Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Kamis 27 Oktober 2016 12:16 WIB
Dibaca (4209)
Komentar (0)

Ayo, Giatkan Lagi Menulis Tangan

indonesiana-Surat_Soekarno_kepada_Soedirman.jpg

 

Papan ketik atau keyboard, mulai dari yang konvensional pada mesin ketik yang bunyi-nyaringnya begitu khas hingga papan ketik laptop, tablet, dan smartphone, telah mengubah kebiasaan manusia. Bila bekerja dengan laptop, pemakai masih bisa menggunakan 10 jari—asalkan semua jemarinya pintar menari-nari. Di ponsel, mungkin hanya jempol saja yang bisa meliuk-liuk.

Setiap hari, kita semakin jarang menulis dengan tangan. Beda dengan era pra-komputer, ketika setiap orang menulis dengan tangan untuk kebutuhan apapun. Dibandingkan populasi, hanya sedikit yang punya mesin ketik, itupun dipakai untuk keperluan tertentu: membuat surat resmi, menulis skripsi, atau menulis naskah untuk surat kabar. Selebihnya, orang menulis dengan tangan.

Kita pernah belajar menulis halus selama bertahun-tahun di sekolah dasar, lalu masih menulis tangan saat belajar di SMP, SMA, dan semakin jarang melakukannya ketika kuliah—menulis laporan praktikum memakai laptop, hadir di ruang kuliah hanya mencatat yang penting-penting saja, selebihnya tinggal meng-copy materi dari dosen, saat bekerja hanya sebagian kecil orang yang masih menulis tangan. Notulen rapatpun langsung dicatat dengan laptop.

Kemajuan teknologi memang memberi kemudahan, tapi di sisi lain ada sejumlah manfaat yang rupanya terbuang karena semakin jarang kita menulis dengan tangan. Kita bukan saja kehilangan tulisan tangan yang bagus-bagus (kakek buyut kita menulis sangat bagus, saya masih menyimpan sebagian catatan dan surat mereka). Kita kehilangan pula sejumlah manfaat.

Pertama, sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Early Childhood Education and Development menyebutkan bahwa murid-murid yang punya keterampilan motorik bagus, sebagai hasil latihan menulis tangan, menunjukkan prestasi membaca dan matematika yang lebih baik dibandingkan teman-temannya.

Kedua, kebiasaan menulis dengan tangan sangat baik untuk melatih ingatan dan kemampuan kognitif kita. Ketika kita sedang menulis, aktivitas ini akan beresonansi dengan lebih baik ke otak kita. Proses kognitif akan berlangsung lebih kuat sebab otak melakukan aktivitas seleksi terhadap informasi yang akan ditulis. Ini memungkinkan otak menyerap informasi secara lebih efisien. Apa yang ditulis akan melekat lebih lama dalam ingatan.

Ketiga, ada kesan yang lebih mendalam tatkala seseorang menerima pesan yang ditulis dengan tangan ketimbang dengan mesin tik atau dicetak dengan printer. Misalnya, ucapan selamat ulang tahun. Kesannya lebih istimewa, karena setiap orang punya karakter tulisan yang berbeda dan khas. Ada ikatan emosional, bahkan mungkin nostalgia, yang tetap melekat meskipun tulisan itu digoreskan bertahun-tahun yang lampau. Tulisan tangan seakan menghubungkan dengan seseorang yang barangkali sudah tidak hadir lagi dalam kehidupan kita.

Keempat, menulis dengan tangan melatih otak kita agar senantiasa fokus. Terutama pada anak-anak, keterampilan motorik halus yang dilatih melalui kegiatan menulis sehari-hari sangat bermanfaat untuk melatih kemampuan fokus anak. Anak tidak akan mudah beralih perhatian karena gangguan lain. Di masa remaja, dewasa, maupun lanjut usia, dampak positif dari kebiasaan menulis tangan masih akan terasa. Orang jadi lebih peka, serta tekun dan telaten dalam melakukan sesuatu.

Empat manfaat tadi mestinya sudah cukup untuk menggerakkan hati kita agar memulai kembali aktivitas menulis dengan tangan. Kita bisa memulainya dengan menulis catatan harian—kita bisa menulis, menggambar, menempelkan sesuatu, apa saja yang membuat seluruh jemari kita beraktivitas. Ayo, menulis kembali dengan tangan, jangan hanya jempol yang sibuk ketak-ketik! (Foto ilustrasi: Surat Presiden Soekarno kepada Panglima Soedirman) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.