Have an account? Register Now!

Forgot your password?

Forgot your username?

Home Travel  
Travel Budaya
indonesiana-tempoid-default
Danu Ade Setiawan 
Sabtu 12 November 2016 11:54 WIB
Dibaca (2860)
Komentar (0)

Sahabat Masa Kecil di Museum Wayang

indonesiana-P1010172.JPG

 

“Wow, ada Unyil!” teriak seorang gadis berjilbab dengan senyum sumringah di wajahnya. Tidak butuh waktu lama, Dina Wulandari, nama gadis tersebut, bergaya di depan almari yang memajang koleksi set boneka Unyil. Senyum Dina tersungging lebar. Jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V. Seorang sahabatnya, Widya Putri dengan cekatan mengabadikan momen tersebut menggunakan ponsel pintar.

aaaaDina sedang berpose di depan pajangan set boneka unyil, Museum Wayang Jakarta, Minggu 06 November 2016. Foto : Danu Setiawan / Tempo Institute.

Setelah Dina yang berpose, kini giliran Widya yang meminta sahabatnya mengambil gambarnya. Kedua mahasiswi Universitas Tanjung Pura tersebut berbincang sembari tertawa-tawa. Mereka berbincang soal kenangan masa kecil tentang boneka si Unyil. “Saya suka museum ini, karena ada Unyil,” kata Widya sambil tersenyum lebar, Minggu Siang, 06 November 2016.

Dina dan Widya, menghabiskan waktu beberapa saat di depan panjangan set boneka Unyil. Dia mengatakan, melihat set boneka tersebut dapat membawa mereka kembali ke masa kanak-kanak. Si Unyil adalah serial televisi yang sangat populer pada era 80an dan 90an di TVRI. Serial ini sempat ditayangkan kembali di beberapa stasiun televisi swasta nasional pada era awal tahun 2000an. “Di Kalimantan tidak ada wayang-wayang seperti ini” kata Dina, mahasiswa semester 7 jurusan Matematika.

Dia mengatakan tak banyak pilihan hiburan di Pontianak, Kalimantan Barat. Apalagi, pilihan stasiun televisi. Karena itulah, kata Dina, mau tidak mau mereka menonton si Unyil sebagai satu-satunya hiburan. Menurut Dina dan Widya, karakter unyil sangat menonjol dan membekas dalam memori mereka. Bagi mereka, unyil dan kawan-kawannya seperti sahabat yang menemani mereka di saat-saat senggang semasa kecil.

Dina bercerita kalau kali itu adalah kunjungan keduanya di Museum Wayang. Lain halnya dengan Dina, Widya, mahasiswa semester 5 jurusan Statistik, baru pertama kali berkunjung ke Museum Wayang. Museum ini didirikan pada tahun 1975 dan diresmikan secara langsung oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta pada masa itu.

Museum ini memamerkan kurang lebih 5000 koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan beberapa koleksinya merupakan wayang dari negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, China dan India. Di antara koleksi tersebut, set boneka unyil menjadi salah satu favorit pengunjung museum karena secara tidak langsung masyarakat Indonesia memiliki keterkaitan emosional dengan karakter unyil.

Ketika ditanya lebih soal Museum Wayang, baik Dina maupun Widya menyampaikan bahwa mereka sudah cukup puas dengan museum ini. “Koleksinya lengkap, Mas,” kata Widya. Menurutnya, koleksi Museum Wayang disajikan dengan baik dengan penjelasan-penjelasan singkat yang cukup informatif. “Tiket masuknya murah pula,” ujar Dina sambil terkekeh.

Museum Wayang Jakarta saat ini menyimpan set asli boneka unyil yang dulu ditayangkan di TVRI. Berfoto bersama boneka-boneka tersebut memberikan kebanggaan tersendiri bagi Dina dan Widya.

bbbbBeberapa pengunjung Museum Wayang sedang swafoto bersama koleksi boneka unyil, Minggu 06 November 2016. Karakter unyil membekas untuk semua kalangan dan berbagai rentang usia. Foto : Danu Setiawan / Tempo Institute.

Tak hanya Dina dan Widya, hampir seluruh pengunjung baik anak-anak, remaja bahkan orang tua selalu menyempatkan berhenti di depan pajangan boneka unyil untuk sekedar berfoto atau melihat dengan seksama salah satu koleksi Museum Wayang tersebut.




Berikan Nilai
TOTAL NILAI : 4

Disclaimer

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya. Isi posting tidak selalu sejalan dengan sikap dan kebijakan kelompok usaha PT Tempo Inti Media Tbk.