Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Metro  
Metro
indonesiana-tempoid-default
Dian Basuki 
Senin 07 November 2016 23:57 WIB
Dibaca (2060)
Komentar (0)

Kota sebagai Organisme

indonesiana-Bandung_Selatan_tempo.jpg

“Kotanya terlampau sibuk,” begitu kata seorang turis Belanda yang saya jumpai di kereta ekonomi jurusan Surabaya beberapa waktu lalu tatkala saya tanyakan padanya perihal kesannya tentang Bandung.. Ia, bersama dua saudarinya yang tengah menapaki usia senja, baru saja meninggalkan Bandung dan mengunjungi rumah yang pernah jadi tempat tinggal orang tua mereka.

Barangkali perempuan di usia senja itu ingin mengatakan bahwa ‘kota yang terlampau sibuk’ sebagai kota yang padat dan kurang teratur lalu lintasnya, kota yang pengendaranya bergegas seakan ingin tiba selekas-lekasnya ke tempat tujuan, kota yang menyulitkan pejalan kaki untuk menyeberang. Barangkali tidak senyaman Den Haag atau Delft yang membuat penghuninya atau siapapun yang sedang berada di kota itu merasa nyaman.

Sebuah kota, sesungguhnya, adalah potret diri kita—orang-orang yang tinggal dan hidup di dalamnya. Di sebuah kota, di mana dan bagaimana kita meletakkan pasar, menempatkan pertokoan, menaruh sekolah-sekolah, menyusun perkantoran, menebarkan permukiman, menyemaikan taman-taman, membentangkan jalan-jalan adalah cara kita mengatur diri sekaligus cerminan sikap kita para penghuninya.

Bagaimana kita menata arus lalu lintas, menyediakan tempat parkir, melapangkan atau menyempitkan trotoar bagi pejalan kaki, mengatur saluran air dan kali-kali dalam kota, mengolah sampah atau membiarkannya teronggok, menyalurkan air bersih ke dapur kita adalah wujud cara kita memperlakukan diri sendiri.

Sebuah kota, karena itu, adalah juga organisme yang hidup—mempunyai organ-organ dan pembuluh darah. Cara kita menata kota mencerminkan bagaimana kita ingin organ dan pembuluh darah itu bekerja: mengikhtiarkan arus darahnya mengalir lancar atau membiarkannya terhambat; tersumbat oleh lemak-lemak persoalan yang menumpuk dan tak segera diatasi; dan ketika pembuluh darah tersumbat, tekanan darah naik drastis. Kota pun mengalami stroke.

Ketika kita membolehkan developer menegakkan apartemen berpuluh lantai, kita tengah terbawa oleh ‘gaya hidup’ sekaligus mengakui kian sempitnya lahan bagi hunian yang manusiawai—horisontal, ruang lapang nan hijau, tumbuhan yang menyegarkan, tempat anak-anak bermain, hubungan bertetangga yang manusiawi. Apartemen ditegakkan seolah untuk memamerkan modernitas.

Namun, dengan menegakkan apartemen yang menjulang sesungguhnya kita tengah membenamkan diri ke dalam persoalan baru: air yang terkuras secara terkonsentrasi, polusi yang meningkat lantaran berjibunnya mobil para penghuninya, munculnya soal-soal sosial baru seiring adaptasi hidup berapartemen yang tak mudah.

Dengan menegakkan apartemen berarti kita tengah membangun sekat-sekat sosial yang baru, membangun budaya hidup bertetangga yang baru—di mana individualitas akan semakin ditonjolkan. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing dan tak punya waktu untuk mengetuk pintu tetangga yang tinggal di ‘rumah’ (yang sesungguhnya kamar) depan.

Jalan-jalan di kota yang tak bertambah panjang maupun lebar tak mampu lagi menampung mobil dan motor yang tumbuh jauh lebih cepat. Semakin nyaring dan bersahutan bunyi klakson di pagi dan petang hari ketika orang berangkat dan pulang kerja: “Jangan bengong saja! Ayo jalan! Minggirlah! Beri saya jalan!” Para pejabat membawa vorijder yang terus-menerus membunyikan sirine dan klakson agar para warga memberi jalan.

Kemacetan adalah bukti ketidaksabaran kita dalam mengantri di tengah kepadatan lalu lintas. Kita memacu motor dan mobil seperti orang-orang yang cemas bakal kehilangan satu detik, sebegitukah—sementara kita membiarkan ratusan menit hilang untuk bergosip, mematut-matut diri, minum kopi bareng-bareng sebelum bekerja, dsb?

Kota yang kehilangan pohon adalah cerminan kita yang kurang peduli pada paru-paru sendiri dan membiarkannya terisi dengan polutan, pada hilangnya air tanah dan mengundang banjir, pada rapuhnya tanah dan membiarkan dinding kita retak. Kita memerlakukan sungai seolah bukan cabang pembuluh darah kota, dan kita menjerit ketika air melimpah ruah melewati tanggul dan menggenangi jalan-jalan membangun sungai-sungai baru. Kita sering lupa, air selalu tahu kemana harus mencari jalan.

Kota adalah potret diri kita yang kisruh menghadapi perubahan zaman, gagap menemukan siasat, bukan cerminan luasnya visi dan mimpi kita, para penghuninya. (Foto: tempo.co) ***




Berikan Nilai
TOTAL NILAI :

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.