuat K-85 setelah pada 24 Mei 2016, mereka mengadakan pertemuan dan memilih Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi, Direktur PS TNI, sebagai pemimpin K-85. Meski hal itu belum ditetapkan, komunitas persepakbolaan nasional telah beranggapan Panglima Komando Strategis Angkatan Darat tersebut digadang-gadang sebagai calon Ketua Umum PSSI mendatang, menggantikan La Nyalla Mattalitti, yang terpilih dalam KLB PSSI pada 18 April 2015 tapi tidak pernah diakui pemerintah sampai Menteri Pemuda dan Olahraga mencabut pembekuan administrasi terhadap PSSI pada 12 Mei lalu. La Nyalla saat ini berada dalam tahanan kejaksaan atas tuduhan korupsi saat menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur.

Suatu hal yang perlu didalami dan diperhitungkan K-85, jangan sampai Edy Rahmayadi menjadi korban kedua, seperti yang dialami Jenderal TNI George Toisutta menjelang KLB PSSI 2011 di Solo. Saat itu, pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua Umum PSSI, George Toisutta dan Arifin Panigoro, didukung oleh K-78, pemilik suara terbesar saat itu, sehingga duet Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan pengusaha minyak tersebut dipastikan sulit dikalahkan oleh kelompok kolaborator Nurdin Halid yang telah terpecah-pecah.

Namun, beberapa hari menjelang KLB dilaksanakan, FIFA, melalui Komite Normalisasi pimpinan Agum Gumelar, membuat keputusan yang membuat K-78 tersentak. Di luar dugaan, FIFA melarang Jenderal Toisutta dan Panigoro dipilih sebagai calon Ketua dan Wakil Ketua Umum PSSI, termasuk Nirwan D. Bakrie.

Alasan FIFA, yang saat itu dipimpin Sepp Blatter dan Jerome Valcke, Toisutta-Panigoro belum sampai lima tahun berkiprah sebagai pengurus PSSI Pusat. Bahkan, mereka disebut-sebut telah "menekan" peserta KLB melalui pimpinan militer di daerah-daerah untuk mendukung keduanya.

Argumentasi FIFA tersebut hanyalah "akal bulus" PSSI melalui "dedengkotnya", seorang tokoh yang "menguasai" pengurus PSSI dan memiliki pengaruh besar terhadap orang dalam FIFA. Sebab, kemampuan materi tokoh di belakang layar tersebut dapat mencengkeram beberapa pengurus FIFA, seperti Valcke dan Thierry Regenass, Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA. Nirwan sengaja menjadi martir demi tersingkirnya Toisutta-Panigoro karena ia sebenarnya tidak pernah bersedia dipilih sebagai Ketua Umum PSSI.

Lantaran duet Toisutta-Panigoro tersingkir sebelum sidang, K-78 tidak punya alternatif lain kecuali memilih Djohar Arifin Husin, yang menyebabkan kondisi PSSI terguncang terus-menerus tanpa prestasi sampai KLB Surabaya pada 18 April 2015.

Apa yang dialami Jenderal George Toisutta seharusnya menjadi kajian serius bagi K-85. Jangan sampai Panglima Kostrad Letjen Edy Rahmayadi menjadi korban pula bila dicalonkan nanti, karena hal ini dapat mencoreng nama Korps Baju Hijau. Apalagi, disebut-sebut pihak Istana menjagokan "anak Medan" ini sebagai calon tokoh untuk melakukan perubahan total tata kelola sepak bola nasional. Akseptabilitas Edy Rahmayadi tidak diragukan, kecuali oleh kolaborator La Nyalla.

Memang FIFA saat ini tidak lagi dipimpin oleh Blatter/Valcke yang korup, melainkan Gianni Infantino, yang disebut-sebut sebagai tokoh reformis persepakbolaan dunia. Meski demikian, tak terbantahkan bahwa perubahan sewaktu-waktu bisa terjadi. Lagi pula, apakah benar semua antek Blatter/Valcke sudah tersingkir dari kantong-kantong FIFA?

Kecermatan antisipasi dengan menggunakan teori Sun Tzu, yakni mematangkan kekuatan dan mencari kelemahan lawan, adalah mutlak. Ingat, salah seorang anggota Exco PSSI telah melempar isu bahwa terbentuknya K-85 merupakan akibat adanya "tekanan" pihak militer di daerah-daerah, bahkan sampai tingkat Panglima Daerah Militer. Persis seperti isu yang merebak saat era pencalonan Jenderal George Toisutta 15 tahun lalu.

Alergi kaum Barat (baca: FIFA) terhadap militer belum tentu sudah terkikis habis. Sementara itu, posisi sepak bola Indonesia hanya sekuku kelingking akibat non-prestasi, sehingga tidak sulit untuk dijentik dan terlontar. Semoga apa yang kami kemukakan di atas menjadi acuan dan cermin bagi semua komponen K-85, bahkan semua pemangku kepentingan persepakbolaan nasional yang tidak bosan berjuang untuk perubahan total tata kelola cabang olahraga bergengsi bagi negara dan bangsa ini.

Eddi Elison, pengamat sepakbola nasional

*) Artikel ini terbit di Koran Tempo edisi 28 Juli 2016




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.