Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Nasional  
Politik
indonesiana-tempoid-default
Raisa 
Rabu 12 Februari 2014 03:56 WIB
Dibaca (3950)
Komentar (1)

Menolak Menjadi Indonesia

indonesiana-210636

Setiap kali menjelang tujuhbelas Agustus saya mendapati rasa kesal yang sama saat melihat iklan peringatan kemerdekaan Indonesia. Anak- anak bermain layang di pematang sawah, gadis- gadis dengan kemben dan sarung ikat menyuci pakaian di sungai, orang- orang tua, petani, nelayan dengan senyum sumringah diperlihatkan bekerja dengan ikhlas. Lalu semuanya ditutup dengan kalimat mengenai semangat nasionalisme di hari kemerdekaan. Biasanya adik bungsu saya berkomentar, “Wah, iklannya bagus.”

Sementara adik saya terkagum- kagum dengan iklan- iklan sejenis itu, saya lebih sering menggerutu. Saya merasa apa yang dikagumi oleh adik saya (dan mungkin jutaan orang lain di luar sana) hanya sebatas iklan yang ditampilkan berulang- ulang di televisi.

Saya tidak percaya semua anak di Indonesia riang gembira seperti yang saya lihat di iklan itu. Ada banyak anak yang tidak bisa sekolah, terpaksa bekerja, menjadi korban pelecehan sekual, dan dalam beberapa kasus menjadi korban perdagangan anak. Kalau saja saya boleh memilih, barangkali saya akan menolak untuk dilahirkan dan menjadi warga negara Indonesia.

Tapi memang saya tidak bisa memilih untuk bisa dilahirkan dimana, oleh siapa dan bagaimana. Saya lahir dan besar di Aceh, tepatnya di Banda Aceh. Saya cukup beruntung tinggal di ibukota provinsi yang pada masa konflik ‘hanya’ mendengar suara ledakan bom dan kontak senjata dari belakang jendela kamar. Pada masa itu, di beberapa daerah banyak anak yang mengalami nasib lebih buruk daripada sekedar mendengar suara ledakan atau senapan.

Terkadang mereka yang menyaksikan bagaimana orangtua mereka dibunuh secara terang- terangan juga mendapati sekolah- sekolah ikut terbakar. Bahkan setelah lima tahun kesepakatn perdamaian, masih banyak anak- anak yang menanyakan ayahnya yang belum pulang sejak masa konflik.

Sewaktu kecil, saya lebih sering merasa ‘menjadi Aceh’ ketimbang ‘menjadi Indonesia’. Saya tidak punya gambaran yang kuat tentang Indonesia kecuali video- video artis cilik di televisi, dengan baju- baju bagus dan rambut berkilat. Saya lebih sering bertanya- tanya, apakah saya yang dari Aceh juga bisa tampil di televisi seperti itu? Karena saat itu, kata- kata Aceh cuma ada di bagian berita tentang pasukan bersenjata dan orang- orang yang mati.

Ingatan saya yang lainnya tentang Indonesia adalah upacara. Saya pertama kali mengikuti upacara pada hari Senin di kelas satu sekolah dasar. Saya diharuskan memakai atribut lengkap upacara yang berupa topi, dasi, ikat pinggang, kaus kaki dan sepatu hitam. Bagi saya, upacara hanyalah kegiatan yang membosankan: berdiri di bawah terik matahari, dengan bercampur bau keringat berusaha mengerti apa yang kira- kira dibahas dalam amanat upacara. Lalu memberi hormat pada merah putih yang digerek pelan- pelan, sesuai lantunan lirih lagu Indonesia Raya oleh grup aubade.

Guru- guru saya di sekolah dasar selalu menggambarkan bendera merah putih sebagai simbol yang membanggakan seraya mengingatkan saya serta teman- teman, betapa sulitnya mengibarkan bendera itu sebelum tahun 1945. Merah sebagai simbol darah yang tumpah dan keberanian para pahlawan. Putih mewakili kesucian (dan saya tidak mengerti kesucian seperti apa?). Pada kelas lima sekolah dasar saya mendapati bendera Monaco sama persis seperti Indonesia, lalu bendera Polandia yang berwarna putih-merah. Saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa barangkali kedua negara itu memiliki pemaknaan yang sama untuk warna bendera.

Saya tidak merindukan upacara saat kegiatan itu mulai dilarang di Aceh. Saya justru senang karena saya tidak perlu terburu- buru datang ke sekolah pagi- pagi untuk mengikuti kegiatan upacara yang menurut saya sia- sia. Kelalaian saya pada upacara- upacara sewaktu kecil dan kealpaan upacara hingga sekolah menengah pertama membawa akibat yang buruk di kemudian hari.

Pada awal sekolah menengah atas, saya mengikuti pelatihan pasukan pengibar bendera (Paskibra) untuk seleksi tingkat provinsi. Meskipun saya tidak bisa membedakan kanan dan kiri secara pasti, tapi saya cukup menguasai peraturan baris berbaris dengan mengikuti gerak teman- teman; hadap kanan, hadap kiri, belok kanan dan maju jalan.

Suatu kali saya disuruh menghibur teman- teman dengan menyanyikan sebuah lagu. Sebagai calon Paskibra, saya diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya langsung gelagapan sambil melirik teman- teman, memohon bantuan. Saya menyanyikan lagu Indonesia Raya secara tidak karuan, salah bahkan pada lirik pertama. Saya tidak terpilih menjadi Paskibra, nasionalisme saya diragukan.

Menjelang tahun kedua di sekolah menengah atas, sekelompok teman- teman yang mengaku prihatin atas rendahnya ‘kesadaran cinta negeri’ meminta sekolah saya mengadakan tiang bendera untuk upacara pada hari Senin. Sebelumnya, di sekolah saya upacara hari Senin berlangsung tanpa bendera, tanpa lagu Indonesia Raya dan Hening Cipta.

Pihak sekolah lalu menyanggupi untuk mengadakan tiang bendera. Hari pertama upacara dengan tiang bendera mengakibatkan banyak teman- teman yang pingsan, termasuk para anggota Paskibra.

Upacara- upacara selanjutnya keadaan mulai menjadi biasa dengan bendera, meskipun saat anggota Paskibra menarik bendera dari lipatannya, dan berteriak ‘Bendera Siap’ bendera merah putih justru terbelit dan anggota Paskibra mengulangi lagi semuanya sampai bendera bisa terbuka secara berkibar.

Karena kejadian yang terus berulang nyaris sepanjang semester, guru- guru di sekolah kemudian ikut meragukan kesungguhan kami dalam upacara. Kami yang lalai dalam upacara dituding sebagai generasi muda yang tidak paham makna kemerdekaan yang diperjuangkan selama bertahun- tahun oleh pahlawan- pahlawan. Upacara hari Senin seharusnya menjadi renungan bagi kami, bagaimana kemerdekaan Indonesia adalah sesuatu yang sulit diraih, kata guru saya suatu kali.

Pada suatu kesempatan, saya pun meragukan nasionalisme beberapa teman dari Swiss dan Jerman yang bahkan tidak tahu judul lagu kebangsaannya. Namun mereka mengatakan bahwa mereka cinta pada negaranya bukan karena sejarah yang panjang dan kekayaannya, tapi mereka cinta pada negaranya semata- mata karena mereka pun merasa negara mencintai mereka. Bagi mereka, syarat mutlak sebuah negara dicintai adalah ketika negara tersebut mampu melayani dan menjamin kebutuhan dasar setiap warganya.

Sayangnya untuk syarat itu, Indonesia belum sepenuhnya mampu. Bentuk kekecewaan saya pada pemerintah membuat saya seringkali terlibat dalam aksi- aksi yang menuntut perhatian pemerintah untuk pemenuhan hak- hak dasar warganegara. Sambil bersorak- sorak ‘Pemerintah Tidak Becus’, dan orasi semacam ‘Untuk Apa Mencintai Negara yang Tidak Mencintai Rakyatnya?’ saya dan teman- teman menyampaikan tuntutan.

Beberapa teman yang tidak tertarik dengan aksi semacam itu pernah menanyai saya dengan pertanyaan seperti ini:

“Kenapa kalian terus- menerus melakukan aksi? Pemerintah itu sudah bekerja semampu mereka. Dan bagi kalian, semua itu tidak pernah cukup. Apa kalian yakin, jika berada dalam keadaan seperti mereka, kalian dapat berbuat lebih baik? Mengapa terus menuntut negara yang menurut kalian tidak berbuat apa- apa. Sementara, apa yang sudah kalian perbuat untuk negara ini?”

Lantas saya harus bagaimana? Saya memang pesismis dengan apa yang disebut teman saya itu sebagai ‘bekerja semampu mereka’. Kerja pemerintah yang saya lihat sejauh ini hanya kerja- kerja yang mengedepankan kepentingan operasional lembaga, kepentingan pemimpin dan masing- masing anggota. Berita- berita di televisi dengan jelas memberikan gambaran pada saya bahwa kerja- kerja pemerintah dalam menangani banyak kasus lebih sering menyerupai telenovela, berlarut- larut, mengaduk- ngaduk emosi dan sebagai penonton yang santun, saya tidak bisa berbuat apa- apa.

Lalu, mengapa saya harus bangga pada Indonesia?

Saya merasa sia- sia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh semangat dan datang ke upacara ketika pada saat yang sama saya mengetahui ada anak yang mati bunuh diri karena tidak sanggup membayar uang sekolah. Saya merasa malu melafalkan Pancasila dengan lantang, ketika saya juga mengetahui setiap sila tidak bermakna apa- apa. Apakah ada Ketuhanan Yang Maha Esa ketika sekelompok umat dilarang melakukan ibadahnya? Apakah ada Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia ketika perempuan dan laki- laki yang dituduh melakukan khalwat diadili secara massal sementara orang- orang yang dengan terang mencuri uang negara dibiarkan bebas tanpa peradilan?

Tiap tahun, saya mendapati perayaan tujuhbelas Agustus hanya berupa upacara bendera, pawai pakaian daerah dan kendaraan hias, lomba makan kerupuk dan panjat pinang. Sejarah- sejarah heroik tentang perjuangan kemerdekaan selalu diceritakan dengan gagah dan lantang, sementara refleksi bagaimana negara ini selama 65 tahun bertahan dengan susah- payah menjadi rahasia umum yang tidak perlu dibuka.

Iklan- iklan di televisi sudah cukup memberikan gambaran betapa yang layak dibanggakan dan dicintai di negara ini seakan- akan hanyalah ‘keindah-aneka-ragaman budaya Indonesia’. Sikap nasionalisme seakan- akan terbukti ketika kita melakukan voting terbanyak untuk masuknya Pulau Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. Tindakan memaki Malaysia yang ‘mencuri budaya Indonesia’ seolah mengukuhkan seseorang menjadi pahlawan bagi kelompok tersendiri.

Barangkali Indonesia memang tengah berusaha dengan susah payah untuk menjamin kelayakan hidup setiap warganya, untuk mencintai warganya, satu- persatu yang entah sial atau beruntung menjadi bagian dari Indonesia. Namun, bukankah tidak mudah untuk terus bertahan dalam keadaan ‘cinta bertepuk sebelah tangan?’

Jika tawaran- tawaran untuk menjadi bangga dan cinta pada Indonesia hanya tersedia dalam paket- paket sekejap-siap-jadi, lebih baik saya tidak menjadi Indonesia. Karena bagi saya, apa yang disebut ‘nasionalisme’ semacam itu hanya semacam topeng kaca. Terlihat indah dan menakjubkan, namun sebenarnya justru palsu sekaligus ringkih.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.