Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 24 Oktober 2016 20:45 WIB
Dibaca (4796)
Komentar (0)

Banjir Pasteur, Alam Kirim Sinyal Peringatan

indonesiana-Banjir_Pasteur_Oktober_2016_Tempo-Antara.jpg

 

Hujan yang singkat, di siang hari, sanggup menjadikan Jalan Djundjunan bagaikan sungai dengan arus yang mengalir deras. Pintu masuk ke kota Bandung lewat Tol Pasteur  itu terlihat menakutkan. Pasteur pernah beberapa kali terendam air bila hujan deras turun, tapi hari ini sepertinya yang paling parah. Mobil tak sanggup menembus ‘sungai’ baru ini, bahkan ada mobil yang terbawa arus air.

Air dengan volume bermeter-meter kubik bagaikan digelontorkan oleh kekuatan besar. Alam, sejatinya, telah berkali-kali mengirimkan sinyal peringatan kepada kota Bandung, dan banjir Pasteur kali ini boleh dibilang peringatan besar. Warga Bandung diingatkan oleh alam agar segera membenahi kota tempat tinggalnya; mestikah warga Bandung menanti peringatan yang lebih besar lagi?

Air mengalir dengan mengikuti alur pikirannya sendiri: mencari tempat yang lebih rendah, meluberkan diri bila sungai tak sanggup lagi menampungnya, menerjang kian kemari bila selokan dan got terlampau kecil dan tersumbat sampah, dan berusaha menemukan tempat-tempat lain manakala area tertentu sudah jenuh oleh air. Air bergerak bagaikan organisme hidup. Menerjang terjang.

Sebagian taman di kota Bandung, terutama yang berada di pusat kota dan jadi tujuan wisata, memang dipercantik. Tapi Bandung lebih membutuhkan lebih banyak taman yang sekaligus bisa menjadi area resapan. Sekedar contoh, Terminal Cicaheum yang sejak dulu hendak dipindahkan ke pinggir kota, hingga kini masih tegak berdiri; andaikan saja terminal ini diubah menjadi taman sekaligus area resapan. Warga sekitar bisa hidup lebih sehat dan bahagia, seperti kerap didengungkan Walikota Kang Emil, sebab polusi dan kemacetan lalu lintas di sekitar bekas terminal niscaya akan turun drastis.

Sebagai kota yang semakin padat oleh permukiman, Bandung memerlukan saluran air berukuran besar serta tujuan akhir yang mampu menampung air ini—waduk dalam kota, yang sekaligus bisa jadi kawasan hijau. Atau tempat penampungan lain yang memungkinkan air ini diolah jadi bersih—kebutuhan dasar warga Bandung yang semakin tipis cadangannya (warga Bandung mungkin baru sadar kembali tentang kelangkaan air bersih ini bila musim kemarau tiba).

Bila air diberi jalan yang memudahkannya menuju kedalaman bumi, atau menuju tempat penampungan, memudahkannya dalam memberi kehidupan kepada pepohonan, serta menjadi habitat tempat hewan dan tanaman hidup, niscaya air tidak akan mengganggu manusia, apa lagi merusak, menerjang, menghancurkan, dan bahkan menyeret manusia ke alam baka.

Warga Bandung juga jangan pernah lupa kepada Bandung Utara—kawasan sejuk yang kini dipenuhi permukiman, hotel, dan restoran. Orang-orang berduit berlomba mengubah lahan-lahan di kawasan Bandung Utara, sementara itu entah apa yang dilakukan oleh pemerintah yang menaungi wilayah itu maupun pemerintah provinsi Jabar yang membawahinya agar Bandung Utara tetap terjaga.

Banjir yang menerjang Pasteur dan Pagarsih adalah peringatan yang terang-benderang tentang mendesaknya kawasan Bandung Utara dibenahi total. Tidakkah para pengampu pemerintahan (kota, kabupaten, dan provinsi) menyadari bahwa efek buruk dari ‘pembangunan’ kawasan Bandung Utara sudah terasa di Kota Bandung? Air yang tidak lagi punya tempat di lahan-lahan hijau Bandung Utara memilih untuk mengalir deras ke bawah, ke kota Bandung: Awiligar sudah pernah longsor, sebagian sungai di Bandung sudah tak mampu lagi menampung air yang mengarus dari Bandung Utara. Saya kira, mereka sudah tahu dan mengerti ihwal perkara ini, tinggal menunggu apa aksi konkretnya agar pembangunan lebih terarah dan kerusakan tidak semakin parah.

Hotel, permukiman, dan restoran sudah merambah Bandung Utara—dan jumlahnya semakin banyak. Jika yang timbul adalah efek buruk, dapatkah itu disebut pembangunan? Membenahi Kota Bandung agar tidak diterjang banjir lagi (sungguh menakutkan bila suatu ketika wilayah banjir lebih luas dari Jalan Pasteur dan Jalan Pagarsih) dan punya persediaan air bersih yang mencukupi kebutuhan warga bukanlah pekerjaan walikota seorang. Pemerintah kabupaten yang menaungi wilayah Bandung Utara maupun Pemprov Jawa Barat mesti mengambil prakarsa untuk membereskan keadaan ini sebelum menjadi bertambah buruk. Para pengampu pemerintahan toh sudah dibekali wewenang dan kelengkapan regulasi. Warga juga bisa mengambil peran.

Alam jelas sudah mengirim sinyal peringatan. Banjir Pasteur merupakan peringatan yang sangat gamblang mengenai prioritas pembenahan kota Bandung yang harus dikerjakan saat ini. Mendesak. Menyeluruh, bukan parsial. (Foto: Banjir di kawasan Pasteur/sumber: tempo/antarafoto) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.