Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Seleb  
Film
indonesiana-prima dwianto
Prima Dwianto 
Selasa 18 Oktober 2016 23:16 WIB
Dibaca (6880)
Komentar (0)

Wiji Thukul, Bunga (Mawar) dan Tembok

indonesiana-490959

But wait for me, keep for me your sweetness. I will give you too, a flower (Absence). Petikan puisi karya Pablo Neruda, penyair Chili, mawar digunakan untuk mengungkapkan perasaan cinta. Mawar mengandung arti keindahan, makna yang terkandung di setiap kelopak bunganya.

Huru-hara politik Mei 1998, ketika reformasi berhasil mendobrak kuasa tirani menyisakan kisah tentang mawar yang sedang mekar namun harus dibasmi oleh mawar yang sangar. Hilangnya para aktivis, yang kini tak tentu rimbanya, memotret penegakan HAM yang tak kunjung mendapatkan eksistensinya, bak jauh panggang dari api. Perlawanan Wiji Thukul, aktivis yang turut hilang, harus berujung penghilangan yang hingga kini masih menyisakan teka-teki.

Wiji Thukul, penyair cadel asal Solo, melalui sajak puisinya berjudul “Bunga dan Tembok” mengandaikan diri dan para aktivis lainnya laiknya bunga. Seumpama bunga kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh, engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah adalah rangkaian kata-kata dalam bait pertama puisi Wiji Thukul. Lontaran kritik pedas  memang telah menjadi ciri khas diksi dalam puisinya. Ia dan para aktivis lainnya dicap berbahaya oleh rezim penguasa dan harus ditumpas.

Terbiasa hidup susah sejak kecil, menjadikan Wiji Thukul peka terhadap lingkungan sekitarnya. Ayahnya hanya seorang penarik becak dan ibunya kadang-kadang berjualan ayam bumbu. Thukul bahkan harus putus sekolah dan mencari uang sebagai tukang pelitur kayu, dekat keraton. Sejak kecil, ia aktif menjadi anggota kor Kapel Sorogenen, Solo. Meski tak tamat, ia sempat mengenyam pendidikan tari di SMKI Solo. Ia juga pernah mengikuti program jurusan seni topeng di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), yang kini menjadi ISI Surakarta.

Wiji Thukul juga aktif dalam agitasi terhadap pemerintah yang cenderung represif. Melalui tempaan Cempe Lawu Warta Wisesa, gurunya, Thukul berlatih teater dan menulis puisi. Kata “Thukul” sendiri adalah pemberian gurunya, karena nama aslinya adalah Wiji Widodo. Wiji Thukul bermakna biji yang tumbuh, sesuatu yang ia impi-impikan dalam sajak puisinya. Tempaan gurunya menjadikan Wiji Thukul memiliki sensitivitas tinggi terhadap lingkungan sosialnya. Namanya ada di garda terdepan demonstrasi buruh Sritex, Kedung Ombo, dan beberapa demonstrasi besar lainnya di Solo.

Bersama beberapa seniman, Wiji Thukul mendirikan Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker) yang berupaya memperkuat daya perlawanan rakyat. Jaker, setelah secara sepihak Thukul memasukkannya, menjadi bagian dari Partai Rakyat Demokratik pada kongres PRD, April 1996, di Yogyakarta. Wiji Thukul mulai aktif terlibat dalam politik praktis. Keterlibatannya dalam politik menjadikannya sebagai buron dan harus berpindah-pindah tempat. Bahkan Thukul sering mengubah namanya untuk menghilangkan jejak. Hingga kini, keberadaannya masih menimbulkan tanda tanya.

Nasib berbeda menghampiri tim mawar, bunga yang dikehendaki tumbuh oleh Rezim Orde Baru. Sebelas anggota Tim Mawar memang diadili karena keterlibatannya dalam penculikan para aktivis. Akan tetapi, karir mereka tak sepenuhnya tamat. Sejak 2005, beberapa mantan anggota Tim Mawar kembali aktif dalam tubuh militer. Beberapa diantaranya aktif di bidang politik maupun memimpin sebuah perusahaan. Kejahatan yang dilakukan dimasa silam seakan tak berbekas, bahkan diputihkan. Akan tetapi, akankah benih-benih mawar, yang tak dikehendaki, akan mati dan tak pernah tumbuh?

Keberhasilan film dokumenter Istirahatlah Kata-kata menyabet penghargaan film terbaik dalam ajang Apresiasi Film Indonesia 2016, di Manado, 8 Oktober lalu, kategori film panjang non bioskop, setidaknya menyiratkan bahwa semangat yang ditularkan Wiji Thukul masih tetap ada. Film besutan sutradara Yosep Anggi Noen, berkisah tentang perlawanan Wiji Thukul saat terjadi huru-hara 1998 hingga pelariannya ke Kalimantan. Film tersebut juga pernah ditayangkan di beberapa festival film internasional seperti Locarno, Vladivostok, Hamburg, dan Busan.

Film dokumenter Istirahatlah Kata-kata mencoba membingkai memori sejarah tentang betapa besarnya pengorbanan yang harus dibayar untuk menumbangkan pemerintahan yang tiran. Hampir dua dasawarsa reformasi berlalu, semangat Wiji Thukul beserta mawar-mawar lainnya masih tetap tumbuh dan menelurkan benih-benih baru. Selaras dengan sajak dalam puisinya tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji, suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur (Bunga dan Tembok) dan hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan). Bunga mawar akan tetap menampakkan keindahannya dan tembok-tembok akan runtuh.

 

PRIMA DWIANTO

Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.