Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Selasa 25 Oktober 2016 23:12 WIB
Dibaca (1998)
Komentar (0)

Berbagi Beban Kegagalan

indonesiana-kegagalan_tim.jpg

 
"Gagal tujuh kali, bangkit delapan kali."
--Entah siapa

 

Cobalah sesekali bertanya pada kawan-kawan Anda, “Apakah kita benar-benar satu tim?” Mungkin mereka akan serentak menjawab, “Tentu saja, ya.” Seseorang barangkali berkata, “Tidak usah diragukan lagi.” Tapi benarkah jawaban itu?

Kenyataan sehari-hari akan membuktikan apakah jawaban itu dapat dijadikan pegangan, atau sekedar pemanis bibir. Kenyataan paling mencolok ialah ketika kegagalan dialami oleh tim. Reaksi yang terjadi apabila kerja tim gagal bisa beragam: saling menuding dan menimpakan kesalahan, menggerutu bahwa waktunya mepet, atau membicarakan ketua tim sebagai salah mengambil keputusan.

Sebaliknya, tatkala keberhasilan dicapai, semua anggota tim tampak kompak. Kimiawi tim seolah betul-betul tercampur. Anggota yang mungkin sedikit kontribusinya terhadap kerja tim akan merasa bahwa ini keberhasilannya pula. Jadi ia merasa patut merayakan kesuksesan bersama seperti yang lain.

Respons yang bertolak belakang ini dapat ditelusuri akarnya pada cara kita menghadapi kegagalan. Kita kerap menganggap kegagalan bagaikan dunia mau kiamat. “Habis sudah!” begitu pikir kita yang berpandangan bahwa tim akan dimarahi big boss, yang berarti tidak akan mendapat credit point, dan ujung-ujungnya tidak akan memperoleh bonus.

Dunia kiamat? Tidak, apabila kita memperlakukan kegagalan dengan cara yang lebih manusiawi. Dan sebenarnyalah, gagal itu manusiawi. Lantaran itu, sebagai tim kita seyogyanya membiasakan diri berbagi pula kegagalan, bukan hanya berbagi keberhasilan. Sejumlah pakar manajemen menyebutkan bahwa lebih banyak hal dapat dipelajari dari kegagalan dibandingkan yang dapat dipetik dari keberhasilan.

Dengan menanggungkan kegagalan secara bersama-sama, kita berbagi beban. Kerjasama tim yang sudah merekat tidak akan renggang dikarenakan saling menimpakan kesalahan. Perbaikan atas kegagalan atau kesalahan dapat dilakukan dengan jauh lebih baik. Mengubah kebiasaan menuju budaya berbagi kegagalan ini memang tidak mudah, tapi satu langkah permulaan sudah cukup baik.

Kultur berbagi kegagalan juga akan membuat anggota tim tidak takut mengambil risiko. Tentu saja, risiko yang terkalkulasi. Tanpa keberanian mengambil risiko, tim dan orang-orang di dalamnya akan berjalan di tempat. Begitu pula, keberanian mereka patut diapresiasi. Bukankah kita kerap menyaksikan pemimpin yang berujar, “Kita harus berani mengambil risiko!” tapi kemudian meninggalkan gelanggang tatkala gagal?

Dari kegagalan, kita bisa belajar tentang batas-batas kemampuan tim untuk saat ini. Dengan demikian, risiko dapat dikalkulasi apakah kegagalan akan mampu ditanggungkan atau tidak. Bila kapabilitas sudah meningkat, tim boleh mengambil risiko yang lebih besar, sebab, biasanya, di balik risiko yang besar terdapat peluang yang besar pula.

Jadi, mulailah berbagi kegagalan sebagaimana berbagi keberhasilan. Selalu mengklaim keberhasilan tanpa berani mengakui kegagalan bukanlah sikap yang selayaknya. (Foto: tempo.co) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.