Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-Noor Huda Ismail
Noor Huda Ismail 
Senin 05 September 2016 16:06 WIB
Dibaca (4103)
Komentar (0)

Teroris Amatir dan Melek Digital ~ Noor Huda Ismail

indonesiana-534771

Salah satu hasil survei nasional tentang Islam dan terorisme yang dikeluarkan oleh The Wahid Institute yang bekerja sama dengan Indo Barometer (IB) menyimpulkan bahwa cara-cara kekerasan, baik terhadap umat beragama lain maupun untuk memerangi kemaksiatan, ditentang oleh mayoritas rakyat Indonesia (93,9 persen). Ini juga berarti negara masih ada "PR" untuk menangani sekitar 6,1 persen orang yang bersikap sebaliknya. Dengan jumlah penduduk tidak kurang dari 250 juta orang itu, maka 6,1 persen itu tentu bukan jumlah yang sedikit.

Barangkali, dengan merujuk pada hasil survei di atas, pelaku tunggal percobaan bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph Doktor Mansyur Medan, Ahad dua pekan lalu, termasuk dalam kategori 6,1 persen itu. Sebagian media menuding aksi tersebut sebagai aksi "lone wolf" atau aksi mandiri. Namun, benarkah demikian? Meskipun aksi ini amatiran, pelajaran apakah yang bisa kita petik?

Menurut pengakuan sang bapak pelaku di media massa, putranya mendapat perintah dari seseorang untuk melakukan aksi teror itu. Apakah seseorang itu terkait dengan ISIS? Sampai detik ini, pihak aparat belum bisa memastikan hal itu.

Namun, jika benar hal ini terkait dengan jaringan ISIS di Indonesia, bentuk keterlibatan ini merupakan jenis rekrutmen baru. Pelaku tidak lagi perlu menjadi bagian dari sebuah kelompok kekerasan seperti JI, JAT, atau Tauhid Wal Jihad terlebih dulu untuk menjadi pelaku kekerasan. Dalam pola baru ini, mereka hanya terhubung karena kesamaan imajinasi melalui Internet, terutama media sosial.

Ini bukan berarti pelaku kekerasan hanya terpapar oleh media sosial, kemudian terlibat sebuah aksi. Dalam masyarakat Indonesia yang sangat komunal ini, pertemuan fisik dengan pelaku yang lain masih sangatlah diperlukan. Maka, media sosial itu hanya mempercepat dan mempermudah proses radikalisasi pelaku.

Misalkan, dalam kasus penangkapan kelompok Ibadurrahman di Solo yang merencanakan aksi teror terhadap polisi, vihara, dan gereja pada Agustus 2015. Jaringan ini terkait dengan jaringan Bahrun Naim di Suriah melalui telegram. Tapi, baik Ibadurrahman maupun Bahrun Naim telah menjalin hubungan persahabatan sebelum merencanakan aksi tersebut.

Pola radikalisme seperti kasus-kasus di atas sangatlah mungkin akan menjadi tren di masa depan. Salah satu ciri pola baru ini adalah rekrutmen berlangsung sangat cepat. Walhasil, mereka hanyalah anggota "karbitan". Kemampuan serangan mereka pun amatiran. Namun, dengan semakin lemahnya ISIS di Timur Tengah karena serangan beruntun dari pasukan koalisi, para kombatan asing yang telah bergabung dengan ISIS akan bertebaran ke seluruh dunia dan secara cerdik akan menabuh genderang perang terhadap musuh ISIS. Mereka akan meradikalisasi pendukungnya di seluruh dunia melalui fatwa-fatwa kekerasan di Internet, terutama melalui media sosial.

Sasaran empuk rekrutmen mereka biasanya adalah para anak muda yang masih labil mencari jati diri dan individu yang termarginalkan secara sosial, politik, dan budaya. Marah terhadap realitas pedih kehidupan, mereka pun merelakan diri menjadi martir bagi sebuah kelompok yang mengusung jargon-jargon agama yang bombastis, seperti membangun peradaban baru di bawah naungan khilafah Islam. Mereka berprinsip "hidup mulia atau mati syahid".

Bandingkan dengan pola lama ketika pelaku selalu terlebih dulu bergabung dengan sebuah kelompok kekerasan, kemudian secara bertahap dipersiapkan baik secara ideologi maupun kemampuan mereka. Prinsip mereka yang terangkum dalam ekspresi bahasa Arab "La jihada illa bil I'dad" ("Tidak ada sebuah jihad itu tanpa sebuah persiapan").

Karena itu, hampir semua serangan teror di Indonesia selalu diikuti terlebih dulu dengan pelatihan militer secara berkelompok. Proses ini adalah fase penting saat identitas diri lebur menjadi identitas kelompok, sehingga "tekanan kelompok" menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pelaku terlibat kekerasan. Mereka akhirnya bertindak atas nama kelompok, bukan atas nama pribadi.

Seperti halnya gerakan sosial-politik yang lain, kelompok kekerasan pun menggunakan Internet untuk penggalangan dana serta membangun loyalitas kelompok yang berawal dari pertemanan online menjadi brotherhood atau bahkan perjodohan. Media mereka pun lebih eye catching (memikat) dibandingkan dengan media yang diproduksi oleh negara. Secara berkala, laman-laman situs mereka pun diperbarui dengan berita-berita yang provokatif.

Ironisnya, sampai detik ini, masih sangatlah sedikit upaya secara sistematis, baik itu dilakukan oleh negara dan masyarakat sipil, untuk melakukan "narasi tandingan" terhadap propaganda kelompok-kelompok ini. Hal ini terdengar basi, tapi itu adalah fakta penting yang perlu segera disikapi dalam jangka waktu dekat, mengingat sudah ada beberapa kasus beberapa anggota organisasi Islam moderat, seperti NU dan Muhammadiyah, yang loncat pagar dan bergabung dengan kelompok kekerasan.

Kondisi ini diperparah oleh rendahnya "melek digital" atau kemampuan membaca secara kritis informasi yang berseliweran di media digital hari ini. Maka, serangan amatiran terhadap pastor di Medan itu harus menjadi peringatan serius bahwa, untuk melawan radikalisasi pola baru ini tidak bisa hanya dilakukan sendiri oleh negara, tapi diperlukan juga kerja sama semua pihak. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menggalakkan "melek digital" di kalangan anak muda agar mereka tidak terus menjadi korban dari kampanye kebencian yang tumpah-ruah di ranah media sosial kita.

Noor Huda Ismail, Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian

*) Artikel ini terbit di Koran Tempo edisi 5 September 2016




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.