Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Ruangbaca  
Seni Budaya
indonesiana-Amri
Amri  Mahbub
Jurnalis | Filolog | Penyunting Cerita Pendek
Sabtu 15 Februari 2014 21:00 WIB
Dibaca (5635)
Komentar (0)

Cinema Paradiso

indonesiana-242099

Apa yang akan terjadi ketika sebuah ulat bulu hinggap pada sebuah ranting dan kemudian membungkus dirinya ke dalam satuan-satuan tempat lain bernama kepompong? Pastinya, jika selamat, ia akan menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang memiliki dua sayap indah, dan pandai ‘merayu’ sekuntum bunga.

Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana jika proses penjelmaan tersebut dialami pada sebuah kota kecil, atau bahkan sebuah desa, menjadi sebuah kota modern? Dalam Community and Society (1963; 226), Tönnies menulis,

“the town is the highest, viz., the most complex form of social life. Its local character in common with that of the village, contrast with the family character of the house; the village retains more, the town less. Only when the develops into the city are these characteristics almost entirely lost.

Dalam kutipan tersebut Tönnies hendak menjelaskan tentang desa dan kota kecil yang mengedepankan hasrat alamiah dan keeratan hubungan sosial (community). Sedangkan di sisi lain, kota modern—dengan segala pandangan modernismenya—selalu mengedepankan rasio (akal) dan hubungan sosial. Tapi, kota kecil (small town), tambah Tönnies, yang berakar dari tradisi, akan tiba masa mereka untuk menjelma, berorganisasi, dan tumbuh sebagai sebuah kota besar dan modern.

Saya meminjam terma tersebut untuk ‘menerjemahkan’ film berjudul Cinema Paradiso. Setidaknya bagi say, film ini merupakan sebuah manifestasi tentang proses penjelmaan seekor ulat menjadi kepompong dan pada akhirnya menjadi kupu-kupu. Proses perubahan kota kecil menjadi sebuah kota modern.

Cinema Paradiso sebenarnya menjadi sebuah nama gedung pertunjukan film pada sebuah kota kecil di daerah Giancaldo, Sisilia, Italia. Dan Giancaldo, merupakan sebuah kota kecil yang memakai keeratan hubungan sosial (community) dan memiliki hasrat alamiah dalam menjalankan kehidupannya.

Salvatore (tokoh utama dalam Cinema Paradiso) ialah seorang berkutat dengan dunia perfilman sejak umur tujuh tahun. Pada masa kecilnya tersebut, Salvatore yang biasa dipanggil Toto, telah banyak merekam bagaimana kuatnya kuasa Gereja dan Pastornya dalam proses penyensoran adegan-adegan mesum, seperti berciuman, pada film-film yang akan ditayangkan kepada warga Giancaldo.

Hal tersebut, menjelaskan satu fakta. Yakni, pada masa-masa awal film berkembang, khususnya Pasca-Perang Dunia I-II, “…Gereja dan Pastor dengan segala-segala embel-embel ketuhanan mereka, menampakkan kekuasaan dalam menabukan seksualitas” (Michel Foucault, Ingin Tahu; Sejarah Seksualitas, 2008; 41-45). Tapi, di sisi lain, beberapa frame menunjukkan bagaimana antusias para warga Giancaldo pada pertunjukan film yang ditayangkan di Cinema Paradiso.

Film dan gedung pertunjukkan, pada masa-masa awal pemunculannya, khususnya Pasca-Perang Dunia I-II, “mempunyai daya tarik tersendiri bagi warga yang hidup di kota-kota kecil seperti Giancaldo, dan sebagai tempat untuk berinteraksi satu sama lain dan memperbincangkan segala hal. Sekaligus memalingkan pandangan mereka dari tempat-tempat umum sebelumnya, seperti alun-alun kota dan gereja. Dengan kata lain, film dan gedung-gedung pertunjukkannya adalah salah satu faktor atau agen penjelmaan yang merubah kota-kota kecil menjadi kota modern.

Fenomena masuk dan berkembangnya film pada kota yang bernama Giancaldo tersebut nyatanya memang membawa perubahan secara signifikan pada rumah, uang, dan ruang publik (community)Konsep rumah sebagai ‘jantung hati keluarga’ adalah identitas masyarakat Amerika.

Hal tersebut sangat bersebrangan jauh dengan konsep rumah bagi masyarakat Eropa, khususnya yang hidup di desa dan kota-kota kecil. Masyarakat Eropa bagian ini mempunyai konsep rumah sebagai kampung halaman.

Pandangan masyarakat Eropa itu tergambar pada frame ketika Salvatore dewasa—yang telah pergi lama dari Giancaldo ke Roma sejak muda—pulang kembali ke rumah tempat ia dilahirkan dahulu. Sebuah rumah tua yang telah direnovasi dengan apik melalui uang kiriman Salvatore tiap bulannya.

Modernisasi, menurut seorang urbanis asal Amerika Nezar AlSayyad, ialah sesuatu yang menyebabkan masyarakat yang tinggal di desa ataupun di kota-kota kecil memutar otaknya untuk mendapatkan uang yang lebih banyak agar dapat memenuhi kebutuhan primer-sekunder-tersier. Dan Cinema Paradiso membuktikan itu.

AMRI MAHBUB




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.