Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Seleb  
Film
indonesiana-Bandung Mawardi
Bandung Mawardi 
Jumat 26 Agustus 2016 16:49 WIB
Dibaca (8472)
Komentar (0)

Saiful Bahri dan Tiga Dara ~ Bandung Mawardi

indonesiana-530816

Film Tiga Dara produksi tahun 1956 diputar lagi di bioskop-bioskop sejak 11 Agustus 2016. Film lawas dan pantas jadi kenangan sepanjang masa. Kita mau mengenang apa atau siapa? Sekian orang mengenang dan mengagumi para pemeran di film. Sanjungan ke sutradara Usmar Ismail tentu tak lupa diberikan dengan tepuk tangan sejenak. Penonton mungkin terkesima melihat busana dan pelbagai benda dari masa lalu di sana.

Sekian orang tentu ingin turut berdendang dan berjoget. Siapa penggubah lagu-lagu di film itu? Kita sebut nama seniman ampuh: Saiful Bahri. Pada masa lalu, Saiful adalah penggubah lagu-lagu untuk film. Dia pernah meraih Piala Citra pada 1960 untuk garapan musik terbaik dalam Tiga Dara.

Kini, kaum muda yang menonton Tiga Dara mungkin tak pernah mengetahui Saiful Bahri. Pada abad ke-21, garapan musik dalam puluhan film Indonesia telah memunculkan nama-nama baru. Daftar nama penggubah lagu dan artis terlalu panjang. Di bilik ingatan, Saiful Bahri (1924-1976) bisa cuma penggalan atas sejarah lagu dalam perfilman Indonesia. Kita patut membuka lagi kliping atau buku lawas untuk menata ingatan atas ketokohan dan pengaruh Saiful. Sumber pengisahan memang sedikit tapi menuntun kita memahami Tiga Dara dan Saiful Bahri pada masa lalu.

Buku kecil berjudul Irama Saiful Bahri diterbitkan oleh Liem Tiat Sien, Jakarta. Harganya tujuh rupiah. Buku itu berisi 15 lagu gubahan Saiful. Sekian lagu pernah tampil di film, seperti Tamu Agung, Tiga Dara, 8 Pendjuru Angin, dan Keradjaan Ibu. Buku lagu berukuran saku itu mengajak pembaca memiliki ikatan kuat dengan film. Buku itu merangsang orang berdendang untuk hiburan atau pengandaian sebagai tokoh dalam film. Lagu-lagu pelbagai irama membuat orang terharu, girang, berjoget, tertawa, dan merenung.

Lirik-lirik bernuansa Melayu mengingatkan penonton sekarang pada jiwa zaman saat lagu-lagu digandrungi di Indonesia, masa 1950-an. Nuansa itu dipengaruhi oleh posisi Saiful Bahri sebagai pemimpin Orkes Studio Jakarta-RRI dan popularitasnya di negeri jiran. Kita simak lirik lagu “Djoget Gembira.” Lagu itu riang dan membangkitkan gairah raga berjoget: Sapulah tangan penjapu tangan/ Baik diambil penjapu muka/ Alangkah tangan, alangkah tangan/ Burung dalam tangan, burung dalam tangan, orang jang punja// Airlah dalam bertambah dalam/ hati mendendam bertambah dendam... Lagu itu bercerita asmara, memberi puja dan luka tapi tetap terjalani. Film asmara semakin romantis dengan senandung perasaan sambil berjoget.

Di “Senandung Lagu Lama” kita turut larut dalam gejolak perasaan tokoh dalam film. Lirik itu puitis: Mengapa hatiku ingin berlagu rindu/Hampa sudah tjita, hilang pula harapan/Malam tiada bergema, malam membisu/Namun malam ini di malam sunji menimbulkan kenangan/Hatiku menjanjikan senandung merdu lagu lama/Ah, hanja kenangan, kenangan jang hampa/Mengapa hatiku ingin berlagu rindu/Kerna senantias terkenang padamu. Para penonton saat dimabuk asamara tentu terlena. Lagu mengena ke perasaan dan jiwa-jiwa pecinta. Lirik lagu dari masa lalu boleh dibandingkan dengan lagu-lagu romantis dalam film masa kini: Ada Apa Dengan Cinta, Ayat-Ayat Cinta, Heart, dan Ainun-Habibie. Saiful Bahri tak elok jika diremehkan.

Siapa Saiful Bahri? Kita belum mendapatkan buku memoar atau biografinya. Di buku Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982 garapan Tim Redaksi Majalah Tempo, kita mendapat secuil informasi. Saiful dilahirkan di Sumatra Barat, 19 September 1924. Beliau merantau ke Jakarta untuk bermusik. Bekerja di Orkes Studi Jakarta dan Hotel Indonesia, ia memantapkan hasrat menjadi seniman.

Pada 1950-1961, Saiful bersama Ismail Marzuki dan Iskandar membentuk grup trio. Ia bekerja di industri film dalam garapan musik-lagu. Ketenaran pun diperoleh. Saiful hijrah ke negeri jiran menjadi direktur musik di perusahaan film negara Malaysia pada masa 1970-an. Tokoh itu semakin jadi idaman para pendengar di negara-negara beradab Melayu.

Kita tak mendapat puluhan halaman untuk mengenali seniman ampuh dalam garapan musik-lagu di film Tiga Dara itu. Informasi pendek di atas agak melegakan rasa penasaran para penonton film abad ini. Pemutaran kembali Tiga Dara pantas mengantar kita untuk memberi telinga kepada lagu-lagu masa lalu. Telinga mungkin mendengar rasa aneh tapi menakjubkan. Dulu, film bersenandung itu jadi ingatan bersama untuk menandai jiwa zaman. Kini, kita menonton sambil berdendang sebagai penghormatan atas pencapaian seni film dan lagu pada saat Indonesia masih memiliki pelbagai keterbatasan modal, teknologi, dan pasar.

[*]

 

Bandung Mawardi, kritikus sastra

 

*) Artikel ini terbit di Koran Tempo edisi 26 Agustus 2016




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.