Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Tekno  
Sains
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Kamis 27 Oktober 2016 15:03 WIB
Dibaca (6069)
Komentar (0)

Gravitasi, Antara al-Khazini dan Newton

indonesiana-Mizan_al-Hikmah_al-Khizani_Desain_timbangan.jpg

 

Nama Al-Khazini memang tidak semashur Ibn Sina atau setenar Umar Khayyam. Tapi, ilmuwan Muslim berdarah Yunani ini patut dikenang karena kajiannya mengenai topik yang agak spesifik, yakni hidrostatika dan gravitasi. Bernama lengkap Abu al-Fath Abd al-Rahman Mansour al-Khazini, ia mula-mula bekerja sebagai pegawai di lingkungan pejabat Dinasti Seljuk Turki. Majikannya, barangkali melihat potensi intelektual al-Khazini, membuka kesempatan baginya untuk memelajari filsafat dan matematika.

Salah satu karya tulisnya yang memperoleh apresiasi luas ialah kitab Mizan al-Hikmah, atau dalam terjemahan bahasa Inggrisnya, Balance of Wisdom. Ditulis oleh al-Khazini pada 1121 M/515 H, kitab ini mendiskusikan berbagai topik mekanika dan hidrostatik dalam 50 bab.Al-Khazini melakukan sejumlah eksperimen untuk memelajari kesetimbangan maupun berat benda dan menemukan sesuatu yang penting terkait gravitasi Bumi. Sebagian dari kitab Mizan al-Hikmah telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia oleh Khanikoff pada pertengahan abad ke-19.

Dari kajiannya mengenai udara, al-Khazini berpendapat bahwa udara memiliki kekuatan yang mampu mendorong sebagaimana aliran air. Massa suatu benda yang melayang di udara akan berkurang bila dibandingkan ketika berada di permukaan Bumi. Al-Khazini merancang suatu alat pengukur berat benda di udara dan di dalam air—para sarjana sejarah menyebutkan bahwa ada lima model yang didesain al-Khazini.

Menarik bahwa al-Khazini berpendapat: massa benda bergantung kepada suhu udara—gagasan yang mengilhami pembuatan barometer atau tekanan udara yang dikaitkan dengan  kepadatan udara. Ide ini mentautkan tekanan udara, suhu, dan massa. Gagasan al-Khazini mengenai topik ini menarik perhatian para sarjana mengingat kegagalan Yunani dalam memberi penjelasan yang jernih tentang perbedaan antara gaya, massa, dan berat. Juga, karena kesadaran al-Khazini mengenai bobot udara yang berkurang karena kepadatannya berkurang seiring kenaikan altitude (ketinggian dari permukaan laut).

Dari sini pula, al-Khazini mengembangkan gagasan mengenai gravitasi Bumi. Al-Khazini merintis pembahasan mengenai gravitasi yang kemudian berkembang di Eropa pada masa-masa sesudahnya. Boleh dikata, ia telah meletakkan fondasi yang berarti bagi pengembangan mekanika klasik sesudah Eropa hidup di Abad Kegelapan.

Sebagian hidup al-Khazini dihabiskan di kota Merv, Turkmenistan sekarang. Disebutkan oleh beberapa sumber, di kota ini al-Khazini bertemu dengan Umar Khayyam dan belajar dari penyair sekaligus matematikawan ini mengenai kesastraan, matematika, astronomi, maupun filsafat. Khayyam, dapat dikata, memengaruhi pikiran al-Khizani, sebagaimana juga Ibn al-Haytham dan al-Biruni memengaruhinya.

Sarjana Barat Robert Hall mengapresiasi teori dan prinsip keseimbangan hidrostatis al-Khazini yang telah mendorong penciptaan berbagai peralatan di Barat. “Al-Khizani salah seorang ilmuwan terbesar,” tulis Hall dalam A Dictionary of Scientific Biography, Vol VII, sebagaimana dikutip dalam The Oxford Encyclopedia of Philosophy, Science, and Technology in Islam. Sebagaimana ibn al-Haytham yang menarik kesimpulan ilmiah berdasarkan eksperimennya, al-Khazini melakukan hal serupa—kedua sarjana ini bergerak melampaui eksperimen pikiran menuju eksperimen lapangan. Al-Khazini membuat konstruksi jam-air 24 jam yang dirancang untuk keperluan kegiatan astronomi.

Al-Khazini mengembangkan minatnya dengan memelajari bobot spesifik logam, batu mulia, serta campuran logam. Dengan menggunakan prinsip yang ia kembangkan, al-Khazini berusaha menentukan tingkat kemurnian berbagai material dengan menimbang bobotnya di udara dan di dalam air. Dalam studinya, al-Khazini merujuk kepada para pendahulunya, khususnya al-Biruni dan al-Isfizari. Meski begitu, dalam mengembangkan peralatannya, al-Khazini memperbaiki alat yang dirancang kedua pendahulu itu untuk membuatnya lebih akurat.

Ada yang lebih menarik dari semua itu, yakni gagasan pentingnya mengenai gravitasi yang ia peroleh dari observasi. Al-Khazini menyatakan: “Untuk setiap benda yang diketahui beratnya dan diletakkan pada jarak tertentu dari pusat semesta, gravitasinya bergantung kepada jaraknya dari pusat semesta. Karena alasan ini, gravitasi benda-benda berhubungan dengan jarak mereka dari pusat semesta.”

Bandingkan dengan pemikiran Isaac Newton mengenai gravitasi, yang ia nyatakan enam abad setelah al-Khazini. (Gambar ilustrasi timbangandalam kitab Mizan al-Hikmah karya al-Khizani) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.