Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Bisnis  
Analisa
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Jumat 04 November 2016 22:42 WIB
Dibaca (2909)
Komentar (0)

Relevansi Drucker

indonesiana-Drucker_Global_Forum_2016.jpg

 

Di tengah perubahan teknologi maupun sosial yang demikian cepat, masih relevankah pikiran-pikiran empu manajemen Peter Drucker? Apabila ya, mengapa tulisan-tulisannya masih terasa segar dan tetap dibicarakan hingga hari ini, bukan saja oleh para akademisi tapi juga praktisi manajemen—para pelaku bisnis. Pertanyaan ini mengemuka dalam Global Peter Drucker Forum ke-8, sebuah acara tahunan yang kali ini bertemakan The Entrepreneurial Society.

Suatu ketika Drucker ditanya oleh seorang pelaku bisnis, apakah ia memandang dirinya sebagai penulis sejarah atau pemikir manajemen. Tanpa banyak ragu, Drucker menjawab, “lebih sebagai penulis sejarah.” Tentu saja, kompetensi historis Drucker tak dapat ditafsirkan secara ‘mekanis’ layaknya sejarawan. Maknanya lebih kepada kemampuan Drucker dalam menyerap pengalaman historis manusia untuk menjelaskan tantangan masa kini dan masa depan.

Drucker diakui memiliki kemampuan membuat koneksi dan asosiasi mengenai perkembangan masa kini, lampau, dan mendatang—dan dengan memanfaatkan pemahamannya mengenai sejarah manusia, Drucker merumuskan pemikiran manajemennya. Drucker memanfaatkan masa lampau untuk membuka horison baru masa kini yang membantu kita memahami masa depan dengan lebih baik. Keunggulan inilah yang menjadikan pikiran-pikiran Drucker tetap relevan, walaupun di masa awal karirnya sebagai pengajar, gagasannya dianggap bukan hasil riset akademis yang ketat. Ia tidak dianggap sebagai ‘scholar’, melainkan ‘writer’.

Kenyataannya, jejak Drucker dalam wacana dan praktek manajemen sukar dihapus. Meskipun sudah mengajar 21 tahun di perguruan tinggi, gelar profesor untuk Drucker tak kunjung diberikan. Namanya, dalam waktu cukup lama, diabaikan. Pengabaian itu digambarkan oleh Tom Peters, penulis buku In Search of Excellence.

Tom menceritakan, selama ia belajar bisnis dan manajemen di perguruan tinggi, tak pernah karya Drucker dipelajari. Padahal, kata Peters, “Tidak ada manajemen sebelum Peter Drucker.” Druckerlah pencipta dan penemu manajemen modern. Ketika pada awal 1950an tidak seorang pun memiliki alat untuk mengelola organisasi yang kompleks, tutur Peters, Druckerlah orang pertama yang memberi kita buku pegangan untuk itu. Jim Collins, penulis buku Good to Great, mengakui sumbangan Drucker dan menyebutnya sebagai ‘pendiri ilmu manajemen yang utama’.

Pengakuan akademis atas keempuannya dalam manajemen akhirnya datang dari Claremont Graduate School, yang mengundangnya pada 1971 untuk menjadi guru besar dalam ilmu sosial dan manajemen di sekolah tersebut. Sejak itulah namanya kian diakui oleh dunia akademis. Para manajer terkemuka banyak menimba ilmu dari keempuan Drucker, salah satunya adalah Jack Welch, manajer legendaris yang dijuluki ‘manajer abad ini’.

Tak lama setelah ditunjuk menjadi chief executive officer (CEO) General Electric pada 1981, Jack Welch mengundang Drucker ke kantornya di New York. Mereka bercakap-cakap berjam-jam. Welch meminta nasihat Drucker, apa yang sebaiknya ia lakukan untuk membenahi GE yang ketika itu tengah merosot. Alih-alih memberikan jawaban, Drucker malah mengajukan dua pertanyaan kepada Welch. Pertanyaan itu: “Jika Anda tidak siap untuk terjun ke dalam suatu bisnis, akankah Anda memasukinya hari ini?” Yang kedua, “Dan jika jawabannya tidak, apa yang akan Anda lakukan?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa Welch pada gagasan transformatif besarnya yang pertama: bahwa setiap bisnis di bawah payung GE harus menjadi nomor 1 atau nomor 2 di kelasnya. Jika tidak, Welch akan memutuskan apakah bisnis itu dijual atau ditutup. Inilah strategi inti yang membantu Welch menjadikan kembali GE sebagai salah satu perusahaan Amerika paling berhasil dalam 25 tahun terakhir.

Bukanlah gaya Drucker untuk memberi jawaban yang jelas atas persoalan yang diajukan para CEO. Ia justru balik mengajukan pertanyaan yang mampu menyingkapkan persoalan yang lebih besar di balik pertanyaan para CEO. “Tugas saya,” kata Drucker suatu ketika, “ialah mengajukan pertanyaan. Pekerjaan Anda menyediakan jawabannya.”

Gaya Drucker itu membuat banyak eksekutif jengah, bahkan frustrasi, untuk sementara waktu. Mereka tak mau dihadapkan pada teka-teki dan menginginkan jawaban langsung. Namun setelah beberapa waktu, umumnya mereka mengakui kualitas pemikirannya dan wawasannya yang menakjubkan.

Michael Hammer, penulis buku laris Reengineering the Corporation, mengungkapkan kepada kawannya, bahwa ia membuka buku-buku tulisan Drucker yang pertama dengan perasaan gugup. “Saya takut akan mendapati bahwa puluhan tahun yang lalu ia telah menyebut-nyebut ide-ide mutakhir saya,” kata Hammer, “Dan ternyata memang begitu.”

Banyak manajer dan orang-orang yang membaca karyanya mengakui, sebagian kejeniusan Drucker terletak pada kemampuannya untuk menemukan pola-pola di antara disiplin-disiplin yang kelihatannya tidak berhubungan. Seorang kawannya pernah bertanya kepada Drucker, bagaimana ia sampai kepada begitu banyak wawasan yang orisinal. Drucker memicingkan matanya. “Saya belajar hanya melalui mendengarkan,” ujarnya, dengan jeda sejenak, “diri saya sendiri.”

Bukunya, The Practice of Management, yang terbit pada 1954, membedah perusahaan Amerika layaknya katak dibedah di laboratorium, dengan bab-bab yang berjudul seperti “What is a Business?” dan “Managing Growth.” Ia mengatakan, manajemen adalah perkara mendapatkan yang terbaik dari orang-orang. Ia menulis The Practice of Management sebab menurut Drucker saat itu tidak ada buku mengenai manajemen. “Saya sudah bekerja selama 10 tahun untuk konsultasi dan mengajar, dan tidak ada buku mengenai itu,” ujarnya. “Karena itu saya duduk dan menulisnya, sangat menyadari fakta bahwa saya sedang meletakkan fondasi sebuah disiplin.”

Drucker menyatakan, tujuan bisnis harus terletak di luar bisnis itu sendiri. Tujuan itu harus terletak pada masyarakat, karena perusahaan bisnis adalah sebuah lembaga masyarakat. Dialah orang pertama yang merumuskan bahwa hanya ada satu pengertian sah dari tujuan bisnis, yaitu menciptakan pelanggan. Pelangganlah yang menentukan apa bisnis itu. “Menghasilkan laba” atau “memaksimalkan kekayaan pemegang saham” adalah tujuan yang sempit dan kuno, kata Drucker.

Perhatiannya yang mengaitkan orang, manajemen, dan masyarakat sudah terlihat sejak buku pertamanya, The End of Economic Man (1939). Penekanan itulah yang muncul dalam semua tulisan Drucker. Fokusnya pada sisi kemanusiaan perusahaan, bahwa manusia memiliki nilai dan martabat, serta manajemen berperan untuk menyediakan lingkungan di mana manusia bisa berkembang secara intelektual maupun moralnya, diadopsi oleh Peter F. Drucker and Masatoshi Ito Graduate School of Management, yang berada di lingkungan Claremont Graduate University.

Di sekolah manajemen tersebut, pada musim semi 2007, sejumlah guru besar duduk bersama untuk merancang mata kuliah bersama mengenai Drucker. Setiap minggu, mata kuliah ini akan diajarkan oleh dosen yang berbeda. Setiap pengajar menunjukkan bagaimana karya Drucker sedang dikembangkan dalam bidang studinya sendiri.

Pengaruh Drucker terhadap pemikir manajemen lain sukar dibantah. Dalam buku Inside Drucker’s Brain, Jeffrey A. Krames, yang juga menulis The Welch Way, menyebutkan bahwa beberapa buku bisnis laris ternyata mengandung benih-benih yang ditanam Drucker bertahun-tahun sebelumnya. Di antaranya karya Clayton Christensen, The Innovator’s Dilemma, dan karya Richard Nolan dan Ram Charan, Creative Destruction.

Kontribusi besar pertama Peter Drucker adalah fokusnya pada manajemen sebagai disiplin tersendiri. Dialah yang mendefinisikan manajemen sebagai ilmu. Charles Handy, pemikir manajemen lainnya, menyebut bahwa Drucker menemukan banyak konsep yang sekarang menjadi bagian dari bahasa umum kita. “Drucker adalah orang yang pertama kali menggunakan konsep profit centre dan knowledge worker,” tulis Handy dalam esainya, Peter Drucker: An Appreciation.

Ia orang pertama yang berbicara mengenai ‘discontinuity’, sebuah gagasan bahwa masa depan akan berbeda sama sekali dengan sekarang. Ia yang mengusulkan agar pemerintah memprivatisasi banyak fungsi yang diembannya, jauh sebelum berbagai negara mempraktekkannya. Ia menemukan istilah ‘management by objectives’ dan menulis tentang ‘desentralisasi’ ketika kebanyakan organisasi masih berperilaku seolah-olah mereka perusahaan besar yang dijalankan oleh pemiliknya.

Salah satu tonggak perjalanan hidup Drucker adalah karyanya, The Concept of the Corporation. Buku ini mengisahkan bagaimana General Motors dikelola dan Drucker memuji GM dalam mengembangkan teknik-teknik manajemen, program, serta infrastruktur. Namun para eksekutif GM tidak menyukai saran Drucker agar mendesentralisasi kewenangan pengambilan keputusan supaya lebih berhasil lagi. Desentralisasi membuat orang mau bekerja dan belajar. Desentralisasi menciptakan kumpulan-kumpulan kecil yang memberi ruang bagi eksekutif muda untuk membuat kekeliruan tanpa mengancam masa depan perusahaan.

General Motors tidak menyukai buku itu dan melarang pemakaiannya di dalam perusahaan. Alfred Sloan, Chairman GM waktu itu, sedemikian marah dan mengatakan “anggap saja buku itu tidak ada” karena unsur kritik Drucker terhadap GM. Namun, orang Jepang membacanya dan belajar dari buku itu. Mereka mengambil manfaat besar. Baru pada pertengahan 1980an, perusahaan Amerika memahami pesan Drucker dan melakukan desentralisasi. Drucker belakangan mengatakan, “Orang adalah sumberdaya, bukan biaya. Orang Jepang menerima gagasan ini, dan kita tidak.”

Sepanjang kariernya dalam konsultasi manajemen, Drucker bekerja sama dengan banyak perusahaan besar, termasuk General Electric, Coca-Cola, Citicorp, IBM, dan Intel. Kendati ia berteman dengan banyak CEO, namun ia mengecam praktek pemberian gaji yang berlebihan untuk mereka. Dalam esainya yang terbit pada 1984, Drucker menulis bahwa kompensasi bagi CEO yang berlebihan secara moral dan sosial tidak dapat dimaafkan. “Kita harus membayar sangat banyak karena hal itu,” tulis Drucker, dan ‘ramalan’ Drucker terwujud dalam beberapa tahun terakhir krisis yang melanda perusahaan keuangan dan perusahaan besar lainnya, khususnya di AS.

Drucker wafat dalam usia 95 tahun. “Dunia mengetahui bahwa ia pemikir manajemen terbesar dalam abad terakhir ini,” ucap Jack Welch ketika mengetahui Drucker wafat. (sumber foto ilustrasi: druckerforum.org) **




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.